Introduksi
Masakan dalam Silang Budaya
www.socineer.com


Bagian Deli Corners ini membicarakan tentang semua hal yang berhubungan dengan makanan. Tulisan-tulisan ini adalah hasil kolaborasi bersama istri saya, yang rajin membuat hidangan dari banyak budaya setiap hari. Kegemarannya terhadap makanan bukan hanya waktu disantap, tetapi juga soal latar belakang makanan, tradisi yang menyertainya, dan kegembiraan yang bisa didapatkan dari makanan. Dia selalu mencoba resep dan masakan baru. Tentunya tidak setiap waktu setiap makanan yang dibuat mampu menggoyang mulut. Terkadang ada makanan dari budaya lain dengan bumbu-bumbu dan bahan yang tidak pernah kita makan sebelumnya terasa aneh di lidah.

Untuk saya sendiri, bisa dikatakan, dari semua jenis masakan dunia, saya paling menyukai masakan dari Indonesia. Itu tidak perlu dijelaskan tentunya. Tetapi sejak kecil memang saya dikatakan lebih adventurous dari umumnya tetangga dalam soal makanan, karena suka mencoba jenis-jenis masakan lain. Beberapa diantaranya menjadi kegemaran sampai saat ini. Ketika berada di negeri tertentu, saya berusaha untuk mencoba makanan asli asal negeri tersebut. Suatu saat pernah mencoba balut, telor yang berisi fetus ayam. Balut itu makanan tradisional yang disukai orang asal Filipina. Eksperimen itu berakhir tidak menyenangkan karena saya harus memuntahkan semuanya keluar. Bukan rasanya yang tidak bisa diterima, tetapi bayangan fetus itulah yang membuat perut menolak makanan itu. Padahal sebelum masuk mulut, saya sudah berusaha untuk menutup mata dan mencoba mengosongkan pikiran supaya bayangan itu tidak muncul. Tapi, yah, apa boleh buat, gagal.

Saya menularkan sifat adventurous kepada pasangan saya dengan membawanya ke tempat-tempat makan yang beragam, dan ternyata akibatnya dia yang lebih suka mencoba macam-macam ketimbang saya. Sering kali pada waktu makan malam kami harus diceramahi terlebih dahulu soal apa sebenarnya jenis masakan yang tersedia di meja makan. Sambil menikmati masakannya sendiri, dia akan melirik terus untuk melihat reaksi semua yang sedang menyantap masakan baru tersebut, terutama reaksi anak-anak tentunya, karena mereka lebih sensitif terhadap rasa asing. Suatu hari anak saya tidak mau makan ikan teri karena dia merasa mata teri-teri tersebut mempelototi dia. Okay, lain kali kita minta mereka yang menangkap teri menutup mata ikan-ikan itu dulu sebelum dikeringkan. Menurut mama mereka, pekerjaan memasak akan menjadi rutinitas yang membosankan jika tidak mencoba jenis-jenis masakan baru. Dengan menyiapkan jenis-jenis makanan berbeda, dia membuat cooking as a pleasure, not a job, katanya.

Hidup kami diantara orang-orang yang datang dari berbagai tempat di dunia juga menunjang gaya makan kami. Penghuni kota kecil tempat kami tinggal mempunyai latar belakang budaya yang beragam, Italia, Portugis, Taiwan, Hongkong, India, China, Irlandia, Iran, Jepang, dsb. Dan ketika ngobrol dengan mereka, soal masakan sering terbawa. Setiap tahun, sekolah anak-anak kami mengadakan Multi-cultural Dinner, dimana masing-masing orang tua anak membawa masakan dari etnis dan budayanya masing-masing. Banyak dari yang datang juga dengan pakaian khas masing-masing tempat, dan memperagakan kesenian masing-masing. Itu salah satu acara yang banyak dinantikan.

