Capote
www.socineer.com


Philip Seymour Hoffman mendapatkan penghargaan Academy Award 2006 sebagai Aktor Terbaik untuk peranannya sebagai Truman Capote dalam film Capote (dilafalkan KA-PO-TI). Penghargaan ini cukup luar biasa. Hoffman bukan pemain yang terlahir dengan tampang dan watak yang kharismatik seperti Anthony Hopkins, Russell Cowe, atau Al Pacino. Dia punya tampang spurious, suara kecil dengan sedikit bunyi nasal, dan karena itu sering mendapatkan peran dalam sebagai tokoh opportunis yang tidak begitu disukai. Tetapi dalam film Capote ini kita melihat Hoffman jestru menggunakan karakternya dalam memberikan gambaran tokoh Capote secara luar biasa. Sesudah menyaksikan peranan film tersebut, saya beranggapan Hoffman sangat cocok mendapatkan piala Oscar. Seingat saya, Hoffman juga pernah mendapatkan peran utama dalam karakter dengan profesi penulis selain peran dalam film Capote ini, yaitu di film State and Main, dimana dia berperan sebagai penulis yang skenario yang sedang shooting di sebuah kota kecil di Amerika. Film itu bagus dan Hoffman memainkan peranannya dengan apik, tetapi mungkin karena judul film, atau ceritanya, film itu tidak populer. Memang terlihat dia bagus memainkan peranan sebagai intelektual pemalu, atau malah sebaliknya, tokoh antagonis.

Saya pergi menonton film Capote setelah mengetahui Hoffman mendapatkan penghargaan Academy Award disana. Saya sama sekali belum membaca review atau berita lain tentang film itu sebelumnya, dan termasuk tidak melihat poster film itu sebelumnya. Jadi kali ini benar-benar masuk ke bioskop tanpa mengetahui apa yang akan dipertunjukkan, kecuali bahwa Hoffman mendapat penghargaan. Tidak terpikir bahwa film itu adalah film tentang Truman Capote, teman dekat Harper Lee. Setiap lulusan sekolah menengah di Amerika dan Canada pasti mengenal siapa itu Harper Lee, kecuali jika siswa tidak pernah membaca buku yang diwajibkan dan nyontek melulu dalam mengerjakan tugas. Harper Lee dalam film itu diperankan oleh Catherine Keener. Capote sendiri setelah puluhan tahun, kalah populer dari Harper Lee, padahal dia dulu lebih tersohor dari Lee. Tidak mengherankan sewaktu saya membaca judul film, saya pikir itu film mafia, karena nama yang berciri Italia dan punya kedekatan dengan tokoh utama mafia, yaitu Al-Capone.

Film ini menceritakan kisah Truman Capote, seorang penulis Amerika, pada saat dia memulai menulis novelnya yang membuatnya terkenal yaitu In Cold Blood. Capote adalah seorang gay, dan dia dengan terbuka mengakuinya. Pada era tahun 50-an, pengakuan semacam ini membutuhkan keberanian, karena penerimaan masyarakat terhadap gay masih minim. Capote lahir di Lousiana dan tinggal di Alabama pada waktu kecil. Alabama pada waktu itu merupakan salah satu negara bagian Amerika yang masih kental ciri red-neck-nya, dengan sistem segragasi secara rasial yang membedakan warga kulit putih dan kulit berwarna. Disana dia berteman dengan Harper Lee. Harper Lee kemudian menuliskan novel To Kill A Mocking Bird yang membuatnya terkenal. Novel itu difilmkan dan mendapatkan Academy Award. Lee disana mengisahkan perjuangan seorang pengacara, Atticus, yang membela seorang warga berkulit hitam terhadap tuduhan semena-mena memperkosa seorang wanita berkulit putih. Atticus memperlihatkan prinsip dirinya sebagai seseorang yang menjunjung tinggi kesetaraan manusia, dan menolak prasangka rasial yang masih kental di Alabama pada waktu itu. Novel ini kemudian dipergunakan secara luas sebagai bacaan wajib untuk siswa sekolah menengah di Amerika dan Canada1, sehingga turut membentuk sikap warga di Amerika Utara untuk menolak prasangka rasial dan menjunjung tinggi kesetaraan antar manusia. Tidak diragukan tulisan tersebut turut membentuk opini publik pada waktu perjuangan penghapusan kebijakan segragasi rasial. Capote turut membantu memberikan inspirasi untuk novel Harper Lee ini.

Dengan demikian kita bisa mendapatkan gambaran tentang Truman Capote dan Harper Lee. Mereka adalah pribadi berjiwa liberal yang memperjuangkan kebebasan dan kesetaraan manusia. Capote diberitakan mempunyai tingkat kecerdasan yang tinggi sekali, masuk dalam kategori genius. Dia mulai menulis dan menjadi terkenal. Salah satunya adalah novella Breakfast at Tiffany yang lebih dikenal lewat film yang diperankan oleh Audrey Hepburn. Dia juga menulis untuk majalah The New Yorker. Capote menikmati pesta-pesta, dan dalam setiap pesta dia menjadi pusat perhatian karena kemahirannya dalam bercerita. Dia terlihat menyukai kepopularannya.

