Sesal Seorang Mantan Presiden
www.socineer.com


Bani-Sadr

Abol-Hassan Bani-Sadr termenung di pengasingannya di Paris. Bani-Sadr adalah penasehat utama Ayatollah Khomeini dalam merencanakan Revolusi Islam di Iran, dan kemudian menjadi Presiden Republik Islam Iran sesudah Mehdi Bazargan terdepak. Dia mencoba menjalankan pembangunan di Iran tanpa hasil, dan sebelum dia digantung oleh para milisia radikal, dia harus melarikan diri keluar dari Iran. Apa yang salah? Kenapa keadaan bisa menjadi seperti ini?

Sebelum revolusi, Iran adalah negara monarki dengan kekuasaan Shah Iran yang besar. Shah Muhammad Reza Pahlevi, mewarisi kekuasaan dari bapaknya, Colonel Reza Shah, yang menjadi Shah pada tahun 1926. Colonel Reza Shah adalah adalah komandan dari Brigade Kossak. Kossak (Cossack) adalah tentara yang berasal dari milisia preman yang dikenal di Eropa Timur dan Turki. Kata Kossak berasal dari kata Turki, yang berarti petualang atau freeman. Milisia Kossak terkenal dengan keandalannya, mereka memang berjiwa petualang dan banyak yang juga menjadi tentara bayaran. Tidak heran, bahwa kemudian Reza Shah, dan kemudian juga anaknya, Muhammad Reza, mempertahankan kekuasaan lewat militer (bandingkan dengan Soeharto, anak desa yang dilatih menjadi tentara, fasih sekali dengan cara-cara ala militer dalam mempertahankan kekuasaan).

Shah Reza mewarisi tahta Iran pada waktu Perang Dunia II. Dia melancarkan modernisasi di Iran, dan dalam waktu tak begitu lama, Iran menjadi negara modern, dan merupakan negara besar paling maju di Timur Tengah. Salah sekali membandingkan Iran dengan Afghan (juga mempunyai pengalaman dengan rejim Sunni Taliban yang lebih parah daripada rejim di Iran), yang memang dari dulu belum pernah menjadi negara modern. Iran pada tahun 60an, menjadi negara modern, jauh lebih maju daripada Indonesia pada saat itu. Salah satu akibat kemajuan Iran adalah, lahirnya masyarakat kelas menengah dan intelektual di Iran, dan dengan demikian, lahir juga pemikiran-pemikiran maju dan liberal di Iran. Bagaimana negara yang cukup maju seperti Iran ini bisa terjerumus dalam sebuah kekalutan yang menyeret Iran mundur seperti itu?

Masalah terbesar pada rejim Shah adalah, rejim ini menginginkan kemajuan fisik, tetapi tidak ingin ada proses demokratisasi di sana. Kelompok yang paling menguasai masyarakat adalah kelompok tentara, komandan-komandan tentara menjadi kelompok elite dalam masyarakat. Shah mengandalkan mereka sebagai tulang punggung stabilitas dan mengandalkan mereka untuk menghancurkan setiap lawan-lawan politiknya. Kelompok-kelompok oposisi utama adalah Partai Tudeh yang beraliran Marxist, para intelektual liberal di kota-kota besar, dan para mullah yang berdiam terutama di pelosok Iran. Kelompok-kelompok oposisi ini dibuat tidak berdaya oleh SAVAK, polisi rahasia rejim Shah, yang menggunakan penangkapan dan penyiksaan untuk mencapai tujuannya. Tetapi jestru karena kekejaman itu, kelompok-kelompok oposisi semakin kuat.

Kekuatan kelompok oposisi adalah kekuatan moral, terdiri dari kelompok terpelajar intelektual liberal di daerah perkotaan, dan kelompok komunis dan agama yang meresap baik di kota besar maupun kecil. Ketiga kelompok ini berlainan ideologinya, tetapi mereka menghadapi musuh yang sama, yaitu rejim Shah dengan kekuatan militernya. Pada tahun 70an, Perang Dingin antara Blok Barat dan Blok Timur membuat Amerika mendukung rejim Shah Iran secara buta. Rejim Shah Iran diandalkan untuk membendung faham komunisme ke Timur Tengah, yang pada saat itu memang semakin kuat disana. Dengan demikian, kelompok oposisi menghadapi kekuatan besar, yaitu rejim Shah dengan persenjataan Amerika.

