Usaha Reformasi Akhir Dinasti Qing
www.socineer.com


China dan Jepang adalah dua negara bertetangga yang punya hubungan sejarah dalam jangka waktu lama. Pada paruh kedua abad-19, kedua negara terjerumus parah tak berdaya dalam hegemoni kekuasaan negara-negara Barat yang bersaing menanamkan pengaruh di Asia. Jepang membalikkan arah kemunduran tersebut dengan Restorasi Meiji yang terkenal. Sebelum Restorasi Meiji yang dimulai kira-kira sekitar tahun 1868, kondisi di Jepang itu lebih parah daripada China. China itu sebelumnya adalah negara kaya yang sedang mengalami pembusukan pelan-pelan, dan mengalami percepatan kemunduran pada abad ke-19. Jepang memang dari dulu tidak pernah benar-benar kaya. Restorasi Meiji pada dasarnya adalah sebuah revolusi, berjalan kira-kira 10 tahun, sebelum keadaan menjadi stabil lagi dan sejak itu Jepang melonjak naik menjadi salah satu negara kuat dunia.

Butir-butir utama Restorasi Meiji

Burtir-butir yang direformasi itu adalah budaya. Budaya Jepang sebelum itu adalah pemerintahan totaliter ala shogun (penguasa militer) dengan para samurai menjadi ujung tombak kestabilan dan kekuatan penguasa. Butir pertama adalah bahwa semua hal-hal yang menyangkut kepentingan publik harus diselesaikan dengan diskusi publik, dan perlu dibentuk institusi untuk itu. Dengan klausal ini dibentuk Parlemen pertama di Jepang.

Butir kedua adalah, semua kelas-kelas dalam masyarakat bekerja sama dalam administrasi pemerintahan. Pada butir ketiga, kelas rakyat kawula, harus diperbolehkan untuk mewujudkan ambisi dan cita-cita mereka. Butir-butir ini jauh lebih radikal daripada butir pertama, karena menyangkut pemberdayaan rakyat kawula. Itu seperti yang tercantum dalam konstitusi Amerika, bahwa adalah hak rakyat untuk mengejar kebahagiaan dirinya (to pursuit the happiness). Ini adalah demokratisasi, dan penghapusan kelas-kelas di masyarakat yang semula sangat rigid dalam era rejim Tokugawa. Dalam era shogunate, kelas militer (samurai) mendapat kekuasaan hampir tak terbatas, dan bisa bertindak semena-mena pada kelas bawah.

Butir keempat adalah, adat-adat yang tidak baik, kepercayaan-kepercayaan yang merugikan itu dibuang. Hukum alam dipentingkan sebagai cara untuk mengerti. Ketika terjadi musibah alam, kepercayaan rakyat dulu bahwa musibah itu disebabkan oleh kekuatan gaib. Dengan reformasi ini, cara berpikir lama diubah. Coba periksa hukum alam apa yang membuat musibah itu datang. Misalnya, belalang datang karena kemarau panjang, atau karena gangguan pada ekologi, dsb.

Butir kelima adalah, ilmu pengetahuan harus dicari dari seluruh dunia untuk memperkuat fondasi negara. Inilah yang menyebabkan arus keluarnya kaum muda Jepang ke seluruh dunia untuk belajar, dan dalam waktu singkat kembali ke Jepang untuk memperkuat fondasi negara dengan ide-ide baru. Mereka terbuka terhadap ide-ide baru dan menerapkannya.

Pada waktu era Restorasi Meiji ekonomi Jepang dalam keadaan parah, perdagangan expor dan impor dipegang hampir seluruhnya ada di tangan Inggris dan Amerika. Setelah Restorasi, keadaan ini pelan-pelan membalik. Pada tahun 1880, 10% perdagangan dipegang oleh Jepang, tahun 1890 naik jadi 20%, dan tahun 1900, 40% dipegang oleh orang Jepang.

Disini kita lihat kesuksesan Jepang dalam meraih kembali ekonomi yang dikuasai oleh negara asing (hal yang sama juga dialami China pada waktu itu). Mereka meraih kesuksesan itu bukan dengan melampiaskan kekesalan pada negara-negara asing, tetapi dengan pelan-pelan membangun fondasi kekuatan negara dengan cara merombak masyarakat.

Usaha Reformasi di China pada Akhir Qing

Selama ribuan tahun, orang China melihat Jepang sebagai negara kecil dan China sebagai negara besar dan kaya. China adalah sentral kekuasaan politik di regional Asia Timur. Pada akhir abad ke-19, terjadi perang modern antara Jepang - China memperebutkan pengaruh di Korea. Pada saat itu, Korea dianggap wilayah pengaruh China. Dengan menguatnya kekuatan militer, Jepang menginginkan pengaruh regional yang lebih besar, dan mencari kesempatan untuk melakukan invasi. Kesempatan itu datang ketika China mengirimkan tentara ke Korea atas permintaan penguasa Korea. Jepang membentuk pemerintah baru di Korea dan mulailah ketegangan yang memuncak menjadi perang. China dengan mudah dikalahkan tentara modern Jepang di Korea, dan harus menyerahkan sebagian wilayah Manchuria dan pulau Taiwan ke Jepang.

