Hormat dan Hargai Huruf Tertulis
www.socineer.com


Jingxi Zizhi, Hormat dan Hargai Huruf Tertulis. Slogan ini menandakan tingginya penghargaan orang tionghoa terhadap kebudayaan dan intelektualisme. Ada sebuah kisah yang diceritakan Adeline Yen Mah —seorang penulis yang sekarang juga hidup di California— tentang masa kanak-kanak kakeknya di Shanghai. Adeline Yen Mah berasal dari keluarga terkemuka di Shanghai, dan mendapat dididik di institusi pendidikan yang dikelola missionaris di Shanghai, dan kemudian melanjutkan pendidikannya dalam bidang kedokteran di England. Dia terkenal karena buku yang menceritakan kisah hidupnya di China, Falling Leaves. Bersama dengan beberapa penulis keturunan tionghoa, mereka menciptakan genre baru dalam kaleidoskop sastra Amerika dan memperkenalkan budaya Asia di Amerika dengan cara yang akrab. Beberapa buku dari pengarang-pengarang ini digunakan di sekolah menengah dan universitas sebagai buku wajib untuk dibaca.

Kakek Adeline, yang dia panggil Ye Ye (yang artinya engkong), menceritakan semasa mudanya, pada jalan-jalan utama di Shanghai dia melihat banyak kotak merah. Setiap kotak bertuliskan Jingxi Zizhi, hormati dan hargai huruf tertulis. Para pekerja dengan tongkat bambu berjalan di jalan-jalan memunguti kertas-kertas yang berisikan huruf (dan dikumpulkan di kotak-kotak tersebut). Pada waktu-waktu tertentu, isi kotak merah itu dibakar di altar khusus dalam Kuil Confucius. Upacara pembakaran kertas bertulisan itu berlangsung dengan khidmat, mirip Misa perayaan khusus di gereja katedral, dengan diiringi musik dan pembakaran hio. Hanya mereka para sarjana yang sudah lulus dari Ujian Imperial boleh mengikuti upacara tersebut. Mereka akan membungkuk memuja dan berdoa ke Langit sampai semua kertas terbakar habis. Seusainya waktu keluar, mereka memperlihatkan lagi rasa hormat dengan memberikan donasi pada sebuah kotak merah terpisah, yang bertuliskan Yizi Qianjing, Satu Huruf Seribu Emas.

Pada waktu kakek Adeline masih muda di kota Shanghai, yaitu pada paruh kedua abad ke-19, memang dokumen tertulis masih dianggap sebagian kalangan sebagai barang sakral di China, walaupun kenyataan bahwa sebagian membuang kertas tertulis yang harus dipungut oleh para pekerja menandakan bahwa penghargaan terhadap huruf ini tidak dilakukan oleh semua orang disana. Tetapi apa yang dilakukan oleh para sarjana Confucius itu mempunyai arti mendalam, bahwa huruf adalah tonggak peradaban manusia dan tidak bisa dianggap enteng, bahwa penghargaan terhadap huruf tertulis itu menandakan penghargaan terhadap sejarah keberadaan manusia tionghoa itu sendiri, mereka menghargai huruf dan sikap intelektualisme yang diturunkan oleh moyang mereka.

Dalam abad ke-21 ini, penghormatan semacam itu mungkin tidak lagi terlihat relevan. Huruf sudah bukan lagi barang langka, dan pada jaringan Web terdapat huruf dalam jumlah yang tak terhitung. Tetapi inti dari sikap para sarjana Confucius waktu itu selalu relevan untuk semua waktu, yaitu penghargaan terhadap hasil-hasil kebudayaan dan peradaban. Ini adalah pengakuan mendasar, bahwa manusia itu bukan hanya terdiri dari badan fisik. Inti dari kemanusiaan terletak diluar bentuk fisik manusia, yaitu ada pada budaya, pada pemikiran, pada peradaban. Tanpa semua itu, manusia akan mengalami degradasi menjadi makhluk yang mengais-ngais makanan dan mencari kenikmatan belaka tanpa arti.

Berlainan dengan anggapan umum, masyarakat tionghoa sebenarnya bukan masyarakat yang monolith (yang homogen) sedari dulu. China pada jaman dahulu adalah terdiri dari berbagai bangsa, dengan berbagai budaya dan bahasa, dengan berbagai jenis tulisan. Bahwa sekarang terlihat agak homogen, itu disebabkan proses sejarah ribuan tahun. Dalam sejarah, terdapat kisah-kisah heroik mereka-mereka yang menolak untuk dipersatukan1. Dan sampai saat inipun, walaupun sudah ribuan tahun bernaung dalam satu negara, ada saja yang tetap mempertahankan jati-diri sub-etnis, dan itu bukan hal yang buruk.