Satu-satunya cara untuk bisa menumbangkan rejim Shah, menurut kelompok oposisi tersebut, adalah dengan menyatukan kekuatan oposisi. Dengan demikian, kelompok sekular liberal, kelompok sosialis, dan kelompok para mullah bersatu. Mereka juga membutuhkan lambang persatuan, dan mereka mendapatkannya dalam satu tokoh pembangkang yang hidup dalam pengasingan waktu itu, yaitu Khomeini.

Kenapa para liberal, sosialis, dan sekular itu bisa percaya dengan kelompok mullah? Itu disebabkan karena mereka salah memperhitungkan arah motivasi para mullah tersebut. Islam Shiah sudah menjadi lambang yang mempersatukan Iran sejak ratusan tahun lalu dari kekuatan Islam Sunni di regional tersebut. Para oposisi non agamis itu sudah terbiasa dalam budaya Islam Shiah, mereka merasa tidak ada masalah dengan itu. Menurut Bani-Sadr, kaum intelektual juga terpengaruh oleh posisi Partai Tudeh yang mengatakan para mullah itu tidak bermasalah (kelompok komunis lebih merasa terancam oleh Amerika dan militer). Para mullah menurut mereka, cuma menginginkan kebebasan beragama, dan mereka toh tidak bisa memanage program-program pembangunan, dan akhirnya akan diserahkan pada kelompok liberal dan sosialis untuk melaksanakannya.

Jadi persepsi mereka, okaylah, kita membangun Iran dibawah panji Islam, melakukan demokratisasi, membawa keadilan untuk semua warga. Bukankah itu impian yang indah? Karena itu, kelompok oposisi bersama-sama mempolulerkan Khomeini sebagai tokoh revolusioner. Mereka mendapat jaminan dari Khomeini bahwa Iran sesudah rejim Shah adalah Iran yang egaliter. Mereka membantu Khomeini mendapat dukungan dari seluruh dunia, dengan menjadi juru bicara Khomeini. Mereka lancar berbahasa Inggris dan Perancis. Pada waktu para jurnalis dunia datang ke Paris untuk mendengarkan jawaban Khomeini, mereka mengkoordinirnya. Mereka mendiskusikan pertanyaan para wartawan itu, dan memberikan kepada Khomeini untuk menjawab. Salah satunya adalah penekanan bahwa tindakan akan diambil untuk mencegah para mullah mengambil alih pemerintahan nantinya. Khomeini mengiyakan begitu saja.

Rejim Shah yang sudah merasa kepepet, beralih pada kelompok oposisi, dan memberikan jabatan Perdana Menteri kepada Dr. Shapour Bakhtiar, salah satu pemimpin sekular dari kelompok oposisi. Tetapi semua itu sudah terlambat, kelompok oposisi menolak dan memecat Bakhtiar dari kelompok oposisi. Rejim Shah runtuh, dan Khomeini kembali ke Iran dari Paris dikawal oleh para liberal dan sosialis. Pada waktu Shah mengungsi keluar Iran, Khomeini membentuk Dewan Revolusi Islam. Kelompok oposisi merasa curiga, tetapi Khomeini bilang jangan khawatir, dia tidak akan campur tangan dalam pemerintahan, dan kelompok sekular dan liberal juga dimasukkan dalam Dewan itu sebagai anggota. Kelompok liberal dan sosialis berhasil ditenangkan, terutama setelah Khomeini menunjuk Dr. Mehdi Bazargan sebagai kepala pemerintahan sementara Iran. Dr. Mehdi Bazargan adalah intelektual berpendidikan Perancis, dan pernah menjabat sebagai menteri dalam rejim Shah sebelum menjadi oposisi.