Kang Yuwei

Sesudah China dikalahkan oleh Jepang, ada seorang intelektual China, Kang Yuwei, bepergian naik kapal. Dan waktu dikapal, satu kelompok tentara Jepang masuk dan melakukan penggeledahan dengan semena-mena. Emosi Kang Yuwei yang merasa direndahkan terbakar oleh peristiwa itu. Tetapi dia intelektual, dan dia tahu bahwa emosi semata tidak bisa menyelesaikan masalah. Ada satu hal yang menggelitiknya, kenapa Jepang bisa tiba-tiba kuat seperti itu. Dia mempelajari model reformasi dari sejarah-sejarah Eropa dan Jepang. Dia memang kesal dengan kelakuan negara-negara Eropa dan Jepang, tetapi dia berpendirian, bahwa supaya negarinya bisa maju, China harus berubah. Sama seperti Jepang yang berubah ketika menemukan negara mereka di bawah pengaruh Barat.

Kang Yuwei mengajukan beberapa butir untuk mereformasi China. Butir-butir itu lebih rinci daripada butir-butir Restorasi Meiji, didasarkan atas pemikirannya yang reformis. Dia sebelumnya juga mengarang beberapa buku yang mengajukan pokok-pokok reformasi dalam ajaran Confucius. Menurutnya faham Confucius yang ada pada saat itu adalah hasil interpretasi yang salah oleh Liu Shin yang hidup pada era Dinasty Han. Confucius itu menurutnya adalah reformis yang demokratis.

Kang Yuwei itu sendiri adalah seorang intelektual filsafat Confucianism. Kesukaran reformasi di China pada waktu adalah, sampai level grass-root China dijalankan oleh kelas para Mandarin. Mereka adalah intelektual yang sudah mengakar dalam. Jepang sebelum Restorasi Meiji tidak mempunyai tradisi intektual birokrat seperti China ini, dan sebagai ganti kelas para intelektual Mandarin, adalah kelas militer para samurai. Para samurai ini mudah untuk dikendalikan ketika ada perintah dari atasannya. Dengan demikian hambatan untuk Restorasi Meiji itu relatif sangat minim dibandingkan dengan reformasi di China. Di China, ide reformasi harus dijual dulu kepada ratusan ribu para Mandarin sampai level grass-root. Inilah susahnya reformasi di China, karena sukar untuk mereformasi secara langsung, harus mereformasi isi kepala para Mandarin dulu.

Seperti Restorasi Meiji, butir-butir Reformasi di China yang diusulkan adalah:

Dengan meniru Jepang, Kang Yuwei berpendapat reformasi harus datang dari Kaisar, dari atas perintah untuk reformasi turun ke bawah. Kaisar Dinasti Qing waktu itu, Quangxu, setuju dengan Kang dan memberi mandat pada Kang untuk membentuk pemerintahan dan menjalankan reformasi. Quangxu itu masih muda dan bukan kaisar yang kuat, terus menerus harus menerima tekanan dari para senior dalam pemerintahan dan negara-negara Barat, dan juga dari Ibu Surinya. Tidak seperti di Jepang, sebagian besar elemen masyarakat China yang berpengaruh tidak suka terhadap perubahaan ini. Hanya sedikit yang idealis benar-benar mau menjalankan. Dan setelah mengumpulkan keluhan-keluhan dari seluruh lapisan masyarakat, Ibu Suri Yehonala (Ci Xi atau juga dikenal dengan Empress Dowager) mengadakan kudeta. Banyak para intelektual reformis dihukum mati. Kekuasaan dicopot dari Kaisar, dan Kang Yuwei lari mengungsi ke Jepang. Usaha reformasi itu cuma berusia 3 bulan, dinamakan Reformasi Seratus Hari.

Kang Yuwei sesudah itu hidup di luar China, berkelana ke mana-mana untuk menyebarkan faham reformasinya. Dia pernah juga singgah ke Indonesia yang waktu itu masih sebagai Hindia Belanda. Tetapi usahanya itu sia-sia, dan sebagian kaum muda China tidak lagi percaya dengan usaha reformasi. Menurut mereka, mengubah China harus Revolusi, bukan Reformasi. Bagaikan massa yang besar, yang sudah tertanam ribuan tahun, China sukar untuk berubah dan bergerak. Hanya revolusi yang bisa mengerakan naga raksasa yang setelah terlelap ini. Dan itulah yang terjadi di China. Revolusi terjadi di bawah Dr. Sun Yat Sen.



Last Revised:Jan 9, 2006
Copyright © 2006 socineer.com
Lihat: Salin Ulang & Redistribusi