Sosiologi Masyarakat Tionghoa
Menurut Fei Xiaotong
www.socineer.com


Fei Xiaotong

Fei Xiaotong adalah seorang sosiolog dan anthropolog, dianggap ilmuwan modern dalam bidang ilmu sosial pertama dari China. Xiangtu Zhongguo adalah karya yang dia tulis sebagai pengantar Sosiologi untuk dipergunakan di universitas-universitas di China, melihat sosiologi dari segi pengalaman masyarakat tionghoa (vis- a-vis dari segi Barat). Fei dibredel waktu Revolusi Kebudayaan, dan pada akhir tahun 70-an di rehabilitasi, dan menjadi presiden pertama dari Chinese Society of Sociology. Bukunya Xiangtu Zhongguo diterjemahkan dan diterbitkan oleh University of California di Berkeley dengan judul "From the Soil: The Foundations of Chinese Society: A Translation of Fei Xiaotong's Xiangtu".

Fei berusaha memahami masyarakat China dari segi chinese. Kalau di sosiologi model Barat, masyarakat bisa dilihat dari berbagai model, misalnya model organik (dimana masyarakat adalah terdiri dari komponen-komponen yang saling bekerja sama), atau model kompetitif ala Marxist (masyarakat adalah terdiri dari kelas-kelas yang saling berkompetisi), dan model-model lainnya. Fei melihat masyarakat China tidak menurut model-model yang ada dari tradisi intelektual Barat, tetapi dari pemahamannya dan pengalamannya sebagai seorang tionghoa itu sendiri.

Dia mencoba menerangkan perbedaan masyarakat Barat dengan China. Masyarakat Barat dia ibaratkan seperti jerami-jerami yang diikat dalam bundelan, yang kemudian diikat lagi dalam bundelan yang lebih besar. Jadi, masyarakat Barat dia lihat sebagai masyarakat yang berciri organisatoris, dimana organisasi-organisasi kemasyarakatan mengikat masyarakat dan membuat masyarakat bisa bersatu dan bekerja sama. Cara pandang yang hampir sama juga dilakukan oleh Francis Fukuyama. Masyarakat Amerika dan Jepang menurut Fukuyama punya daya kohesi yang kuat, seperti batu bata yang kemudian membentuk bangunan kokoh.

Masyarakat China, menurut Fei tidak dibentuk dengan model tersebut. Dia membuat analogi, bahwa masyarakat tionghoa itu seperti batu yang dilempar ke air, dan membentuk gelombang-gelombang dinamis. Setiap batu membentuk gelombang sendiri. Batu yang besar membuat gelombang besar, dan yang kecil gelombang kecil. Jika banyak batu masuk ke air, gelombang-gelombang itupun saling bertumpang tindih, tetapi tetap semua gelombang itu berpusat pada masing-masing batu tersebut.

Dia memberi contoh kota Suchow yang terdiri dari terusan-terusan air seperti kota Venesia di Italy. Bedanya, kota Suchow itu kotor dan Venesia bersih. Setiap orang di China membuang sampah ke dalam kali. Juga dia memperlihatkan, bahwa dibiarkan begitu saja, orang tionghoa itu cenderung jorok di tempat umum, misalnya di toilet-toilet umum. Kenapa? Karena toilet umum, jalan umum, kali umum itu adalah barang milik publik. Orang tionghoa menurutnya tidak punya sense of belonging dengan barang milik umum, karena masyarakat tionghoa tidak dibentuk untuk kompak seperti masyarakat Barat. Barang milik umum (kung-yung), adalah untuk dieksploitasi sebesar mungkin untuk kepentingan pribadi.

Lalu apa yang ada dalam lingkup concern orang tionghoa? Seperti batu yang dijatuhkan ke kolam dan membentuk lingkaran-lingkaran gelombang, orang tionghoa membentuk lingkaran-lingkaran hubungan antar manusia seperti itu. Yang berada di tengah adalah diri sendiri, lalu keluarga, dan seterusnya. Hubungan (quan-xie) itulah yang menjadi faktor utama apakah seseorang akan merasa concern terhadap sesuatu atau tidak. Seseorang yang punya kekuasaan besar, punya gelombang yang lebih besar dan meliputi lebih banyak orang. Konsep tjia / keluarga itu dinamis menurut konteksnya. Di perusahaan, orang kalau dianggap bagian dari keluarga, akan mendapat akses besar. Kita mungkin sering mendengar ungkapan, “jangan sungkan-sungkan, kita ini toh sudah satu keluarga.” Inilah ungkapan perluasan istilah “keluarga” ke hubungan sosial yang lebih luas. Hanya orang yang berada dalam lingkaran tjia itu yang dianggap dekat, tentunya kedekatan itu sesuai dengan konteks. Seseorang yang dianggap dekat itu dikatakan dianggap masuk dalam keluarga. Semakin besar kekuasaan seseorang, semakin besar lingkaran keluarganya, sehingga orang kuat punya yang namanya “keluarga besar.”

Fei dengan demikian memperlihatkan ciri egocentric dari masyarakat tionghoa. Zhong itu dengan demikian berada di tengah dari lingkaran quan-xie dari masyarakat tionghoa tersebut. Pandangan ini cenderung kompatibel dengan beberapa pendapat dalam bidang kultural lain, misalnya pengembangan arsitektur China sebagai habitat hidup. Orang tionghoa tradisional cenderung membeli rumah, lalu dengan bertambahnya jumlah anggota keluarga, rumah dimekarkan ke sekelilingnya. Semakin besar keluarga, semakin besar ruang lingkup habitat rumah tersebut, dan rumah pusat adalah tempat tinggal kepala keluarga.

Kalau menggabungkan model Fei ini dengan model Francis Fukujama, dimana dia menganalogikan masyarakat Amrik seperti batu bata, dan masyarakat Chinese seperti pasir di pantai, sangat menarik. Orang Chinese cenderung egocentric, karena itu, perusahaan-perusahyaan bisnis orang tionghoa sukar untuk bertahan lebih dari tiga generasi, karena sumber pengikatnya hilang. Perusahaan-perusahaan orang Amerika bisa bertahan lama, karena waktu pendirinya sudah tiada, masyarakat mengambil alih dengan kekompakan organisatoris. Ini membuat perusahaan-perusahaan Amerika bisa mekar menjadi perusahaan-perusahaan raksasa, sedangkan perusahaan-perusahaan orang tionghoa itu cenderung menjadi bisnis kecil tetapi kuantitasnya banyak. Orang tionghoa juga cenderung untuk keluar dari perusahaan induk untuk membentuk perusahaan kecil sendiri (spin-off). Dalam bahasa model Fei, ada kecenderungan batu-batu kecil untuk berusaha membentuk gelombang sendiri dibanding dengan bersatu dengan batu besar untuk membentuk gelombang lebih besar.

Fei Xiaotong, anthropolog dan sosiolog yang banyak membuka mata orang tionghoa terhadap dirinya sendiri, meninggal pada umur 94 tahun 24 April 2005 yang lalu. Orbituarinya ditulis dimana-mana di seluruh dunia sebagai penghargaan padanya. Salah satunya yang ditulis The Guardian di England, bisa dibaca di: Fei Xiaotong, Anthropologist and reformer.



Last Revised:Jan 11, 2006
Copyright © 2006 socineer.com
Lihat: Salin Ulang & Redistribusi