Ralli dan demonstrasi mendukung Khomeini berlangsung semarak di Teheran oleh semua kelompok yang gembira bahwa akhirnya rejim Shah berakhir. Kegembiraan itu tidak berlangsung lama, satu demi satu kelompok merasa dipinggirkan. Pembuatan referendum untuk mendirikan Republik Islam dibuat sedemikian rupa, dan pemilih tidak melakukan pemilihan secara rahasia, tetapi dilihat oleh publik. Kelompok Kurdi yang beragama Islam Sunni menolak dan melakukan boikot, demikian juga kelompok oposisi lain.

Para pendukung Khomeini dari pihak liberal dan sosialis berusaha menjalankan pemerintahan dengan baik, tetapi hal itu ternyata sukar dilakukan. Seorang mullah radikal mendapat restu dari Khomeini untuk melakukan penangkapan dan pengadilan di luar presedur yang ada. Karena aparat keamanan regular tidak bisa diandalkan untuk melaksanakan tindakan-tindakan yang tidak masuk akal, maka dibentuk milisi Pasdaran, yaitu pasukan pengawal revolusi. Termasuk dalam kelompok ini adalah Basiji, paramiliter yang juga merekrut anak-anak. Kelompok ini merekrut anggota dari mesjid-mesjid, dan menjadikan mesjid sebagai tempat koordinasi paramiliter. Tindakan milisi dan kelompok-kelompok yang dikoordinir oleh milisi ini mirip dengan tindakan Pengawal Merah waktu Revolusi Kebudayaan di China yang menghancurkan banyak sendi-sendi budaya China. Mereka menyerbu tempat-tempat yang dianggap tidak islami, memukul wanita di jalan jika tidak memakai jilbab hitam, menangkap setiap orang yang diperkirakan tidak mendukung penerapan hukum Islam secara radikal. Pengadilan dilakukan di halaman mesjid, dan hukuman-hukuman mati dijatuhkan langsung. Ribuan anggota Partai Tudeh yang tadinya membantu kesuksesan revolusi, mati dalam upaya pembersihan unsur-unsur anti-islami para milisi ini sesudah revolusi. Memang ironis.

Perdana Menteri Dr. Bazargan merasa bahwa dia tidak bisa membenahi negara dalam situasi seperti itu. Khomeini menginginkannya sebagai boneka untuk dipasang di depan untuk memperlihatkan Iran sebagai negara demokratis, tetapi di jalan-jalan berlangsung tindakan semena-mena. Pemerintah Bazargan diganti oleh Bani-Sadr dalam kapasitas sebagai Presiden. Bani-Sadr adalah seorang intelektual yang ikut-ikutan meneriakkan slogan-slogan revolusioner, dan bertahun-tahun menjadi penasehat politik dari Khomeini. Tetapi bahkan Bani-Sadr pun harus tersingkir. Bagaimana bisa memerintah di sebuah negara dimana terdapat otoritas-ganda? Dia bisa memerintah polisi dan tentara, tetapi di jalanan, yang berkuasa adalah anak-anak belasan tahun kelompok milisia yang didukung para mullah. Para milisia ini melakukan patroli sendiri, dan juga melakukan demonstrasi-demonstrasi yang membuat kacau. Bayangkan suatu negara, ada milisi yang terus menerus berkeliaran di jalanan, boleh memeriksa rumah penduduk kapan saja, secara rutin melakukan demonstrasi, boleh menangkap setiap orang yang dicurigai dan dibawa ke pemimpinnya untuk diadili di depan mesjid. Hukuman matipun boleh dilakukan karena mereka bertindak seperti pemilik negara. Iya, betul, secara de facto, mereka sudah menjadi pemilik negara. Dan bahkan dukungan militer tidak bisa melindungi Bani-Sadr ketika para milisi meneriakkan hukuman gantung untuknya. Bani-Sadrpun berangkat meninggalkan Iran.

Golongan menengah Iran pada jaman Shah, adalah kelompok yang cukup kritis, bisa dikatakan paling kritis di Timur Tengah. Jumlah masyarakat terdidik itu banyak, sebagian mengabdi pada Shah yang dirasakan sebagai pelindung mereka, tetapi sebagian terbesar dari mereka menginginkan Iran menjadi negara demokratis yang maju, baik yang liberal maupun yang sosialis. Jumlah kelompok ini besar dan merupakan kekuatan yang mampu mempengaruhi jalannya sejarah di Iran. Bahwa pada saat ini kelompok terdidik sekular ini tidak lagi punya jejak jelas di Iran, adalah kesalahan mereka sendiri yang mempercayai para mullah pada awal revolusi. Tetapi mungkin juga, pada waktu itu mereka tidak punya pilihan lain dalam menghadapi rejim oppresif seperti rejim Shah.

