Sang Nabi Brian
www.socineer.com


Saat ini tontonan dunia yang berisi footage para demonstran dan perusuh yang terkilik saraf kewarasannya oleh kartun Muhammad sudah mulai reda. Tontonan yang membuat hati miris dengan banyaknya yang mati sia-sia oleh keributan ini. Walau demikian, sering kita tidak bisa menahan tertawa terdorong rasa lucu melihat banyak orang bisa dipicu untuk mengamuk membabi buta hanya gara-gara kartun. Kalau kita mencoba untuk membandingkan aksi mana yang memenangkan acara adu ketololan seperti ini, saya memberikan nilai tinggi untuk aksi-aksi di Pakistan, Libya, dan Syria untuk kategori kengerian dan kegilaan, aksi di London untuk kategori bombastis, dan aksi di Indonesia untuk kategori tingkat kelucuan.

Ada kemungkinan juga, membuat kerusuhan dan demonstrasi dengan gaya kesurupan sudah menjadi national-sport untuk untuk negara-negara dan masyarakat tertentu. Dengan demikian secara berkala harus selalu dicari alasan sehingga jalanan bisa digunakan untuk pelampiasan kegemaran terhadap sport tersebut. Mungkin perlu dipikirkan Olimpiade khusus untuk bidang ini. Jika Olimpiade Musim Dingin yang sekarang sedang berlangsung di Torino untuk mereka yang suka es dan salju, Olimpiade baru ini untuk mengakomodasi mereka yang suka batu dan api. Cabang sport yang bisa dipertandingkan sudah jelas banyak, misalnya: perlombaan meneriakkan slogan lebih keras (seperti lomba lari, cabang ini bisa dibagi lagi menjadi sub-cabang tergantung dari panjang slogan yang diteriakkan, dari Teriak 3 silabel, sampai Teriak maraton 40,195 silabel); perlombaan membakar mobil; perlombaan membakar bendera; dan jangan lupa, perlombaan membakar konsulat dan gedung kedutaan, termasuk tempat-tempat makan McDonald dan KFC. Kalau dipikir-pikir, memang biaya untuk penyelenggaraan akan menjadi mahal benar karena beberapa gedung harus dikorbankan. Mungkin itu alasan sehingga sampai saat ini belum ada yang bersedia menyelenggarakannya (dan ayam-ayampun termenung lesu, karena tidak ada yang membela nasib mereka yang terus menerus dibantai oleh jaringan warung penjual ayam goreng KFC).

Karena tontonan sudah berkurang, maka saya mencari tontonan lain, kebetulan ada yang senada, yaitu kartun penghujatan dalam bentuk film. Ini film komedi lama, judulnya "Life Of Brian", dimainkan oleh kelompok komedi Inggris Monty Python. Film ini pantas ditonton oleh semua yang terpesona dengan tayangan CNN tentang betapa lucunya karikatur hidup orang-orang yang berpose di depan kamera dengan segala macam kegilaannya. Film ini menjadi film komedi klasik dan mendapat banyak ulasan.

Tokoh utama dalam film tersebut, Brian, dilahirkan pada saat Jesus lahir dari ibunya yang bernama Mandy. Okay, Brian ini adalah tokoh karikatur dari Jesus itu sendiri, lengkap dengan tiga orang majus yang mendatanginya pada waktu dia lahir. Ayahnya seorang tentara Romawi yang menghamili Mandy wanita Jahudi. Mungkin yang suka mempelajari Jesus historik, akan tahu bahwa ada anggapan Jesus anak haram dari centurion Romawi. Anggapan itu berasal dari satu record dari kumpulan Talmud Jahudi yang berasal dari jaman Jesus, yang mengatakan bahwa ada seorang bernama Yeshu anak Miriam, yang dipertunangkan dengan seorang tukang kayu, pada saat sudah mengandung sebelum bertemu dengannya. Miriam mengandung karena berhubungan dengan seorang tentara Romawi, entah berhubungan secara sukarela, atau terpaksa. Sudah tentu banyak orang kristen yang fanatik membela kehormatan Jesus banyak yang menolak gambaran dari Talmud Jahudi tersebut, dengan alasan bahwa itu Jesus yang lain (nama Jesus waktu itu nama yang populer dan digunakan oleh banyak orang), atau bahwa record itu sengaja ditulis oleh orang Jahudi untuk mengolok Jesus. Kalau yang terakhir ini benar, ini berarti karikatur literal yang sudah ada lebih dari seribu tahun silam, dan sampai kini terus menjadi bahan tertawaan. Memang dari segi historis dari penulisan Talmud tersebut, kemungkinan itu merupakan olok-olok. Tetapi olokan itu bukan tanpa alasan jika dilihat dari dogma gereja yang menyatakan bahwa Jesus dikandung tanpa merubah status keperawanan Maria. Di luar komunitas kristen tentunya tidak ada alasan untuk mempercayai hal ini, dan ini mengundang spekulasi macam-macam. Itu tak terhindarkan.

Pada suatu saat waktu Brian dewasa, dia bersama Mandy mendatangi seseorang yang sedang mengajar di padang, tetapi Mandy lebih suka menonton acara rajam yang akan diselenggarakan di tengah kota. Banyak sekali orang yang suka merajam, dan dipinggir jalan dijual batu-batu yang enak dilempar, dirancang khusus sesuai dengan anatomi tangan. Tentunya kalau Anda benar-benar serius dalam hobby merajam tidak akan menggunakan batu sembarangan dari jalanan. Dan untuk penjual batu ini kesempatan yang bagus, menjual batu, dan kemudian mengumpulkan lagi dari tempat merajam untuk dijual ulang. Itu bisnis yang bagus, terutama jika situasi ekonomi tidak mendukung untuk mendapatkan pekerjaan lain.

