Tionghoa Indonesia dan Pluralisme
www.socineer.com


Salah satu cerita karangan Charles Dickens, seorang pengarang cerita anak dari periode Victorian di Inggris, adalah Oliver Twist. Cerita ini dibaca oleh ratusan juta anak-anak dari berbagai generasi, sehingga ide-ide yang ada dalam cerita tersebut membentuk gambaran anak-anak yang kemudian beranjak dewasa. Salah satu ide cerita yang melekat erat pada imaginasi anak-anak adalah tokoh Fagin, yang digambarkan sebagai kriminal pengekspoloitasi anak-anak di London. Charles Dickens menggambarkan Fagin sebagai the Jew, si Jahudi. Gambaran tentang Jahudi pengeksploitir anak-anakpun berkembang, dengan Charles Dickens merupakan salah satu pendorongnya. Sudah tentu banyak kritik terhadap gambaran Dickens ini. Ketika dikonfrontasi beberapa tahun kemudian, Dickens mengatakan bahwa dia membuat Fagin sebagai seorang Jahudi karena jelas kelas kriminal di London saat itu adalah orang-orang Jahudi. Tetapi tidak ada fakta dalam statistik kriminal tahun 1830 di London yang memperlihatkan bahwa orang-orang Jahudi mengontrol anak-anak pencopet. Apa yang dituliskan Dickens itu cuma bagian dari prasangka belaka.

Fagin the Jew

Seorang pengarang lain, Will Eisner, di tahun 2003 yang lalu, mengarang cerita pembanding untuk Oliver Twist, dengan judul Fagin the Jew. Dengan tidak meninggalkan plot dari Charles Dickens, Eisner mengisi celah-celah yang ditinggalkan oleh Dickens, yaitu pandangan dunia dari sisi pengalaman Fagin. Pembaca dibawa ke tengah masyarakat Jahudi di London pada era Victorian, dan memperlihatkan sisi-sisi masyarakat tersebut, dan pertentangan-pertentangan yang ada di dalamnya. Bagaimana kelompok Jahudi Sephardim (berkulit lebih gelap dari Mediteranian) dan kelompok Ashkenazim (kelompok berkulit putih dari Eropa Utara) saling punya gambaran pejoratif satu sama lain. Bagaimana kelompok Jahudi yang ingin mempertahankan tradisi Jahudi dengan kelompok yang ingin berasimilasi ke dalam masyarakat Protestant England. Bagaimana kelompok Jahudi miskin dan Jahudi kaya berhubungan dan apa kepentingan mereka. Dengan demikian Will Eisner, yang juga mengarang cerita yang mengupas prasangka rasial terhadap anak-anak hitam di Amerika, membuat dialog dengan Charles Dickens, dimana tokoh Fagin mengajukan pembelaan diri terhadap pengambarannya dalam cerita Oliver Twist.

Tionghoa Indonesia

Kelompok masyarakat tionghoa Indonesia saat ini, dalam segi tertentu agak mirip dengan gambaran masyarakat Jahudi jaman Victorian tersebut. Tekanan puluhan tahun terhadap kelompok masyarakat ini, dan proses perubahan yang cepat dalam hubungan bermasyarakat meninggalkan bekas-bekas mendalam, termasuk di dalamnya emosi-emosi yang campur baur. Dari luar, terlihat kelompok masyarakat tionghoa di Indonesia itu seperti kelompok homogen. Itu jauh dari benar. Kelompok masyarakat tionghoa di Indonesia sangat heterogen, dan terdiri dari banyak sekali kelompok yang saling mempunyai gambaran pejoratif satu sama lain. Sepanjang sejarah, satu demi satu peristiwa sejarah memberikan garis pemotong masyarakat tersebut. Secara umum, garis pemisah dalam masyarakat tionghoa tidak berbeda jauh dari garis pemisah dalam suku-suku lain di Indonesia.

