Harapan dalam Masyarakat Eksploitatif
City of Joy
www.socineer.com


Kemungkian para pembaca sudah menonton film yang sampai sekarang terkenal, City of Joy, yang dirilis tahun 1992. Saya sudah menonton film ini beberapa kali, pertama kali di bioskop, dan kemudian lewat video maupun teve. Jika Anda belum menontonnya, saya anjurkan Anda untuk memesannya lewat tempat penyewaan video, atau di perpustakaan tempat Anda tinggal jika mereka memiliki koleksi film tersebut.

City of Joy menceritakan kisah seorang dokter Amerika, yang patah hati dengan sistem kesehatan di Amerika, dan mencoba menemukan arti hidupnya di India. Sesampainya di India, dia dirampok, dan ditolong oleh seorang penduduk lokal miskin, yang membawanya ke City of Joy, daerah paling kumuh di Calcutta. Disana dia berkenalan dengan seorang rekan senegaranya yang menjadi relawan, dan dia diminta untuk menyumbangkan ketrampilannnya dalam bidang kedokteran disana. Dia bersedia.

Ada satu adegan yang menarik, yaitu ketika klinik itu mau digusur oleh sang tuan tanah tempat klinik kaum papa itu berdiri, karena dia mau menaikkan harga sewa. Mereka bersama-sama ke rumah tuan tanah tersebut untuk memprotes kebijakan tuan tanah yang semakin mencekik hidup mereka itu.

Ketika dokter itu mendatangi sang tuan tanah untuk menerangkan bahwa klinik itu berguna bagi masyarakat sekitar, dan harga sewa jangan dinaikkan. Apa kata tuan tanah itu? Ini perkataan yang jujur, yang memperlihatkan realitas problematika permasalahan di banyak tempat dimana ada perbedaan jurang kaya dan miskin. Saya tuliskan disini dengan kata-kata sendiri, tetapi intinya kira-kira seperti ini.

"Kalian orang Amerika tahu apa tentang nilai uang? Bagi kalian uang adalah kertas untuk dibelanjakan. Tahu apa kalian tentang India? Bagi kami, uang adalah benteng pertahanan kami. Lihatlah sekeliling, kemiskinan membuat hidup mengalami penurunan derajat sampai ke tingkat paling rendah. Lihatlah saya, kenapa saya tidak seperti mereka yang di luar itu? Karena uang. Uang memungkinkan saya dan keluarga saya untuk bertahan dari degradasi. Uang adalah tembok pertahanan dalam masyarakat kami. Tanpa uang, dengan cepat kami akan mengalami degradasi sama seperti semua orang."

Tuan tanah itu jujur, walaupun dengan melakukan hal itu dia juga mengalami degradasi, yaitu degradasi kemanusiaan dimana dia mampu melihat banyak orang menderita atas keputusan yang dia ambil. Dia menyelamatkan degradasi kualitas hidup dengan mengorbankan yang paling penting, nilai sebagai manusia. Tetapi memang tidak semua orang dilahirkan untuk menjadi pahlawan, terutama jika lingkungan sekitar tidak mendukung. Jika salah satu dari orang miskin sekitarnya kemudian jadi orang kaya dan ada pada posisi yang sama dengan tuan tanah tersebut, kemungkinan besar akan melakukan hal yang sama dengan sang juragan.

Dalam masyarakat yang tidak normal seperti ini, setiap orang cenderung membuat benteng pertahanan. Jika Eropa atau Amerika Utara banyak orang kantoran menggunakan sepeda untuk kendaraan sehari-hari, di Jakarta, siapa yang akan melakukan hal itu dengan sukarela? Asap kendaraan tebal membuat udara kotor sekali mencemari paru-paru; kendaraan bersliweran seruduk sana seruduk sini; dan tidak tertutup kemungkinan bertemu dengan preman dengan arit menganga di salah satu pengkolan jalan. Dalam situasi ini wajar orang memilih naik mobil dengan semua jendela tertutup rapi. Mobil, dengan ini merupakan benteng pertahanan mereka yang bepergian di Jakarta terhadap lingkungan yang tak ramah. Lingkungan ini menciptakan aura eksploitatif dimana-mana. Setiap orang berkemungkinan untuk menjadi pemangsa manusia lain. Aparat memangsa dengan meminta uang setiap ada kesempatan untuk jasa mereka; penghasil makanan mengeksploitasi dengan menggunakan bahan berbahaya sehingga makanan bertahan lebih lama, siapa korbannya tidak butuh dipikirkan; yang merasa tidak bisa mengeksploitasi dengan kedudukan dan uang mengeksploitasi dengan mengumbar kekerasan dan memangsa di setiap pojok jalanan.

Lingkaran eksploitatif sukar untuk dipatahkan. Jika satu demi satu mereka yang jujur gagal melakukannya, kita harus akui bahwa itu memang sukar dilakukan, bukan disebabkan orang tersebut kurang mampu. Pertama, pemerintah itu sendiri sangat heterogen dan penuh pemangsa. Dan kedua, masyarakat percaya bahwa sistem yang demikian "works", karena mereka tidak pernah mengetahui bahwa ada cara lain di dunia selain saling mengeksploitasi. Dan ketiga, sebagian dari masyarakat lebih mementingkan ideologi atau kepercayaan agama masing-masing daripada melihat semua individu sebagai manusia tanpa membedakan ras, agama, gender atau suku.

Saya berkeyakinan harapan selalu ada karena dalam hati setiap insan selalu ada kerinduan yang sering tak terekspresikan untuk keadilan dan perdamaian antar manusia. Dimana ada kerinduan, disitu harapan selalu menyala walaupun cuma kedipan lemah.



Last Revised:Jan 15, 2006
Copyright © 2006 socineer.com
Lihat: Salin Ulang & Redistribusi