Bagian 1
Pedasnya Cabe
www.socineer.com


Salah satu topik yang sering muncul di meja makan kami adalah soal cabe pedas. Topik itu berkisar dari rasa khawatir terhadap istri yang menurut saya sudah mengkonsumsi cabe terlalu berlebihan. Sebaliknya, saya juga mendapat komentar bahwa toleransi saya terhadap rasa pedas menurun. Mungkin karena rasa sayang, dia selalu mengendalikan konsumsi cabe sesudah saya komentari, terutama ketika sedang diamati. Tentunya tidak ada cara untuk mengetahui pola konsumsinya pada waktu-waktu lain.

Saya yang memperkenalkan kenikmatan bercabe-ria kepadanya, sebelum sang murid mengalahkan suhu. Memang saya termasuk yang suka pedasnya sambal dan cabe. Saya memakan snack tahu goreng dengan cabe rawit merah. Satu cuil tahu membutuhkan satu cabe rawit. Dengan demikian, tentunya sambal kesukaan saya itu selalu buatan sendiri bukan buatan pabrik saos cabe. Saos yang mengklaim extra hot misalnya Sambal ABC, sudah tidak lagi berfungsi sebagai materi pedas di lidah. Sambal cabe hijau di restoran masakan Padang merupakan kegemaran yang selalu saya nikmati setiap ada kesempatan. Sambal gandaria ala Sunda enak sekali dimakan dengan ikan bakar atau goreng. Tanpa cabe, makanan serasa hambar. Itu dulu. Untung saja tunas-tunas pengecap di lidah saya masih belum menjadi invalid oleh serangan pasukan cabe tersebut.

Sampai sekarangpun, saya masih suka pedasnya cabe. Di rak bumbu masakan selalu ada berjenis-jenis cabe, dari bubuk cabe, crushed hot pepper, Tabasco pepper sauce, saos Cajun dan Schechuan, sambal terasi, dan sebagainya. Cabe rawit ada dalam jumlah besar dalam lemari pembeku. Walaupun sama-sama penggemar cabe, bagaimanapun juga tingkat toleransi yang sudah dicapai partner saya terhadap pedasnya cabe ini mengkhawatirkan.

Masakan Schechuan terkenal pedas. Schechuan adalah propinsi yang terletak di barat-daya China, dan merupakan salah satu tempat lahirnya peradaban China. Terletak disekitar garis balik utara (tropic of cancer), tanaman cabe berkembang subur disana. Saking terkenalnya daerah itu sebagai sumber penghasil cabe, jenis-jenis cabe yang paling pedas di dunia dikenal dalam nama ilmiah Capsicum chinense, yang artinya cabe dari China, walaupun tanaman itu sebenarnya berasal dari Amerika Latin, tetapi orang Belanda yang pertama kali menamakan species itu menduga bahwa jenis itu berasal dari China. Qiu Ju Jika Anda menyukai film-film yang disutradarai oleh Zhang Yimou, kemungkinan Anda juga sudah menonton film The Story of Qiu Ju, sebuah film drama komedi yang mengambil setting di sebuah kota kecil di Schechuan, tentang sebuah keluarga petani cabe. Rumah kediaman mereka penuh dengan cabe yang digantung untuk dikeringkan.

Ada satu kedai makan masakan rakyat Schechuan yang sering kami datangi. Untuk tingkat kepedasan makanan, mereka ada tiga tingkatan, yaitu Xiaola (pedas sedikit), Zhongla (pedas medium), Dala (pedas sekali). Saya biasanya memilih Zhongla dan itu saja sudah terasa pedas. Partner saya selalu memilih Dala dan sesudah itu ditambah lagi satu atau dua sendok dengan sambal cabe hijau Schechuan. Sesudah semuanya dicampur, saya namakan itu sebagai semangkok racun merah dengan umpan makanan. Kalau tidak percaya mari coba celupkan seekor cecak ke dalamnya, lihat tahan hidup berapa lama dalam kuah super pedas tersebut. Tapi partner saya bilang, Nah, it's nothing. Oh, well..

