Mengenang Romo Mangun
www.socineer.com


Kira-kira tujuh tahun lalu, pada hari Rabu, tanggal 10 Februari 1999, Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, yang sehari-harinya dikenal sebagai Romo Mangun, meninggalkan bumi Indonesia yang pada waktu itu masih porak poranda karena Kerusuhan Mei 1998. Sejak itu, Indonesia kehilangan salah satu puteranya yang gigih memperjuangkan kemanusiaan, demokrasi dan keharmonisan ruang hidup manusia Indonesia.

Romo Mangun dilahirkan pada tahun 1929 di Ambarawa, Jawa Tengah. Dia ikut-ikutan menjadi Tentara Pelajar (dan pernah dia menceritakan pengalamannya dengan kocak sebagai tentara yang cuma lari sana lari sini, dia mampu menertawakan pengalaman yang selalu dibanggakan oleh banyak orang lain), dan kemudian belajar teologi dan arsitektur. Dia menjadi romo, pejuang kemanusiaan, penulis dan sastrawan, sekaligus arsitek yang namanya tersohor di seluruh dunia.

Siapakah dia sebenarnya? Romo Mangun pada dasarnya adalah seorang humanis, yang menaruh perhatian terbesar pada manusia, dan pada penghormatan terhadap martabat dan hak kemanusiaan. Dia menempatkan prioritas humanisme ini di atas fokus lain. Pilihan hidupnya sebagai rohaniwan katolik tidak membuatnya menempatkan kepentingan institusi agama diatas kepentingan yang lebih mendasar tersebut. Romo Mangun pun dengan demikian mengatasi perbedaan batas agama, dan menjadi romo bagi semua orang. Karya-karyanya diperuntukkan untuk dan demi setiap manusia Indonesia.

Masalah-masalah kemanusiaan yang terjadi di Indonesia, juga terutama disebabkan kegagalan memupuk tradisi dan sistem masyarakat yang menghargai kemanusiaan. Dia bergulat selama hidupnya untuk memberikan contoh dan membangun tradisi kemanusiaan dengan menyerahkan hidupnya sendiri untuk kemanusiaan itu sendiri.

Salah satu ancamam besar terhadap berkembangnya penghargaan atas kemanusiaan di Indonesia adalah kedangkalan dalam beragama dan ancaman fundamentalisme agama. Romo Mangun menulis banyak tentang masalah ini, dan mengajak kita untuk menghargai religiositas alamiah manusia, dibandingkan dengan interpretasi tekstual dan ritual yang kaku. Dia bergulat melawan kecenderungan tersebut, dan menulis banyak buku-buku tentang pengalaman spiritualitas alamiah manusia, misalnya Raga Widya, dan Menumbuhkan Sikap Religiositas Pada Anak. Tujuan spiritualitas menurutnya bukan untuk menciptakan insan beragama yang taat atau fanatik, tetapi seseorang manusia yang mampu meresapi kekayaan spiritualitas dalam diri sendiri, dan menterjemahkannya dalam sikap hidup. Kehidupan keseharianpun berubah menjadi doa tanpa henti. Memang cara pandang kristiani dan pandangan budaya kontemporer humanis mempengaruhi cara pandangnya, tetapi dalam aktualisasinya, Romo Mangun mengambil unsur-unsur budaya yang dikenalnya secara baik, yaitu budaya Jawa. Secara khusus, saya pikir ada keinginan besar darinya untuk semakin memanusiakan manusia Jawa. Berbahagialah orang Jawa yang mempunyai tokoh yang begitu mengemongi seperti dia.

Humanisme dan budaya bagi Romo Mangun adalah dua hal yang tak terpisahkan. Sikap humanis adalah sikap berbudaya. Bukan budaya superficial yang hanya terasa dikulit, tetapi menghayati kebudayaan secara kritis dan dari dalam. Romo mengajak setiap insan berperan sebagai aktor dalam budaya, bukan sekedar pengamat, penikmat, penghayat, atau pengagum budaya. Sikap ini tercermin dari karangan novel-novelnya yang mengambil latar belakang sejarah atau budaya Jawa, budaya yang paling dia kenal. Romo Mangun mencoba mengupas cikal bakal masyarakat Jawa tempo dulu secara kritis.

