Apa yang sedang terjadi dengan Web 2.0?
www.socineer.com


Web 2.0 sudah tiba! Rame deh pada membicarakan Web 2.0. Asalkan jangan ditanya, apa itu Web 2.0? Tanya ke 10 dedengkot Web, kita bisa mendapatkan 10 jawaban yang berbeda, tergantung apa yang sedang dimimpikan oleh yang bersangkutan. Jeff Bezos, pendiri Amazon.com, mengatakan "Web 1.0 was making the Internet for people, Web 2.0 is making the Internet better for companies." Oh, pasti banyak yang tak setuju dengan pernyataan itu. Ada yang memberikan definisi sangat teknis dengan mengambil contoh-contoh teknologi yang ada saat ini. Well, ini akan segera aus, tidak ada teknologi yang bertahan cukup lama saat ini. Satu artikel di koran yang saya baca, memberitakan beberapa pengusaha siap berkecimpung dalam Web 2.0, dan ketika memberikan keterangan apa itu Web 2.0, pokoknya ada hubungannya dengan blog dan wiki, kira-kira demikian katanya. Apa yang bisa lebih kabur dari ini? Jangan heran banyak yang akhirnya skeptis, istilah Web 2.0 cuma istilah marketing saja, supaya ada hal baru yang bisa dijual ketika era dot-com lewat.

Jangankan artinya, cara mengucapkannya "Web 2.0" juga tidak ada standar yang pasti. Ada yang mengucapkan Web Two Zero, ada yang berbunyi Web Two Dot Oh, atau Web Two Point Oh, yang paling saya sukai adalah Web Ohh Ohh.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menjernihkan permasalahan definisi Web 2.0 ini, itu mission impossible. Sebaliknya, tulisan ini bertujuan untuk memperkeruh suasana, sehingga pembaca tambah bingung. Itu jauh lebih mudah dilakukan. Kalau sudah diingatkan soal ini dan masih mau membacanya, silahkan. Mari kita berbual-ria.

Tetapi benar, sejak beberapa tahun terakhir, ada perubahan besar pada jaringan Web. Perang web-browser yang terjadi pada beberapa tahun silam antara Netscape melawan Microsoft sudah menjadi bagian dari sejarah. Microsoft sudah menang, tapi ironisnya, kemenangannya jestru terjadi pada saat browser sudah tidak lagi menjadi issus relevan. Orang memakai Internet Explorer, so what?, terutama kalau setiap kali masuk internet dia larinya ke Google dulu.

Apa nama besar yang disebut-sebut akhir-akhir ini? Iya, bukan Microsoft lagi, tetapi Google. Sistem operasi komputer sudah tidak menjadi hal yang benar-benar mendasar lagi seperti tahun-tahun lalu. Internet sudah terbentuk, dan Microsoft dan perusahaan-perusahaan pembuat perangkat lunak harus mengikutinya. Microsoft sudah capek juga membuat teknologi-teknologi baru untuk sisi pemakai, tetapi tidak banyak pembuat situs Web yang benar-benar mau memakainya karena tidak kompatibel dengan browser lain, atau karena mereka curiga nanti malah bikin masalah. Akhir tahun 90an dipenuhi dengan perusahaan-perusahaan perangkat lunak berusaha untuk membuat plug-in untuk applikasi Web, meningkatkan isi teknologi Web sampai ke titik chaos. Siapa sih yang mau menginstall semua jenis plug-in supaya bisa mengakses semua content yang aneh-aneh dari web? Lalu muncul issue security, semakin banyak jenis teknologi, semakin banyak lubang yang bisa dimasuki tanpa diketahui oleh pemilik komputer. Untunglah, itu semua sudah menjadi bagian dari masa lalu. Sekarang lahan pertempuran sudah bukan lagi di bidang pembuatan standard teknis, tetapi business-model. Google menjadi raksasa saat ini, terutama karena model bisnisnya yang jitu. Dan model bisnis itu melahirkan revolusi dalam Internet.

Dengan didorong oleh Google, muncullah blog-blog. Blog adalah tulisan yang ditulis oleh para pemakai komputer biasa. Dengan tanpa pengetahuan teknis pembuatan situs, mereka bisa membuat situs-situs yang profesional dengan bantuan mekanisme situs blog. Tanpa mesin pencari seperi Google, blog-blog akan mati karena tidak ada yang mampu menemukan tulisan yang sekarang ada dalam jumlah luar biasa. Google membantu berkembangnya blog dengan sengaja mengedepankan tayangan blog untuk dipilih oleh para pencari informasi. Munculnya blog-blog ini membuat ladang bisnis Google juga semakin besar. Blog melahirkan grass-root journalism dari mereka yang sama sekali tidak berkecimpung dalam jurnalisme tradisional selama ini. Bahkan banyak jusnalist yang beraliansi ke koran-koran terkemuka sekarang masuk dalam jurnalisme ala blog ini. Ini sudah tentu ancaman bagi surat-surat kabar, baik surat kabar cetak maupun surat kabar online.

Hal kedua adalah munculnya wiki. Salah satu layanan wiki, yaitu Wikipedia, sudah menjadi ensiklopedi terbesar yang pernah ada. Encyclopędia Britannica sudah menjadi produk mungil dibandingkan dengan Wikipedia. Kalau penerbit Encyclopędia Britannica tidak mengubah strategi mereka, dalam waktu singkat mereka tidak akan lagi menjadi relevan. Untuk apa membeli ensiklopedi tercetak yang membuat penuh rumah kalau bisa diakses dari internet? Untuk apa meyimpan DVD-ROM jika semua bisa diakses dengan mudah dari Internet? Perlu diketahui, layanan Internet untuk negara-negara maju sudah menjadi sedemikian maju sehingga saluran cepat terhubung ke Internet dalam waktu 24 jam sehari. Internet ada di sebagian besar rumah-rumah penduduk, 24 jam sehari. Begitu menyalakan komputer, langsung terhubung ke Internet.

Dari siapa isi blog dan wiki tersebut? Bukan dari perusahan-perusahaan besar, tetapi dari semua orang yang ingin menulis. Ada jutaan penulis, dan setiap hari bertambah pesat. Yang menulis tulisan kualitas sampah juga banyak, tetapi dengan sistem searching dan referral, junk akan cepat masuk kotak yang tak pernah digubris, dan tulisan yang bermutu akan cepat naik. Darwinism berperan dalam menentukan para penulis bermutu. Kita bisa melihat jelas, gerak maju Internet bukan lagi ke arah teknologi, tetapi sudah mulai dipengaruhi secara mendasar oleh content. Saya setuju dengan Tim O'Reilly yang menulis, bahwa hal utama dalam Web 2.0 adalah munculnya intelensia kolektif, dan mengubah Web menjadi otak global.

Apakah dengan demikian Web 2.0 sudah membuat Internet tempat yang paling demokratis, dan merupakan Utopia bagi mereka yang memimpikan kebebasan berpikir dan mengemukakan pendapat? Jawabnya sama sekali tidak. Saya akan menulis soal ini dalam tulisan lain nanti.





Last Revised:Jan 9, 2006
Copyright © 2006 socineer.com
Lihat: Salin Ulang & Redistribusi