Bagian 1
Ngopi
www.socineer.com


Kalau Anda ada di Seattle pagi hari, Anda kemungkinan akan melihat sibuknya mereka sedang dalam perjalanan berangkat ke kantor atau tempat bekerja lainnya. Ada satu pemandangan yang khas, yaitu sebagian orang-orang di jalan berjalan sambil memegang gelas kopi kertas atau plastik. Beberapa puluh tahun belakangan, budaya ngopi melanda kota-kota di Pasific Northwest, dari San Francisco, Portland, Seattle, sampai ke Vancouver. Dari sana menjalar ke seluruh Amerika Utara. Kalau dulu orang Amerika membayangkan minum, ya minum Coca-cola. Itu semua sudah menjadi bagian dari sejarah, Coca-cola sudah dianggap bukan minuman sehat, membuat perut buncit, dan mulai ditinggalkan. Di Vancouver, budaya minum teh yang dibawa oleh pemukim Inggris jaman dulu sudah hampir punah, diganti dengan budaya ngopi. Tea-house saat ini sudah menjadi komoditas untuk turis, sedangkan kedai kopi ala Starbuck, Seattle Best, atau Tim Horton ada di mana-mana. Di Seattle, budaya ngopi membantu mengembangkan satu merek kedai kopi yang terkenal seantero dunia, yaitu Starbuck, yang lahir dari salah satu kedai kopi di kota tersebut.

Ketika banyak orang memulai kebiasaan yang mirip, seperti minum kopi Starbuck setiap pagi, maka itupun menjadi elemen baru dari budaya. Kopi menjadi bagian dari budaya kontemporer disini. Budaya ini berbeda dengan kopi dalam budaya tradisional, seperti yang dikenal di Italy. Ada yang bertanya, kenapa Starbuck lahir di Seattle, bukan salah satu kota di Italy, karena toh Italy adalah negara pengopi utama. Dikabarkan, Starbuck itu lahir ketika pencetusnya mengalami budaya ngopi di Italy dan merasa itu cool, dan membuatnya di Seattle. Jawabnya mungkin bermacam-macam, dari masalah kebetulan, sampai ke kehebatan pemasaran Amerika. Alasan terakhir ini sebenarnya kurang beralasan, karena Italy itu juga berhasil membuat merek-merek internasional terutama dalam bidang fashion. Saya melihat, budaya kopi sebagai minuman kontemporer itu sukar untuk muncul di Italy, jestru karena tradisi ngopi di Italy itu sudah terlalu kental. Tradisi yang kuat dan mengakar itu sukar dibentuk ulang, dan kaku. Orang di Amerika tidak ada masalah dengan bereksperimen dengan aroma-aroma baru. Tetapi di Italy, coba membuat kopi yang berbeda sedikit dari jenis-jenis kopi tradisional, akan dicibirkan oleh para pengopi.

Elemen budaya baru sukar untuk lahir di tempat dimana budaya tradisional sejenis mengakar. Jangankan di Italy, di Indonesia saja banyak para pengopi hardcore. Mereka yang merasa kalau kopi dicampur dengan macam-macam aroma lain akan merusak aroma kopi asli. Campuran lain dirasakan sebagai polusi bagi kopi. Bagi pengopi kelas berat tersebut, kopi yang paling enak adalah kopi hitam pekat tanpa campuran apa-apa kecuali mungkin sedikit gula. Orang-orang seperti ini merupakan konsumen kopi yang baik, tetapi sukar diharapkan sebagai basis konsumen untuk produk kopi kreasi baru. Mereka terlalu mengakar dan kaku untuk berubah. Salah satu ciri khas pengopi tradisional adalah, umumnya jatuh cinta pada minuman kopi asal tempat lahir atau tempat tinggal mereka. Seperti orang di Italy mengatakan kopi Italy paling enak, orang Perancis bilang mana ada yang lebih bagus daripada kopi Malongo? Walaupun sebenarnya kalau sudah mengadu jenis kopi seharusnya Indonesia memenangkan kompetisi. Tanya saja, mana ada kopi yang lebih mahal dari kopi luwak asli? Itu kalau harga punya korelasi yang jelas dengan rasa.

Kopi adalah unsur hidup yang penting sekali di Italy, banyak sekali tradisi dan cerita yang ada pada minuman ini. Ambil Cappuccino misalnya. Cappuccino itu dibuat pertama kali dari ratusan tahun lalu dari biara Fransiscan Kapusin. Di Indonesia, ordo ini dikenal sebagai Saudara-Saudara Dina Kapusin, disingkat OFM Cap. Kalau Anda bertemu dengan romo katolik yang menggunakan jubah warna coklat tua, dengan tutup kepala (hood) tergantung pada leher jubah, dan tali putih mengikat jubah dipinggang dengan tiga simpul, maka kemungkinan besar Anda bertemu dengan seorang romo Kapusin (capuchin), yang misalnya berkarya di Bogor, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, atau Tebet Jakarta. Nama kapusin itu berasal dari tutup kepala yang dinamakan kapus (capuche), dalam bahasa Italy itu cappuccio. Seorang biarawan kapusin dulu meramu kopi peninggalan tentara Turki Ottoman dengan susu dan madu, dan menjadi kesukaan biarawan disana, karena itu ramuan kopi itu dinamakan cappuccino.

Di Italy, cappuccino katanya hanya diminum pada pagi hari. Di buku karangan John Grisham terbaru, The Broker, dia menceritakan seorang broker yang harus menyembunyikan diri hidup di kota Bologna, Italy. Disana dia harus mempelajari bahasa dan budaya lokal sehingga samarannya tidak dicurigai. Salah satu anjuran instrukturnya adalah, jangan minum cappuccino pada waktu lain selain pagi hari, karena itulah yang dilakukan oleh orang lokal. Dan bagi mereka, cappuccino itu bukan kopi yang sebenarnya. Itu bagian dari sarapan, dan banyak tempat tidak menyediakannya. Itu cuma salah satu dari kebiasaan eksentrik minum kopi, belum yang lain. Orang lokal yang memegang erat tradisi budaya, tidak akan bisa mampu melahirkan cara baru minum kopi kontemporer, karena pasti akan ditentang keras dan ditertawakan.

Bersambung ke Bagian 2



Last Revised:Feb 07, 2006
Copyright © 2006 socineer.com
Lihat: Salin Ulang & Redistribusi