Sikap kritis dalam berbudaya, bukan hanya melulu bersumber pada budaya tradisional dan budaya masa lalu. Tetapi juga budaya kontemporer masa kini. Dalam hal ini, Romo Mangun memfokuskan pada sesuatu yang juga dia kenal dengan baik, budaya teknologi modern. Walau dia seorang insinyur, dia tidak terhanyut dalam pemikiran dan spesifikasi teknis dari ketrampilannya tersebut, tetapi mencoba untuk merefleksikannya sebagai bagian dari gema budaya manusia. Tulisan-tulisannya mengajak untuk melihat bagaimana budaya masa kini bisa menjadi hambatan dalam memanusiakan manusia, dan mengajak kita untuk bersikap kritis, bukan hanya penerima budaya teknik secara pasif, tetapi bersikap sebagai aktor dalam perjalanan budaya masa depan, seorang aktor dalam membentuk budaya yang semakin menghargai kemanusiaan.

Sikap humanis Romo Mangun bisa dilihat dari keberpihakan pada yang lemah dan yang kecil. Karya-karya Romo Mangun di Kali Code, dan keterlibatannya di Kedung Ombo dan kasus-kasus lain memperlihatkan jelas sikapnya tersebut. Karyanya dalam memanusiakan pemukiman kaum miskin di Kali Code mendapat penghargaan Aga Khan Award for Architecture. Dalam mengatasi masalah kemiskinan, Romo Mangun mengambil sikap yang jauh dari sikap teknokratis; bukan dengan cara ramai-ramai membuat panitia untuk mencari dana dan sumbangan karitatif; juga bukan dengan cara-cara rekayasa ekonomi. Dia melihat seberapapun besar karitas yang dicurahkan, masyarakat disekitarnya terus membusuk. Masalahnya bukan sekedar di kemiskinan ataupun masalah-masalah ekonomi semata, tetapi sudah berakar jauh mendalam.

Kemiskinan dalam masyarakat, terutama di dunia ketiga selalu ada, itu adalah realitas. Masalah mendasar itu bukan lagi bagaimana cara menghapus kemiskinan dengan cepat, karena kalau diambil sikap dasar itu, maka hasil pemikirannya akan selalu berupa perencanaan teknokratis. Ini tidak berarti perencanaan kebijakan ekonomi tidak perlu dilakukan, tetapi jika itu yang selalu difocuskan, maka kegagalanpun terjadi seperti yang kita lihat di Indonesia. Romo Mangun bukan berfungsi sebagai pemerintah, bukan juga seorang teknokrat, dia tidak mengambil cara itu. Sisi yang digarap Romo Mangun adalah bukan menghapus kemiskinan. Tetapi bagaimana caranya supaya mampu untuk berkemanusiaan dalam kemiskinan. Jika kemiskinan itu selalu ada, maka janganlah sampai kemiskinan itu menjatuhkan martabat manusia. Hanya manusia yang bermartabat dan mampu berdiri tegak yang bisa berjuang untuk keluar dari lingkaran setan kemiskinan. Karya di Kali Code adalah monumen, bagaimana sikap menumbuhkan rasa percaya diri dan sikap bermartabat sebagai manusia di kalangan kaum kumuh perkotaan.

Bagian akhir dalam pengembaraan Romo Mangun, seperti yang setiap orang yang mau mengusut masalah mendasar kemasyarakatan dalam dunia ketiga, akan bertemu masalah pokok di ujung, yaitu masalah kekuasaan. Romo Mangun di tahun-tahun terakhir, menguak secara rajin, bagaimana kekuasaan itu bisa merupakan hambatan terbesar bagi kemanusiaan. Bagaimana ideologi, ide-ide abstrak yang ternyata mampu mengorbankan manusia untuk bisa bertahan. Romo dengan tabah selama bertahun-tahun menguak mitos Negara Kesatuan, tentang kebusukan faham militerisme, dan tentang budaya kraton yang mampu menghalangi masyarakatnya untuk maju. Beberapa dari mereka yang memuji ketika Romo Mangun berperan dalam pemberdayaan kaum miskin, berbalik menrengut ketika dia mulai bersuara tentang kebusukan kekuasaan seakan-akan itu adalah suara kaum subversif.

Jika dilihat ulang, kita akan terkesima betapa luasnya jangkauan perhatian Romo Mangun. Dan yang paling berkesan bagi saya adalah kejujuran Romo yang terus bertanya dan terus mengembara. Dia itu tidak seperti Oracle Delphi yang menjadi kuil kebijaksanaan, tetapi dia menempatkan diri sebagai seorang pengembara yang ikut serta dalam semua perjalanan. Saya tidak bisa menyembunyikan kekaguman dan rasa hormat yang luar biasa padanya.



Last Revised:Jan 23, 2006
Copyright © 2006 socineer.com
Lihat: Salin Ulang & Redistribusi