Bersama dengan Bani-Sadr, terjadi gelombang emigrasi keluar Iran yang besar. Banyak dari mereka adalah pendukung revolusi Khomeini pada awalnya. Mereka itu adalah warga yang berpendidikan relatif baik, berpakaian seperti umumnya warga modern lain di dunia. Mereka mencukur janggut, dan mendengarkan musik-musik Persia maupun Beatles. Kehidupan mereka di kota-kota besar itu mirip dengan kehidupan penduduk di Jakarta misalnya. Mereka melakukan sholat jamaah di mesjid, merayakan hari-hari raya Islam termasuk hari Ashura, yaitu hari wafatnya Imam Husein. Tetapi selain kehidupan agama, mereka ingin punya kehidupan lain, ingin bisa menonton film Hollywood, bisa berpakaian wajar seperti yang sudah mereka lakukan sejak kecil, dan para wanita mempunyai karir yang cukup bagus. Mereka mendukung revolusi karena rejim Shah sudah keterlaluan dalam melakukan oppresi terhadap masyarakat. Mereka ingin kebebasan.

Tetapi bukannya kebebasan yang mereka dapat, malah oppresi yang jauh lebih besar daripada rejim Shah. Tidak ada lagi kehidupan privat yang bisa lepas dari tatapan para remaja yang berkeliaran di jalan. Wanita yang memakai celana jeans dianggap layak untuk dipukul. Ada milisi yang menyediakan cairan asam, sehingga bisa merusak wajah wanita yang dianggap menggunakan make-up. Jika rejim Shah menangkap pentolan-pentolan oposisi oleh SAVAK, sesudah revolusi Islam, Anda tidak perlu menjadi pentolan oposisi rejim untuk ditangkap dan diadili di halaman mesjid. Jika waktu rejim Shah, yang menangkap adalah anggota pasukan elite, maka sesudah revolusi, anak remaja tetangga yang sudah dicuci otak bisa terus menerus memata-matai Anda dan menangkap Anda. Oppresi dalam rejim Shah itu terasa di tingkat atas, sedangkan oppresi dalam rejim Islam di Iran terasa sampai udara sehari-hari yang dihirup.

Tidak mengherankan, ribuan memutuskan untuk meninggalkan Iran, hidup kota-kota di Eropa, Amerika dan Canada. Dari mereka inilah kemudian muncul penulis-penulis yang mencoba untuk merefleksikan pengalaman mereka. Sebagian besar dari penulis-penulis ini adalah wanita. Mungkin karena wanitalah yang paling merasa tertindas oleh rejim tersebut.

Kondisi di Indonesia saat ini sebenarnya merupakan bentuk mikro dari apa yang terjadi di Iran. Di Indonesia terdapat kelompok milisi di luar sistem yang bisa melakukan aksi polisioner illegal tetapi polisi regularpun tidak bisa berbuat banyak sewaktu mereka menyerbu ke sana sini. Mereka mencoba untuk masuk dalam sistem lewat jalur legislatif sehingga bisa menentukan apa yang boleh dipakai oleh masyarakat dan bagaimana seseorang harus bersikap. Pengalaman Iran mungkin bisa dijadikan bahan banding, apakah ingin memutuskan untuk “tidur bersama” dengan para fundamentalis agama? Situasi politik di Indonesia bukan lagi seperti era Soeharto, demokrasi sudah mulai jalan, media sudah cukup bebas. Para intelektual dan pembaharu saat ini di Indonesia bukan seperti mereka di Iran tahun 70an yang tidak punya pilihan selain bergabung dengan para mullah, yang sesudah berhasil kemudian menggantung mereka.



Last Revised:Mar 08, 2006
Copyright © 2006 socineer.com
Lihat: Salin Ulang & Redistribusi