Bahasa sebagai pemisah

Beberapa garis pemotong yang terjadi pada era-era kolonial terdahulu sudah dilupakan dan hanya ada dalam sejarah, kecuali satu faktor, yaitu totok-peranakan. Sebenarnya, lebih tepat pembagiannya menjadi tiga: tionghoa totok, tionghoa babah, dan tionghoa wolanda. Pada awalnya tionghoa totok dianggap tionghoa pendatang baru yang masih totok gres, dan dikalangan tionghoa disebut sebagai sinke, yang arti harafiahnya adalah keluarga baru, atau pendatang baru. Sedangkan tionghoa peranakan adalah mereka yang lahir setempat. Sesudah arus kedatangan immigran baru dari China menyusut, istilah ini terus dipergunakan, tetapi faktor utama pemisah kemudian adalah faktor bahasa. Tionghoa dianggap totok jika masih menggunakan bahasa tionghoa sebagai bahasa sehari-hari. Tionghoa babah adalah mereka yang menggunakan bahasa lokal, seperti bahasa Melayu, Jawa, dsb. Tionghoa wolanda adalah mereka yang mengunakan bahasa Belanda dalam kehidupan sehari-hari di rumah, dan umumnya mereka mendapat pendidikan cukup tinggi dalam lembaga pendidikan berbahasa Belanda.

Pandangan pejoratif antar golongan yang dipisahkan oleh bahasa ini cukup mendalam. Mereka yang tergolong dalam tionghoa totok menganggap mereka yang babah atau wolanda sudah melupakan bahasa leluhur. Sebaliknya mereka yang tidak menggunakan bahasa tionghoa, menganggap kaum totok itu kolot, dengan sikap hidup yang tidak lagi sesuai dengan jaman. Mereka yang non-wolanda mengganggap yang berbahasa belanda itu mau jadi bule tapi kulit tetap kuning, sedangkan mereka yang wolanda melihat yang lain kurang berpendidikan.

Ideologi sebagai pemisah

Ketika perjuangan revolusioner berkecamuk di China, pandangan yang saling berlawananpun dibawa ke kalangan tionghoa di luar China, termasuk di Indonesia. Pada waktu dinasti Qing masih berkuasa, ada tiga kelompok, yaitu kelompok pro-Qing, kelompok yang ingin mereformasi Qing, dan kelompok anti-Qing. Ini semua juga sudah tinggal sejarah. Yang tertinggal kemudian setelah Revolusi adalah kelompok pro Kuomintang (Nasionalis) dan kelompok pro Kungchangtang (Komunis). Kelompok terakhir ini berhasil ditekan sampai sehabis-habisnya pada era Orde Baru.

Pergolakan ideologis di Indonesia juga memecah kelompok tionghoa pada era Soekarno, yaitu kelompok pro BAPERKI, dan kelompok anti BAPERKI. Persengketaan secara ideologis ini lebih keras dan mendalam daripada pembedaan dari faktor bahasa dan budaya diatas. Persengketaan itu terhenti ketika Order Baru muncul, dimana kelompok pro Baperki harus mundur, dihancurkan, dan diam. Kecuali seorang pengacara yang terus menyuarakan suara anti penindasan seperti Yap Thiam Hien, S.H.

Agama sebagai pemisah

Pada era Orde Baru, terjadilah dikotomi pemisah masyarakat yang mencuat adalah agama. Hal ini disebabkan karena Orde Baru ingin mengendalikan agama sebagai alat stabilisasi massa. Secara terang-terangan budaya tionghoa disisihkan, termasuk di dalamnya agama Confucius yang dianut sebagian masyarakat tionghoa, yang tidak diakui sebagai agama. Penggunaan agama sebagai alat politik kentara sekali, ketika perayaan-perayaan tionghoa (seperti perarakan naga) diperbolehkan pada waktu menjelang Pemilihan Umum, dan mereka diarahkan untuk memilih partai pemerintah.

