O Soul, Where Art Thou?
www.socineer.com


Tulisan ini adalah kelanjutan dari Exist atau Persist?.

Gelombang di telaga persist. Kita bisa melihat bahwa bentuknya terbuat dari air. Air cuma media dimana gelombang tersebut menjalar. Gelombang yang sama, juga menjalar di udara, atau pada benang, dsb. Ketika kita memetik tali gitar, terjadi gelombang. Gelombang itu bukan tali gitarnya. Dan ketika berhubungan dengan udara sekitarnya, gelombang itu menjalar keluar dari gitar sampai ke telinga pendengar. Gelombang yang sama masuk ke telinga, dan berubah jadi sinyal-sinyal electris syaraf, dan dikirim ke pusat kesadaran kita, otak. Gelombang itu sama sekali berbeda dengan semua media yang dia lalui. Gelombang bisa pindah-pindah media. Seorang penyiar radio di London, menciptakan gelombang dengan pita suara kerongkongannya, dan gelombang itu melalui berbagai media, sebelum tiba di telinga seorang pendengar di Surabaya. Dan gelombang itu persist hanya pada saat tertentu. Sesudah saat itu lewat, suarapun hilang, kecuali gelombang itu direkam, dan tinggal dalam bentuk rekaman.

Demikian juga makluk hidup. Jika kita melihat dalam jangka waktu yang lebih panjang, materi pembentuk makluk hidup itu berfluktuasi. Atom oksigen, karbon, atau hidrogen pembentuk makluk hidup, selalu berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Atom-atom pembentuk wajah kita berasal dari segala jenis makanan kita, daun, daging, buah. Dan sebelumnya mereka merupakan bagian tumbuhan lain, dan sebelumnya bisa merupakan bagian dari makluk lain lagi. Jika diurut terus ke waktu silam, dulunya atom-atom pembentuk wajah kita bisa jadi jugalah yang membentuk dinosaurus, T-Rex, Homo erectus, atau bakteri-bakteri, dan atau jenis-jenis kehidupan lain.

Kita bisa mengerti, bahwa materi-materi pembentuk kehidupan di bumi ini sedari dulu cuma bergeser dari satu bentuk ke bentuk lain, persis seperti udara yang merupakan media gelombang suara. Udara yang sama mengantarkan suara saya, suara radio, suara kendaraan di jalan. Materi dalam badan semua exist dalam dan sebagai fluktuasi, sebagai arus kontinyu dari satu bentuk ke bentuk lain. Kita semua ini seperti gelombang. Bentuk badan kita ini hanya persist pada jangka waktu singkat. Dan bahkan pada waktu yang singkat itu, banyak sekali berfluktuasi. Banyak yang kita buang setiap hari, sel-sel darah hanya bertahan sebentar saja, helai-helai rambut berjatuhan, sel-sel tubuh kita selalu berkecenderungan meninggalkan badan kita. Kita mempertahankan keberadaan kita dengan mengganti kehilangan tersebut dengan memasukkan materi lain dari lingkungan lewat makanan.

Semua benda yang kita lihat saat ini, hanyalah bentuk sesaat. Cepat atau lambat semua akan berubah. Persistence itu labil dan mudah hilang. Ketika seorang arkeolog menemukan artifak bersejarah dari jaman dulu, dia kegirangan karena masih ada sedikit "memori" yang tersisa dari persistence tempo dulu. Karena itulah benda-benda bersejarah bernilai tinggi, disimpan di museum dan dijaga ketat. Manusia berusaha mempertahankan memori sepanjang mungkin, tetapi itupun cuma masalah waktu saja, suatu saat semua hilang oleh satu sebab atau lainnya.

Jadi apa yang bertahan? Yang bertahan adalah informasi. Seperti suara, akan hilang cepat, kecuali informasi suara itu direkam. Suara para penyanyi Beatles sampai sekarang masih bertahan, dan kelihatannya tidak akan punah dalam waktu singkat karena musik tersebut disalin terus menerus dan disimpan dalam jutaan tempat. Walaupun satu makluk hidup akan cepat mati dan materi pembentuknya akan berubah jadi bentuk lain lagi, tetapi informasi tentang makluk hidup itu bertahan dalam keturunannya. Informasi inilah yang diteruskan dari waktu ke waktu. Dalam hal ini kita bisa melihat informasi seperti energy gelombang. Gelombang dengan cepat berpropagasi (menjalar) ke tempat lain. Yang menjalar itu bukan materi, tetapi energi. Dan pola energi itu adalah informasi. Informasi mampu menjalar dari satu entity ke entity lain, dari satu tempat ke tempat lain.

Dalam terang paradigma ini, hardware (perangkat keras) tidak lagi mempunyai relevansi. We are all software, all of the living things in the world are software. Kita semua adalah perangkat lunak. Perangkat keras (yaitu badan kita) hanya diperlukan supaya software dalam diri kita bisa hidup dan berkembang. Software membutuhkan hardware hanya untuk terlihat(appear), untuk memperlihatkan bentuk (bahasa Yunani: phainein --> pheno). Jadi bentuk kita semua ini adalah phenomenon (yang terlihat). Bentuk kita ini adalah phenomenon atas software kita.

Ada seseorang memandang patung pualam indah yang bernilai tinggi di museum. Dia bergumam, saya tidak habis pikir kenapa harga patung ini sedemikian tinggi, padahal ini hanya batu yang dikikis bagian luarnya. Dia menyamakan patung itu dengan batu! Sudah tentu ini keliru. Essensi patung itu bukan materinya, tetapi bentuknya. Bentuknya itu software, yang sebelum menjadi bentuk hanya ada dalam imaginasi sang pengukir. Batu itu adalah media penyimpan buah imaginasi sang pengukir itu. Saat ini, patung itu dibuat saliannnya dalam bentuk lebih kecil, dan dijual ratusan ribu buah dari bahan plastik. Software itu mengalir, dari satu materi ke materi lain.

Lalu dimana sebenarnya letak software dari manusia?

Manusia jaman dulu mencoba untuk mengerti soal ini dengan memperkenalkan ide tentang roh, bahwa setiap makluk hidup punya roh. Lalu manusia menganggap roh khusus yang dinamakan jiwa (soul). Jika badan manusia mati, roh-nya meninggalkan badan.

Apapun namanya, jiwa, soul, spirit, psyche, hun, blueprint, manusia selalu mempertanyakan ulang tentang siapakah dia. Orang Tionghoa dulu punya penjelasan yang rumit sekali soal jenis dan mekanisme soul ini. Orang Jahudi dan beberapa budaya jaman dulu bilang itu Nafas Tuhan. Dalam terang pengetahuan dan paradigma saat ini, sudah tentu banyak yang ingin bertanya lebih jauh.. Apa itu sebenarnya JIWA?

O Soul, Where Art Thou?



Last Revised:Jan 10, 2006
Copyright © 2006 socineer.com
Lihat: Salin Ulang & Redistribusi