Exist Atau Persist?
www.socineer.com


Kecuali para filsuf yang 'kurang kerjaan', umumnya seseorang tidak banyak mempertanyakan keberadaan dirinya. Saya bernafas, saya makan, saya berjalan, dan maka dari itu saya pasti ada, titik. Benar sekali, dan saya juga setuju dengan cara berpikir praktis ini. Terlalu banyak hal yang lebih mendesak untuk mendapat perhatian daripada sekedar meragukan keberadaan diri. Tulisan ini hanyalah sekedar refleksi untuk hiburan belaka. Jangan dianggap serius.

Dengan pengetahuan manusia kontemporer, cukup banyak asumsi-asumsi keberadaan manusia yang harus dirombak ulang. Salah satunya adalah asumsi bahwa kita semua ini benar-benar "ada". Okay, saya juga yakin saya benar-benar "ada", kalau tidak saya tidak akan bisa menulis essay ini. Tetapi, apa yang disebut "ada" atau "being"? Wah, itu pernyataan filosofis, apa ada gunanya dipertanyakan? Dulu filsafat adalah basis pengetahuan. Ketika pengetahuan alam dan teknologi mulai berkembang pesat, terlihat manusia mulai melepas diri dari filsafat, melepaskan metafisika demi fisika. Tetapi dengan semakin mendalamnya pengetahuan manusia, saat ini sudah mulai baur mana yang filosofis mana yang pengetahuan, karena fisika sudah berkembang mendekati bidang metafisika.

Umumnya orang melihat "ada" itu secara statis. Sesuatu barang itu dikatakan eksis ketika memang terlihat "ada". Contoh, ada penghapus pensil terletak di atas meja. Kita tidak meragukan keberadaan dari penghapus itu karena kita melihat sendiri. Tetapi, bukankah itu semua cuma persepsi dari indera kita? Filsafat dulu juga mempertanyakan hal ini. Bagaimana seseorang yakin sesuatu "ada", kalau semua yang dia ketahui adalah persepsi belaka? Untuk jelasnya, maka "ada" diganti dengan istilah "phenomenon", karena yang jelas-jelas terlihat itu adalah apa yang terlihat ada secara persepsi. Tetapi, apakah persepsi itu absolut?, tanya filosopher jaman dulu.

Sekarang kita sudah tahu, bahwa persepsi tidak absolut. Indera bisa menipu, dan bahkan otak kita bisa menipu dengan melahirkan visi seakan-akan ada phenomenon di lingkungan kita padahal itu semua hanya terjadi di sel-sel syaraf. Karena apa yang kita ketahui hanya berasal dari gambaran yang muncul dari otak. Jika teknologi untuk memanipulasi kerja otak sudah berkembang, kita pada dasarnya tidak perlu lagi travel jauh-jauh untuk melihat Yunani misalnya. Cukup syaraf dirangsang sehingga melahirkan citra pemandangan Yunani secara realistik dalam otak, pada dasarnya kita tidak akan bisa membedakan mana Yunani yang benaran seperti ketika kita berdiri di Acropolis, atau citra Acropolis buatan, apalagi bau, sensasi kulit, pendengaran, dan sensasi-sensasi lain bisa diciptakan secara artificial.

"Tapi kan ada persepsi yang tidak artificial". Yap, seperti orang New York semua bisa melihat patung Liberty, tak mungkin persepsi semua orang New York semua tertipu. Patung Liberty dikatakan eksis kalau bisa dipersepsi oleh banyak orang (kecuali pada waktu David Copperfield menghilangkan patung itu untuk beberapa saat). Memang diperlu manusia lain untuk bisa meyakinkan diri seseorang. Seperti John Nash yang melihat rekan-rekan imajinernya tanpa bisa membedakan dengan karakter realistik (lihat film The Beautiful Mind). Belakangan ini, pengarang Amerika terkemuka, Amy Tan, menderita penyakit yang merancukan persepsinya, sehingga dia melihat orang yang sebenarnya tidak ada di tempat. Jadi kalau sesuatu dipersepsi oleh banyak orang, apakah itu nyata? Tidak, kata philosopher, walaupun dipersepsi oleh banyak orang, itu bolehlah dikatakan sebagai persepsi kolektif, dan tetap tidak berhenti sebagai persepsi, karena selama kita tidak mendapatkan sesuatu yang nyata, semua hanya persepsi. Sudah tentu pandangan ini membingungkan, tetapi coba kita renungkan soal di bawah ini.

Persistence

Van Dusen Lake

Coba lemparkan batu ke telaga yang tenang. Akan terjadi gelombang air yang pelan-pelan merambat menuju ke segala arah, seperti yang saya lakukan pada telaga pada gambar di samping. Kita namakan gelombang itu persist, bukan exist. Ada konotasi berbeda antara existence dan persistence. Kita memandang existence lebih secara statis, sedangkan persistence lebih secara dinamis. Persistence kira-kira berkonotasi continue to exist, atau terus menerus eksis.

