Brokeback Mountain
www.socineer.com


Dua minggu sebelum penyerahan penghargaan Academy Award 2006, pada waktu dinner, saya diajak istri untuk menonton film Brokeback Mountain. Saya tidak begitu mengikuti perkembangan film baru yang sedang ditayangkan di bioskop, jadi saya tanya, itu film jenis apa? "Film tentang cowboy gay", jawabnya. Oh, jadi film Western. Okay, saya sudah lama tidak menonton film Western, karena saat ini sudah jarang sekali diproduksi. Saya menanggapi ajakannya dengan antusias. Istri saya tertarik pada film itu karena banyaknya komentar yang mendukung film itu di koran. Biasanya sih dia tidak suka menonton film jenis Western. Selain itu, ada issue juga bahwa film itu mendapat dukungan besar dalam dominasi Academy Award yang akan dilangsungkan 2 minggu dari waktu itu.

Theatre tempat pertunjukkan terisi cukup banyak, kira-kira ada 20% bangku terisi. Itu cukup banyak. Kecuali film-film super populer seperti Spiderman, jumlah penonton selalu tidak banyak di bioskop tersebut. Faktor ini membuat menonton lebih enak, karena suasana terasa lebih lenggang. Kami menempati kursi di barisan belakang.

Film itu dimulai dengan adegan dua cowboy mencari kerjaan untuk menggiring ternak. Cool, demikian pikir saya, ini benar-benar film Western. Lima menit kemudian, saya berubah pikiran. Sesudah menonton seluruh film, saya berpendapat bahwa itu salah satu film yang terburuk yang pernah saya tonton. Istri saya juga berpendapat kira-kira sama.

Jangan salah, saya tidak ada masalah dengan gay maupun film gay. Selama minggu selanjutnya, kami banyak membicarakan film itu. Baru kali ini, pendapat saya tentang sebuah film berbeda kontrast dengan umumnya para kritikus film. Bahkan saya suka film The Hours yang membosankan banyak orang tetapi memenangkan Academy Award. Saya akan jelaskan tentang penilaian saya disini. Dan saya tahu pendapat saya hanya pendapat minor, karena saya lihat banyak sekali penulis dan kritikus yang menyanjung film itu setinggi langit.

Waktu saya menonton film tersebut, saya jadi curiga bahwa film itu produksi para mahasiswa cinematografi yang baru belajar bikin film. Dua cowboy itu ditugaskan untuk menggiring ternak domba ke suatu tempat. Mereka menggunakan latar belakang pemandangan Alberta di Canada. Dan kita tahu, dan juga bisa dilihat dalam film itu bahwa bentuk contour Alberta itu berbukit-bukit. Menggiring ternak melewati daerah seperti itu bukan pekerjaan mudah. Tetapi lihat kedua cowboy itu, sepertinya pergi piknik. Mereka menghabiskan banyak waktu kamping di tempat yang jauh dari ternak mereka, dan ternak dibiarkan begitu saja! Dan adegan menggiring ternak terlihat menggunakan latar belakang yang sama, alias mereka tidak pindah tempat! Untuk film Western di padang rumput datar, mungkin ini tidak kentara. Tetapi untuk daerah bergunung dengan pemandangan picturesque kondisi jadi kentara sekali. Terlihat sekali bahwa domba-domba itu dishoot dalam satu waktu, lalu diselip-selipkan di antara adegan untuk membangunkan bayangan bahwa mereka menggiring ternak.

Suatu ketika mereka pergi berburu. Pada waktu salah satu dari cowboy menembak elk, kenapa saya tidak bisa melepas dari bayangan orang yang sedang menembak balloon di pasar malam? Sesudah menembak, elk terkapar, dan temannya berteriak persis seperti orang berhasil menembak balloon dan mendapatkan hadiah boneka di pasar malam. Aduh, itu bukan gaya para cowboy. Gay ataupun bukan, hidup cowboy itu keras, dan itu sama sekali tidak dipertunjukkan dalam film tersebut. Ini sama seperti membuat film tentang penerbang pesawat pemburu dalam perang, tetapi aktingnya seperti anak-anak bermain video-games dengan joystick.

Yang lebih mengagetkan, pada adegan-adegan selanjutnya, terlihat bahwa potongan-potongan daging elk itu sudah diiris kecil-kecil sebagai jerky dan digantung dengan rapi. Aduh.. Ini kamping atau sedang menggiring ternak? Bahkan orang kamping tidak melakukan hal itu. Lengkap sekali persiapan mereka, sampai membuat tempat untuk menjemur daging. Mereka berdua, bisa menyembelih elk, mengiris daging dengan rapi, sembari menjaga kawanan domba dari srigala, sambil harus bekerja keras menggiring ternak. Luar biasa!. Adegan itu di cerita-cerita western lain hanya dilakukan di perkampungan orang Indian (Native American), karena memang itu adalah pekerjaan domestik. Para pemburu, jika tidak keburu membawa hasil buruan pulang secara cepat, akan menyembelih hewan buruan ditempat, dan diasapkan sehingga bisa dibawa tanpa membuatnya busuk. Tetapi bukan diiris tipis-tipis dan digantung untuk dikeringkan! Mengiris, mengolah, dan mengeringkan daging itu adalah proses yang lama, bukan sesuatu yang dikerjakan sambil lalu dalam perjalanan. Dan irisan daging yang dikeringkan semacam itu bukannya mengundang para pemangsa domba yang seharusnya dihindari? Kenapa sekalian para cowboy itu tidak membawa peralatan vacuum packaging saja sehingga langsung bisa dipak rapi seperti produksi pabrik?