Pada tahun 1959, polisi menemukan pembunuhan secara sadis pada sebuah rumah. Seluruh keluarga Clutter tewas terbunuh. Capote merasa tertarik dengan kasus ini, dan bersama dengan Harper Lee dia berangkat ke Kansas untuk menyelidiki dan mengikuti kasus ini dari dekat. Disinilah dimulai cerita dalam film Capote. Masyarakat kota kecil di Kansas bukanlah masyarakat canggih seperti di New York, dimana mereka memandang Capote dengan sikap merendah karena Capote seorang gay. Capote tidak bisa menyembunyikan hal itu, karena itu tercermin dari suara dan tingkah lakunya. Secara alamiah, dia memang gay. Hoffman mendapat pujian karena perannya yang memperlihatkan kepribadian Capote yang unik tersebut tanpa perlu bercerita banyak tentang gay.

Dua pembunuh keluarga Clutter tertangkap, dan hukuman mati dijatuhkan atas mereka. Capote mengikuti mereka untuk mendapatkan ceritanya. Dia juga mengusahakan pengacara yang baik melakukan pemohonan banding. Selain bersimpati pada kedua tertakwa itu, dia juga memerlukan mereka untuk menyelesaikan bukunya. Jika mereka dieksekusi dengan cepat, maka tidak ada lagi informasi yang bisa ditarik. Salah satu dari terdakwa, Perry, mengijikan Capote membaca buku diari pribadinya, dan membantu Capote mengerti dirinya. Dengan demikian Capote bisa menggambarkan Terry sebagai manusia, daripada anggapan umum sebagai monster. Tulisan Capote dalam buku Capote yang mulai disiarkan untuk umum membantu para terdakwa mendapat simpati masyarakat. Perry menyerahkan kepercayaan sepenuhnya pada Capote untuk membantu dirinya terlepas dari hukuman mati, dan untuk itu dia menyerahkan semua rahasia dan informasi tentang dirinya sebagai bahan tulisan Capote. Capote menggunakannya untuk membuat genre buku baru yang dia namakan novel non-fiksi.

Capote memang bersimpati pada Perry, dan dia memberi harapan padanya, dan membantunya sehingga hukuman mati bisa ditunda sekian lama. Tetapi disamping itu, tekanan dari berbagai pihak yang menantikan penerbitan bukunya juga membuatnya tertekan. Dia tahu, jika kedua terdakwa itu bebas dari hukuman mati, maka bukunya tidak lagi relavan. Buku itu akan dibaca oleh banyak orang jika tokoh dalam bukunya mati digantung. Sikap ragu-ragu dan ambivalen membuatnya tidak serius untuk mengusahakan pembebasan para terdakwa setelah informasi yang diperlukan sudah cukup untuk menyelesaikan novel. Sebagai akibatnya, para terdakwa mendapat hukuman gantung.

Konflik yang ada dalam diri Capote membuatnya merasa bersalah karena tidak serius membantu para terdakwa. Menurut Harper Lee, dia bukan tidak serius, tetapi tidak mau. Sesudah buku ini, Capote tidak lagi banyak menulis, dan tidak lagi menghasilkan karya besar lain padahal dia masih cukup muda. Dia hidup menyendiri, sangat berlainan waktu sebelum kasus pembunuhan keluarga Clutter diatas, dimana dia suka menjadi fokus perhatian dalam pesta-pesta. Dia menjadi pencandu alkohol dan menyalah-gunakan obat, dan hidup tertekan terus menerus sampai dia meninggal di tahun 1984, dalam usia yang masih muda, 59 tahun.

Kelihatannya inilah permasalahan utama dengan seseorang yang mempunyai suara nurani yang kuat. Pada saat dia melanggar suara nurani tersebut untuk kepentingan sendiri, dia membunuh dirinya sendiri. Dia tidak bisa lagi hidup nyaman dengan pengetahuan dia mengkhianati panggilan nurani.



  1. Pada tahun 2002, Nova Scotia, sebuah propinsi sisi Atlantik Canada, melarang buku itu digunakan sebagai bacaan wajib sekolah dengan alasan bahwa buku itu "merendahkan" warga berkulit hitam. Pasalnya adalah karena Atticus sang pahlawan dalam novel itu berkulit putih. Keputusan ini ditentang luas oleh para guru, dan oleh mereka yang merasa mendapat pencerahan oleh buku tersebut. Menurut saya, keputusan Nova Scotia itu sangat tidak beralasan, dan mengingkari kenyataan bahwa pada tahun 50-an di Alabama, tidak banyak warga berkulit hitam yang berpendidikan tinggi. Kisah dalam novel itu sesuai dengan kondisi disana, dan inti kisah itu ada pada perjuangan untuk keadilan dan kesetaraan antar manusia, terlepas siapa yang berjuang.


Last Revised:Mar 17, 2006
Copyright © 2006 socineer.com
Lihat: Salin Ulang & Redistribusi