Dimanakah benda yang namanya gelombang? Kita menunjuk ke arah air telaga. Gelombang itu pada dasarnya phenomenon sesaat, dimana air naik turun secara teratur dan membentuk persepsi bentuk bulat merambat. Tetapi tidak ada benda statis yang namanya gelombang. Yang kita tunjuk itu cuma air. Dan sesaat kemudian, ketika air sudah mulai tenang lagi, gelombangpun hilang. Jadi gelombang itu persist ketika batu mencapai air dan mengganggu ketenangan air, dan ketika air tenang kembali, gelombangpun hilang. Persistence gelombang itu ada dalam ruang waktu yang sempit. Persistence tidak ada terus menerus. Phenomenon seperti gelombang itu kita anggap nyata, padahal kita tahu tidak ada materi khusus yang disebut gelombang.

Untuk batu, kemungkinan kita yakin sebuah batu ada materinya. Dan kita anggap bahwa dengan demikian batu itu exist, tidak sekedar persist secara temporer. Keyakinan itu bisa salah juga jika dilihat dalam jangka waktu yang lebih lama, jutaan tahun lalu, batu itu bisa jadi belum menjadi batu. Kita tidak lagi bisa yakin dalam hal itu. Semua yang kita anggap "materi" terdiri dari atom, dan dengan berkembangnya fisika quantum membuat semua menjadi lebih nyelimet. Tidak ada yang tahu persis apa itu proton, neutron, maupun electron yang membentuk atom. Sekarang diasumsikan mereka terdiri dari quarks berbagai tipe, sesuatu yang lebih abstrak lagi, jelas bukan digambarkan seperti materi kelereng, tetapi dari gaya-gaya yang terlibat.

O, Anda bisa membantah, tapi kan materi punya massa, punya berat, jadi pasti eksis bukan? Massa itu adalah sesuatu yang relatif, massa dan energi bisa saling dipertukarkan. Massa bisa habis menjadi energi, dan massa bisa tercipta dari energi. Akhirnya kita hanya bisa yakin apa yang terlihat oleh kita, yaitu phenomenon. Bahwa air itu punya karakteristik tersendiri, karena interaksi gaya-gaya antara atom-atom, dan antar molekul-molekul air membuat air terlihat seperti itu, itu cuma phenomenon sesaat. Bahwa atom-atom dan molekul-molekul bisa berinteraksi itu juga phenomenon lain lagi yang lebih mendasar. Bahwa kita tidak bisa menubruk melewati dinding rumah kita karena baik badan maupun dinding adalah benda padat, adalah phenomenon secara makro. Secara mikro, kita semua sebagian besar terdiri dari ruang hampa, demikian juga dinding rumah. Dan bahwa kita tidak bisa menubruk masuk itu disebabkan ada gaya yang bekerja secara mikroskopis yang menahan kita, persis seperti besi magnet saling tarik atau saling tolak. Gaya bekerja secara dinamis dalam sebuah arus kontinyu. Kita tidak bisa melihat sebagai sesuatu yang statis. Ada sebuah monitor di atas meja, dan monitor itu tak bergerak, dan biasanya dianggap statis. Tetapi sebenarnya, secara terus menerus bekerja gaya antara monitor ini dan bumi sehingga monitor itu diam di tempat.

Ketimbang exist, kita semua persist. Semua atom-atom pembentuk badan kita dulu persist sebagai bagian dari tanah, diisap oleh rumput, lalu persist sebagai bagian dari daun, dan ketika dimakan oleh sapi, persist sebagai bagian dari sapi, dan sekarang persist menjadi bagian dari tubuh kita. Bahwa kemudian semuanya bekerja sama dan memberikan kesadaran pada diri kita, bukan disebabkan oleh atom-atom itu, tetapi bagaimana interaksi yang terjadi di antara mereka. Dan kita semua persist hanya pada jangkauan suhu dan waktu yang sempit. Pada suhu 1000°C, sebagian besar badan kita menguap menjadi gas. Dan 100 tahun kemudian kita semua ada di tempat lain, menjadi bagian dari rumput dan kupu-kupu. Kita persist, rumput persist, batu persist, semuanya cuma phenomenon sesaat, seperti gelombang telaga di atas.

Gelombang telaga mempunyai bentuk, cuma bisa bertahan beberapa detik sebelum air telaga tenang kembali. Badan manusia mempunyai bentuk, cuma bisa bertahan beberapa puluh tahun, sebelum semua kembali jadi debu tanah. Kita semua adalah phenomenon temporal. Setiap atom dalam diri kita pernah menjadi bagian dari benda atau kehidupan lain.

Lalu apa arti persistence manusia? Dan bagaimana kesadaran diri hadir? Bahasan selanjutnya ada di O Soul, Where Art Thou?.



Last Revised:Jan 10, 2006
Copyright © 2006 socineer.com
Lihat: Salin Ulang & Redistribusi