Dunia yang semakin datar
Globalisasi versi 2.0
www.socineer.com


Kemarin saya memanen wine yang dibuat musim gugur tahun lalu dengan tetangga. Wine yang ada di tong besar kita pindahkan ke botol-botol kecil untuk kemudian disimpan. Sambil bekerja, dia menceritakan bagaimana perusahaannya sekarang memindahkan proses produksinya ke China. Perusahaannya membuat alat elektronik yang dipergunakan oleh perusahaan listrik. Saya bilang, kalau semua proses produksi pindah ke China, bagaimana dengan orang-orang semakin sukar bekerja? Iya, tidak ada cara lain, katanya, kalau kita tidak melakukannya, kita tidak akan mampu bersaing, dan saingan itu ada dari seluruh dunia.

The world is flat, kata Thomas L. Friedman, seorang kolumnis yang menulis buku tentang masalah ini, dan buku tersebut dibaca dimana-mana saat ini. Padahal sebenarnya tidak banyak ada yang baru dalam buku tersebut, tetapi orang perlu penegasan dengan tanda seru sekali lagi untuk meyakinkan diri. Dalam era lalu, negara-negara terpisah atas batas-batas dengan tembok tinggi. Lalu muncul globalisasi, dimana tembok-tembok pembatas negara mulai runtuh, dan semua barang-barang dan merek-merek dari negara maju masuk. Dunia mulai menjadikan hamburger McDonald makanan sehari-hari, dan California menjadi test-case untuk selera dunia. Produk baru muncul di California, dan produk yang berhasil di California, kemungkinan besar akan berhasil dipasarkan secara global. LSM negara berkembang menjerit, mengatakan bahwa itu adalah infiltrasi negara maju untuk meraup negara berkembang. Imperialisme model baru, katanya.

Sekarang ini semua sudah menjadi sejarah, bagian dari jaman kuda masih gigit besi. Sekarang muncul Globalisasi versi 2.0, dimana arus mulai terbalik, sedikit negara yang tadinya miskin, menginvasi negara maju dan seluruh dunia lainnya dengan produk-produknya yang tak pernah habis. Dan negara yang ada pada posisi paling depan itu adalah China. Ketika saya mencari hadiah Natal Desember tahun lalu, di sebuah toko alat elektronik, saya mendengarkan perdebatan dari seorang konsumen dengan pegawai toko tersebut. Itu bermula dari promosi pegawai toko, bahwa barangnya berkualitas tinggi dan di produksi secara lokal. Konsumen tersebut merasa dikibuli, karena menurutnya semua barang sekarang produksi China. “Coba tunjukkan satu barang di toko ini yang tidak mengandung komponen buatan China,” katanya. Dan pelayan toko itu gelagapan, dan berusaha membenarkan promosinya tadi dengan mengemukakan, “okay, memang intinya semua diproduksi di China, tetapi ada bagian yang diproduksi secara lokal.” Saya yang ikutan berdiri di counter tersenyum sendiri dan berpikir, “paling sekrup terakhir,” tapi tentunya saya tidak mau ikut campur dalam perdebatan mereka.

Apa yang dikatakan konsumen tersebut diatas mungkin dilebih-lebihkan, karena saya bisa mencari barang bukan buatan China di toko itu, misalnya buatan Malaysia. Tetapi point yang ingin disampaikan konsumen itu adalah, “please, jangan terlalu mempromosikan soal buatan mana, sekarang dunia sudah datar. Mempromosikan berlebihan seperti itu menghina akal saya.” Disini konsumen itu punya point yang jelas. Yang perlu dipromosikan oleh pegawai toko itu seharusnya pelayanan toko yang bagus, kemudahan untuk menukar dan mengembalikan barang yang sudah dibeli, garansi yang menarik, dan sebagainya. Inilah yang bisa dijual oleh negara Barat saat ini, bukan soal dimana tempat produksi suatu produk.