Disekitar tempat tinggal banyak toko-toko kecil yang menyediakan jenis-jenis bahan dari seluruh dunia, dan makanan jadi dari mana-mana. Makanan siang hari ini saya beli dari toko yang menyediakan makanan asal Turki. Enak sekali daging domba dan ayam yang dipanggang dan diiris kecil-kecil. Istri saya lebih suka makan siang dengan kue yang baru dia panggang, yaitu whole-wheat apple cake yang dia bilang moist banget. Biarlah, saya lebih suka daging panggang.

Rustic cooking

Banyak orang-orang di Indonesia sudah mulai menyukai masakan Amerika karena banyaknya restoran gaya Amerika yang ada di Indonesia. Masakan tersebut yang dikatakan bergaya Amerika (walaupun asalnya dari negara lain) misalnya spagetti, pizza, hamburger, hot-dog, lasagna, dan lain-lain sejenisnya. Jenis-jenis makanan ini tersedia di banyak restoran populer, dan banyak juga dibuat versi makanan siap saji beku (frozen-food) atau makanan cepat saji (fast-food).

Tetapi sebenarnya banyak jenis makanan lain dari Amerika atau Eropa yang bukan termasuk jenis-jenis tersebut diatas. Jenis-jenis itu dinamakan sebagai home-cooking, country cooking, atau rustic cooking. Untuk mengenal jenis culinary suatu tempat, sering tidak bisa ditemui di restoran-restoran besar yang menyediakan makanan mahal dan mewah yang dikenal sebagai elaborate haute-cuisine. Sudah tentu haute-cuisine itu enak, tetapi itu bukan makanan yang dimakan sehari-hari oleh penduduk suatu tempat. Sering kali, makanan itu lebih asing bagi penduduk setempat daripada para turis yang siap membayar mahal. Ada banyak makanan otentik regional yang disantap sehari-hari oleh penduduk lokal, atau yang ditemui di warung-warung atau tempat makan kecil yang khas.

Makanan lokal juga mengandung banyak cerita, tentang bagaimana kisah makanan itu muncul dulunya, bagaimana orang-orang pada waktu tertentu menggunakan makanan itu untuk bertahan hidup, atau bagaimana kebiasaan setempat dengan makanan tersebut. Terkadang makanan regional bertetangga mempunyai jenis makanan yang mirip, tetapi untuk lidah lokal rasanya berbeda. Ada perbedaan kecil yang membedakan regional satu dengan regional lain. Sama dengan orang asing yang menikmati gudeg Jateng dan masakan Padang, banyak yang kalau tidak diberi tahu, akan bilang itu semua jenis makanan yang serupa. Padahal untuk lidah Indonesia, gudeg dan masakan Padang itu berbeda seperti langit dan bumi. Lidah lokal mampu membedakan perbedaan sedikit dari rasa. Seringkali, hidangan yang sederhana menjadi "kaya" karena mencerminkan tradisi, cita rasa, budaya, tanah, atau musim setempat, the rich humble food.

Makanan lokal membawa kenangan, setidaknya istri saya tadi bilang dia masih bisa membayangkan untuk makan sate kerbau di desa kecil dekat kota Kudus, atau nasi liwet Solo di tepian sawah. Saya pernah menikmati sate buntel yang dijual di pinggir jalan dekat Rumah Sakit Kandang Sapi (Panti Kosala) di Solo. Rasanya enak sekali, masih terbayang sampai sekarang.

Tulisan-tulisan ini tidak mengajak untuk makan lebih banyak. Itu tidak sehat. Juga tidak mengajak makan lebih mewah. Tetapi kami mengajak untuk merefleksikan budaya dari segi makanan. Kita selalu dan harus makan setiap hari. Jika bagian rutin hidup ini bisa menjadi sebuah pengalamanan dengan arti tersendiri, kita memperkaya hidup. Sering kali kita temui, kegembiraan dan arti hidup datang dari hal-hal sederhana sehari-hari.



Last Revised:Jan 19, 2006
Copyright © 2006 socineer.com
Lihat: Salin Ulang & Redistribusi