Jarang sekali saya dan istri saya ngobrol terus sepanjang pertunjukan. Untung kami duduk di bagian belakang, jadi tidak mengganggu orang lain. Tetapi kami tidak bisa menghindar dari membicarakan semua keanehan di film tersebut. Termasuk soal salju. Mereka mendapat hujan salju deras, di daerah tinggi, dimana suhu dingin. Salju tebal itu tidak bisa hilang begitu saja dalam waktu satu dua malam di alam seperti itu, seperti yang terlihat di dalam film tersebut.

Film itu disetting dalam jangka waktu yang panjang, dari masa kedua cowboy itu masih muda, sampai ketika keturunan mereka beranjak dewasa dan menikah. Bagaimana cara membuat mereka terlihat tua? Aha, mereka mencoba membuat wajah lebih tua dengan kumis dan jenggot. Tetapi herannya, sesudah kemudian dia mencukur kumis dan jenggot, dia kembali lagi muda seperti sedia kala waktu puluhan tahun silam. Dan dalam jangka waktu yang panjang itu, sudah tentu situasi berubah, termasuk jam tangan, produk-produk yang terpajang di toko, dsb. Mudah sekali untuk mendapatkan barang yang memperlihatkan ciri anachronism, atau kesalahan kronologis. Penggambaran pakaian orang Texas dan cara hidup mereka sebegitu kentara sehingga mirip karikatur. Kalau itu dilakukan dalam film seperti Dick Tracy sih masih bisa dipahami. Untuk film-film murahan, saya bisa mengerti. Tetapi ini bukan film murahan, dan ini film yang dibuat oleh director kenamaan, Ang Lee. Seusai menonton film itu, saya menyatakan kecurigaan saya bahwa itu tidak disutradarai secara langsung oleh Ang Lee. Apakah mungkin kalau Ang Lee tidak selalu turun tangan langsung, tetapi hanya sekali sekali mensupervise film itu? Sesudah pengumuman Academy Award, rasanya tidak mungkin. Ang Lee menjadi Director Terbaik.

Lalu kenapa film itu begitu disukai? Kalau saya bisa lihat, ada dua faktor: (1) thema film, yaitu gay; dan (2) pemandangan yang indah di Alberta. Mereka yang tinggal di US jarang bisa melihat pemandangan seperti ini, dan pemandangan ini akan mencekam mereka terlebih dulu sehingga mereka tidak melihat kejanggalan-kejanggalan dalam film tersebut. Dan karena saya sudah setiap hari juga melihat gunung-gunung hijau dengan puncak bersalju, pemandangan alam disana terlihat biasa, dan bukan sesuatu yang menarik. Dalam hal ini, menurut saya, alam Alberta yang seharusnya mendapatkan penghargaan, bukan film tersebut. Dan jika alam Alberta saja sudah bisa begitu mencekam penonton sehingga membuatnya memenangkan Academy Award, apa yang akan terjadi kalau film itu dishoot ditengah keindahan alam Bristish-Columbia yang melebihi Shangri-La? Okay, saya tahu ada yang nyengir masam disana. Sorry, can't help it. :)

Faktor gay. Ini saya curiga, moga-moga saja kecurigaan tidak tepat. Saya curiga mereka yang mendukung dan mengangkat jempol tinggi untuk film ini, bukan disebabkan oleh penilaian artistik, tetapi ideologis. Saya sama sekali tidak ada masalah dengan issue gay, yang menurut saya adalah hak setiap orang untuk hidup menurut preferensinya. Tetapi saya berpendapat, penilaian terhadap karya artistik harusnya dipisahkan dengan setuju atau tidaknya pada thema karya yang bersangkutan. Jika film itu memang bagus, maka kelompok konservatif juga harusnya memberikan pujian, walaupun tidak setuju dengan thema film yang bersangkutan. Demikian juga sebaliknya.

Dari segi apa yang akan disampaikan oleh film itu, saya setuju dan melihat segi positif dari film itu. Film itu menunjukkan bahwa pasangan gay pun bisa saling mencinta secara mendalam seperti pasangan heteroseksual. Dengan demikian film itu bisa membuat seseorang melihat dari sudut pandang seorang gay. Sayang, dari segi cinematografi, saya berpendapat, itu salah satu film terburuk yang saya tonton. Tetapi jika ditinjau dari segi jumlah penghargaan Academy Award yang dimenangkan (ada tiga, termasuk penghargaan Sutradara Terbaik), maka seharusnya para pembaca tidak perlu menghiraukan kritik saya diatas untuk menontonnya. Kemungkinan besar saya yang miss the point. Mungkin film itu harus dinilai dari effek perasaan yang bisa lahir dari menontonnya. Sayang saya tidak merasakan apa-apa, baik terharu maupun tersinggung, yang saya rasakan cuma bahwa kedua cowboy itu benar-benar hobby kamping.



Last Revised:Mar 12, 2006
Copyright © 2006 socineer.com
Lihat: Salin Ulang & Redistribusi