Negara kedua yang berperan dalam Globalisasi versi 2.0 adalah India. Jika China menjadi mesin turbo pendorong dengan menjadi pabrik produksi dunia, India menjadi pabrik pelayanan. China mengandalkan produk dan India mengandalkan servis. Seorang penumpang pesawat dari Toronto yang tidak menemukan bagasinya di airport Vancouver, menceritakan pengalaman yang mengesalkan di surat pembaca pada koran lokal. Dia menelpon untuk menyampaikan keluhan dan permasalahannya. Yang menerima telpon adalah seseorang, dengan bahasa Inggris dengan aksen yang bagus dan ramah sekali. Operator tersebut sangat helpful, sayang dia tidak berada di Amerika atau Canada. Dia bekerja dari India. Dari seberang ujung dunia lain, operator tersebut berusaha untuk menyelesaikan masalah bagasi hilang yang terjadi di Amerika atau Canada. Dan jika baik airport keberangkatan, airport transit, maupun airport kedatangan merasa tidak bertanggung jawab atas bagasi tersebut, dan operator dari India telpon keliling sana-sini tidak berhasil menyelesaikan masalah, betapa kesalnya sang penumpang. Dia ingin berbicara dengan mereka yang mengurusi permasalahan tersebut secara langsung, bukan dengan seorang operator super ramah dari ujung dunia lain. Tapi ini adalah kenyataan yang tak bisa dipungkiri lagi, the world is flat seperti kata Friedman, dimana lokasi tidak lagi terlalu menjadi masalah seperti masa lalu. Banyak servis yang tadinya dipikirkan tidak bisa dilakukan di negara lain, sekarang sudah terjadi. Servis operator misalnya seperti di atas, dilakukan di tempat lain. Telemarketing sekarang juga diincar, jangan heran kalau mereka yang menelpon kita pada sore hari menawarkan segala macam barang atau mau survei ini itu sebenarnya sekarang sebenarnya berasal dari India atau Filipina. Soal aksen? Tidak ada masalah, sekarang ada kursus-kursus aksen, tinggal mau pilih yang mana, aksen New York, aksen Selatan (Southern), aksen Texas, atau aksen pantai Barat? Semua bisa diatur, dan ada pemasok tenaga kerja punya fasilitas untuk melatih aksen yang bagus.

Bagaimana soal tulis menulis? Kalau soal menterjemahkan itu sudah tidak perlu dibilang lagi, karena sudah lama dikerjakan di tempat lain. Pada era Globalisasi 1.0, Irlandia adalah negara yang kecipratan rejeki dari kemampuan berbahasa Inggris dan berhasil mengekspor servis-servis. Sekarang, bahkan untuk menulispun sudah bisa dilakukan di India. Siapa bilang orang di India tidak bisa menulis secemerlang dan sekritis orang di Amerika atau Canada? Tradisi demokrasi membuat mereka tidak tertinggal jauh dari negara-negara maju dalam hal cara berpikir. Tinggal pesan thema tulisan apa yang diinginkan, lalu ditulis di sana dalam jumlah banyak, dan diperlukan sedikit editor di negara maju untuk memperbaiki dan menyesuaikan sedikit. Globalisasi 2.0, bahkan pekerjaan sebagai penulispun bisa diekspor.

Apa arti semua ini untuk negara seperti Indonesia? Jangan melihat ini sebagai ancaman. Jauh daripada ancaman, situasi ini adalah kesempatan. Kita ambil contoh, Indonesia punya kemampuan yang membedakannya dari negara-negara lain di dunia, yaitu sumber artis-artis dalam jumlah yang besar. Jarang ada negara lain dimana kemampuan melukis dan mengukir itu tersebar luas di seluruh negeri. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan semua ini dengan dunia luar. Dalam era sekarang dimana dunia semakin datar, Indonesia juga bisa mengambil bagian dengan mengambil peranan dalam niche-niche yang belum dan sukar terisi oleh pihak lain. India bisa menjadi eksportis servis karena kemampuan berbahasa Inggris yang bagus oleh rakyatnya. Itu tidak bisa disaingi oleh China.

Peran Indonesia masih minim sekali karena Indonesia sampai saat ini masih berorientasi ke dalam. Indonesia belum benar-benar melihat keluar. Memang banyak sekali slogan-slogan untuk meningkatkan ekspor, dan sebagainya. Tetapi itu semua slogan-slogan kosong, karena slogan itu seharusnya diikuti oleh attitude. Sikap minder yang serta-merta menolak menjelekkan gaya hidup dari negara maju, menolak bahasa asing, menjelek-jelekkan penduduk negara lain seakan-akan mereka tidak bermoral, tidak membantu memajukan negara. Hanya mereka yang terbuka mampu benar-benar menghargai kebudayaan sendiri. Budaya tidak bisa dipaksakan, tidak bisa didikte, dan tidak bisa dibuat seperti dogma. Budaya itu hadir sebagai kebutuhan, sebagai ekspresi diri. Dan ketika budaya mampu menjadi titik tolak daya saing sebuah negara, negara itu mulai menuju ke arah kesejahteraan dan kemakmuran. Bersikap reaktif dan mengisolasi diri adalah cara terbaik untuk melanggengkan kemiskinan.



Last Revised:Jan 16, 2006
Copyright © 2006 socineer.com
Lihat: Salin Ulang & Redistribusi