Setelah dipersatukan, muncullah beberapa kali perdamaian dan kemakmuran menyeluruh di China. Dalam kurun waktu yang panjang, China adalah negara terkaya dan paling maju di seluruh dunia. Beberapa dinasti yang masing-masing bertahan ratusan tahun, budaya, seni, dan ekonomi berkembang pesat. Masa-masa itu dinamakan Pax Sinica. Jaman-jaman keemasan China tidak ditandai dengan sikap ekslusif mempertahankan identitas kuno, tetapi kita lihat di jaman-jaman tersebut, kebudayaan berkembang jestru dengan diperkenalkannya budaya-budaya baru, baik dari tempat lain, maupun hasil pengembangan sendiri.

Dengan demikian, sikap menghargai budaya di China pada jaman keemasan Sinica, dicapai dengan keterbukaan terhadap budaya-budaya lain. Pada jaman Tang, budaya dari asal India lewat agama Buddha berkembang pesat. Jalan sutera juga membawa budaya-budaya dari tempat-tempat jauh. Orang tionghoa yang pertama berkelana sampai Eropa malah terjadi pada jauh sebelumnya, yaitu pada jaman Dinasti Han. Sikap menghargai budaya dengan ini sama sekali berlainan dengan sikap eksklusivisme budaya, tetapi malah sebaliknya.

Penghargaan budaya pertama-tama bisa dicapai dengan mengenal diri sendiri dan menghargai budaya sendiri. Budaya sendiri disini berarti, budaya yang didapat sejak kecil, atau dari orang tua atau leluhur lainnya. Penghargaan itu bisa dicapai dengan mempelajarinya. Tetapi usaha penghargaan terhadap budaya tidak hanya sampai disana. Dalam jaman dimana dunia sudah menjadi satu ini, kita semua terekspos terhadap hampir semua budaya dunia. Seseorang yang tidak menghargai budaya bangsa dan masyarakat lain sukar untuk dikatakan sebagai berbudaya. Menghargai budaya itu berbeda dengan mengikuti salah satu elemen budaya secara mentah-mentah tanpa pernah dipikirkan. Budaya itu adalah buah pemikiran, dan harus dinikmati dengan pemikiran. Jika Anda memakan hamburger, itu tidak berarti Anda sudah menghargai budaya Amerika, melainkan Anda cuma sedang makan makanan Amerika. Makanan itu untuk dimakan, pakaian itu untuk dikenakan, lagu untuk didengar, dan budaya untuk dipikir dan direnungkan. Budaya tidak bisa dinikmati tanpa refleksi.

Adeline Yen Mah, akhirnya benar-benar menghargai budaya tionghoa, jestru ketika dia ada di Eropa, ketika dia bertemu dengan budaya-budaya dan pemikiran lain, dia mulai merefleksikan, membuat komparasi, dan dari sana muncul kekaguman yang mendalam pada budaya tempat dia berasal. Bukan berarti dia menolak budaya Barat, tetapi dia menggabungkan keduanya membuatnya unik dengan jati diri baru. Dari orang-orang seperti dialah, terjadi pertemuan budaya dari budaya-budaya besar dunia. Dia adalah translator budaya tionghoa untuk masyarakat Barat, dan menjadi salah satu juru bicara dari peradaban tionghoa.

Dengan menghargai karya-karya tulis, menghargai budaya-budaya tinggi yang membentuk masyarakat maju dunia ini, dengan mulai membaca karya-karya budaya, seseorang menjadikan diri sebagai titik silang kebudayaan dan peradaban manusia.



  1. Dalam film Zhang Yimou, Hero, dipertunjukkan bagaimana para pembela negara Zhao menolak penyatuan tulisan karena mereka bangga dengan jati diri sebagai orang Zhao. Mereka bertekad menulis kaligrafi di bawah serangan pasukan Qin. Kaisar Shi Huangdi berhasil mengalahkan semua negara-negara saingan dan memperkenalkan satu tulisan untuk seluruh China.


Last Revised:Jan 14, 2006
Copyright © 2006 socineer.com
Lihat: Salin Ulang & Redistribusi