Salah satu restoran Thai kegemaran kami bernama Sawasdee yang merupakan restoran Thai tertua di kota kami. Restoran ini adalah restoran Thai yang menurut kami punya rasa orisinal seperti yang kita bisa dapatkan di kedai-kedai makan di Bangkok. Mereka juga tidak tanggung-tanggung dalam memberikan bumbu pedas. Tetapi karena pelanggannya juga banyak dari kalangan kaukasian, pelanggan boleh memilih tingkat kepedasan yang diinginkan. Mereka membagi tingkat kepedasan dalam lima tingkat, masing-masing diberi satu simbol bintang cabe rawit, yaitu dari satu bintang sampai lima bintang. Umumnya untuk yang tidak terbiasa dengan rasa pedas, satu bintang itu sudah membuat muka merah, dua bintang akan mempunyai efek exhausted doggy, yaitu ekspresi muka seperti canis terengah-engah. Pertama kali kami mencoba restoran itu berdua pada suatu malam, pemberian level kepedasan makanan itu menurut kami sangat menarik. Tingkat kepedasan makanan yang kami pesan, sudah tentu lima bintang cabe. Waitress yang melayani kami memerlukan konfirmasi ulang sebelum menuliskan pesanan itu, dengan mewanti-wanti bahwa itu pedas sekali. The hotter the better, saya tersenyum padanya dengan yakin.

Pada waktu makanan sudah disajikan, saya melihat para pelayan, termasuk kokinya juga keluar, dan dengan tidak kentara terus melirik ke arah kami. Waktu saya mencoba soup tom-yam yang kuahnya sudah berwarna merah, wah, benar-benar pedas. Tetapi tentunya demi tidak malu-maluin, saya tidak mau memperlihatkan ekspresi apa-apa di muka sesudah dengan yakin menyatakan the hotter the better. Saya mencoba bersikap cool, dan dengan menghirup cocktail Maitai untuk membuat lebih santai. Sesudah menit-menit pertama, mereka sudah tidak lagi memperhatikan kami, saya baru bisa makan dengan santai. Saya tanya ke partner saya, gimana? "Enak sekali," dia membuat komentar singkat sambil menikmati soup pedas itu, "tetapi lain kali kita coba pesan dengan tujuh bintang cabe!" Aha, itulah yang saya katakan sudah pervert, sang koki bisa terhina berat. Bagaimana seseorang bisa merasakan kenikmatan bumbu-bumbu lain kalau cabenya sebegitu banyak? Semua kehebatan memasak sang koki dipertaruhkan di hadapan Mahkamah Cabe! Waktu saya memberi komentar beberapa hari lalu bahwa tingkat kepedasan makanan yang dikonsumsinya sudah ada pada tingkat suicidal dia malah tertawa nyengir.

Saya tidak tahu rasa khawatir saya beralasan atau tidak. Jin Y. Kang, MD, dari National University of Singapore, mengamati bahwa keturunan tionghoa di Singapore lebih rentan terhadap penyakit maag, dibanding dengan keturunan India atau Malay disana1. Padahal menu makanan Melayu dan India mengandung cabe dalam kuantitas besar, dibanding dengan menu makanan Chinese. Dari sana dia menyodorkan pendapat, bahwa ada kemungkinan jestru pedasnya cabe itu melindungi lambung terhadap maag, dimana zat capsaicin itu menstimulasi hormon yang mempercepat peredaran darah dan menyehatkan membran mukus di lambung2. Ketika dia membandingkan cara makan warga keturunan tionghoa dengan gangguan maag, dan warga keturunan tionghoa yang tanpa gangguan maag, dia menemukan bahwa mereka yang tidak mengalami gangguan maag mengkonsumsi makanan pedas jauh lebih sering. Di lain pihak, saya berpikir, apakah mungkin jestru karena seseorang mengalami maag sehingga menghindar dari mengkonsumsi makanan pedas?

Bersambung ke Bagian 2: Cabe Paling Pedas



  1. Kang, J.Y. et al. Chili-protective factor against peptic ulcer. Digestive Diseases and Sciences. 40: 576 -579 (1995)
  2. Lihat juga: Peter Holzer & Maria A. Pabst, Visceral Afferent Neurons: Role in Gastric Mucosal Protection, News Physiol Sci 14: 201-206, (1999)


Last Revised:Feb 17, 2006
Copyright © 2006 socineer.com
Lihat: Salin Ulang & Redistribusi