Dengan diberlakukannya azas tunggal, dimana perbedaan ideologi tidak diperbolehkan karena semuanya harus menganut ideologi tunggal negara, maka dorongan masyarakat untuk memperlihatkan pembedaan itupun bergeser ke faktor agama. Kalau dulu orang bisa bilang saya nasionalis, kamu sosialis, pada era Orde Baru karena perbedaan ideologis tidak diperbolehkan, pembedaan atas suku dianggap haram (dianggap memunculkan bahaya separatis, yang selama Orde Baru merupakan masalah, terutama di Aceh, Irian dan Timor Timur), maka muncullah faktor agama sebagai ladang permainan utama. Karena pertentangan agama dianggap tidak berbahaya bagi pemerintah kecuali yang mau membuat kerusuhan, dan pemerintah bisa menjadi wasit yang mengendalikan semua pihak, maka pertentangan ini dieksploitasi untuk stabilisasi politik. Dengan menjaga agar masing-masing agama punya ladang tersendiri, maka perpecahan terjadi, sehingga massa sukar untuk menggalang kesatuan secara menyeluruh.

Efek ini terasa di kalangan tionghoa. Ketika faktor bahasa dan ideologi sebagai faktor pemisah mulai luntur, agama muncul sebagai faktor yang semakin nyata. Kalau ada pertentangan dan perdebatan, banyak yang muncul adalah faktor perbedaan agama. Walaupun harus ditekankan disini, bahwa ini hanya berlaku untuk kalangan yang mementingkan agama. Sebagian orang tionghoa yang tidak begitu peduli dengan agama tidak terlalu memusingkan soal kepercayaan seperti ini.

Pada era sesudah Orde Baru, tekanan terhadap kelompok tionghoa mulai dilepas, dan kelompok tionghoa mulai dihargai sebagai satu kelompok etnis budaya tersendiri di Indonesia. Hari Tahun Baru Imlek juga diakui sebagai hari raya nasional di Indonesia. Penggunaan bahasa tionghoa di media massa tidak lagi diharamkan. Tetapi rupanya sisa peninggalan dari era lalu, yaitu pertentangan agama sukar untuk diatasi. Hal ini juga disebabkan oleh persaingan untuk merebut pengikut agama. Tidak seperti di negara maju, dimana persaingan merebut pengikut agama sudah tidak lagi menjadi masalah, di Indonesia masih merupakan masalah besar. Hal itu mungkin, selain disebabkan oleh kedewasaan masyarakat, di masyarakat negara maju ada banyak faktor yang memperkaya hidup seseorang selain faktor agama. Agama tidak lagi menjadi satu-satunya sumber harapan manusia.

Pluralisme

Orang tionghoa Indonesia umumnya adalah pendukung pluralisme dalam hidup bermasyarakat di Indonesia. Tanpa pluralisme, maka pembedaan budaya akan dirasa sebagai ancaman bagi masyarakat. Dengan pluralisme, masyarakat tidak lagi diikat oleh kesamaan karakteristik, tetapi oleh pengertian dan saling menghargai. Karena adanya pluralisme, maka kelompok-kelompok minoritas bisa hidup dan berkembang dalam suatu masyarakat.

Jika ingin dikatakan konsisten, seharusnya pluralisme juga tidak hanya ditujukan keluar, tetapi juga kedalam, yaitu kedalam masyarakat tionghoa Indonesia itu sendiri. Masyarakat tionghoa di Indonesia itu masyarakat yang plural, dan itu harus diakui sebagai fakta. Tanpa penghargaan terhadap pluralisme dalam masyarakat tionghoa itu sendiri, sukar rasanya untuk bisa dianggap konsisten dalam ruang lingkup yang lebih besar, yaitu ruang lingkup nasional.

Syukurlah dari pengalaman penulis, sebagian besar warga Indonesia keturunan tionghoa merupakan kaum pluralis, yang bisa hidup dalam perbedaan tanpa perlu terlalu memusingkan soal perbedaan agama atau tradisi keluarga. Orang tionghoa umumnya bersikap pragmatis, mementingkan kesejahteraan keluarganya dibanding dengan memusingkan perbedaan ideologi atau agama.



Last Revised:Jan 28, 2006
Copyright © 2006 socineer.com
Lihat: Salin Ulang & Redistribusi