Orang yang dirajam hari itu adalah seseorang yang dihukum karena "menyebutkan nama Tuhan secara tidak hormat". Pasalnya, orang tersebut menyebut nama Yehovah tidak pada tempatnya, dan harus mati oleh rajaman batu. Uh oh, ternyata sesudah ribuan tahun, acara ini juga masih dilakukan oleh para demonstran yang begitu bersemangat mau merajam para kartunis Denmark. Menggambar Muhammad tidak dengan hormat ternyata bisa berakibat fatal.

Karikatur dari permasalahan yang tergambar dalam film ini memang terkesan seenaknya. Tetapi disinilah letak pointnya. Karena sebenarnya mereka yang fanatik beragama juga seenaknya membuat pandangan yang haram mana yang halal, dan dimana ketika hanya untuk "menyebut tidak dengan hormat" akan mendapatkan reaksi yang luar biasa. Film ini mencoba memperlihatkan betapa tidak masuk akalnya agama-agama ketika dianut secara membabi-buta.

Brian, tanpa dia kehendaki, dinobatkan menjadi Nabi oleh massa kebingungan yang lapar dengan petunjuk (dan pada waktu itu muncul banyak orator agama, seperti biasanya, jika ada permintaan, selalu muncul ada yang bisa memenuhi kebutuhan). Brian mencoba untuk berkelit, tetapi setiap kata yang diucapkan malah mengundang lebih banyak lagi pengikut. Mereka berkumpul di depan rumah Brian dan sudah tentu mengganggu kenyamanan hidup Brian dan Mandy. Dalam keputus-asaan, Brian mengatakan kepada massa, "You got it all wrong. You don't need to follow me. You don't need to follow anybody. You got to think for yourself. You're all individuals. You're all different. You've got to work it out for yourselves. Don't let anyone tell you what to do."

Kata-kata Brian diatas menjadi inti dari pesan yang ingin disampaikan oleh film tersebut. Setiap orang adalah pribadi yang unik. Setiap orang harus berpikir untuk dirinya sendiri, dan jangan sampai didikte melulu oleh orang lain. Dalam kaitannya dengan agama, tentunya jangan sampai didikte oleh mereka yang menyebut diri ahli agama, provokator yang mudah sekali memicu massa yang bertindak seperti zombie kesurupan.

Kata-kata tersebut diatas ditanggapi oleh massa dengan cara membeo. Mereka memperlakukannya sebagai ajaran Nabi. Brian yang putus asa akhirnya ditangkap oleh tentara Romawi dengan alasan subversif dan dia dihukum mati dengan cara disalib.

Sepanjang menonton film ini, saya tertawa getir beberapa kali, terutama bukan karena filmnya lucu, tetapi kita bisa dengan mudah mendapatkan apa yang terjadi di film ini jestru terjadi dalam masyarakat dalam intensitas yang lebih besar. Film ini tidak ada apa-apanya jika dibanding dengan apa yang terjadi pada saat yang seharusnya masa paska pencerahan akal budi ini.

Jika Anda ingin melihat kartun sebenarnya dari sebagian masyarakat muslim belakangan, kartun dari penerbit Denmark itu tidak ada apa-apanya, terlalu halus dan lembut. Tetapi cobalah lihat kartun hidup dari mereka yang sedang melakukan aksi protes, pembakaran, sampai yang menyebabkan hilangnya nyawa puluhan dari mereka yang melakukan aksi.

Gambar kartun kecil untuk lelucon, diganti dengan ancaman mati oleh beberapa organisasi keagamaan. Poster-poster dituliskan besar-besar, menganjurkan untuk menyembelih para kartunis, memenggal kepala para kartunis, melakukan pembunuhan massal (massacre) terhadap mereka yang membuat lelucon. Itu bukan ancaman kosong, karena terlihat nyawa manusia sudah tidak ada lagi artinya bagi mereka. Puluhan orang yang mati sia-sia dalam minggu-minggu lalu hanya oleh alasan konyol.

Apa yang dilakukan oleh pembuat aksi tersebut, bukan saja mengamini kritik sosial yang terkandung dalam kartun yang diprotes, tetapi malah jauh-jauh lebih parah sehingga situasinya terlihat seperti absurb dan surrealistic. Ironis memang, kartun yang seharusnya mendramatisasi realitas, ternyata kalah dengan realitas yang ditimbulkan. Realitas jestru sekarang yang mendramatisasi kartun.

Menghadapi kritikan terhadap filmnya, Terry Gilliam, anggota dari Monty Python berkomentar:
"Come on, if your religion is so vulnerable that a little bit of disrespect is going to bring it down, it's not worth believing in, frankly."

Jika agama Anda begitu rentan sehingga sedikit lelucon bisa menumbangkannya, maka terus terang saja agama itu tidak pantas untuk dipercayai. I couldn't agree more.

Agama yang seharusnya membebaskan manusia dari kebodohan dan keterbelakangan, sekarang semakin menjadi beban. Banyak manusia menjadi bagian dari massa yang mengabdi membabi-buta pada ide-ide yang dulunya lahir untuk menjadi pemecah permasalahan manusia. Agamapun menjadi alat pembodohan massa penganutnya.



Last Revised:Feb 22, 2006
Copyright © 2006 socineer.com
Lihat: Salin Ulang & Redistribusi