Demokrasi Semu
www.socineer.com


Sebelum tembok Berlin runtuh, Jerman terbagi atas dua negara yang saling berseteru. Yang satu dinamakan Republik Demokratik Jerman (Jerman Timur), dan yang lain dinamakan Republik Federasi Jerman (Jerman Barat). Hati-hati dengan nama tersebut, karena Republik Demokratik Jerman adalah negara atas dasar kediktatoran proletariat. Tetapi mereka menganggap negaranya demokratis. Alasannya sederhana, bukankah republik kediktatoran proletariat itu diasumsikan diperintah oleh kaum pekerja yang merupakan majoritas rakyat? Dengan demikian, rakyat yang berkuasa, karena itu jelas itu adalah sistem demokratis. Dan berdirilah berbagai negara serupa dengan nama Republik Demokratik yang berjalan dengan partai tunggal, tanpa pemilu, dan membuat seribu satu macam peraturan represif untuk masyarakat. Ini baru namanya demokratis, katanya.

Selain republik-republik demokratik di atas, muncul juga banyak negara yang dikendalikan oleh para despot. Soeharto adalah salah satu contoh terkenal. Dalam pemerintahan Orba, dia menggunakan semua mekanisme yang digunakan oleh pemerintahan 'demokratis'. Ada banyak partai politik, ada sistem perwakilan, ada pemilu yang dilakukan secara rutin. Semuanya dikendalikan dibawah kendali Sang Despot. Inilah contoh demokrasi yang terbaik, katanya. Demokrasi pembangunan, karena tidak ada yang boleh menggangu proses pembangunan dengan suara-suara miring. Kalau mau bersuara, salurkan ke wakil rakyat, katanya. Dan wakil rakyat semua dibawah kendali Sang Despot. Ini benar-benar demokrasi idaman para despot.

Apakah semua contoh diatas itu pantas disebut sistem demokratis? Dari segi tertentu, bahkan pemerintahan kediktatoran juga bisa mengklaim sebagai demokrasi, tergantung dari arti mana yang mau ditinjau. Kediktatoran proletariat melihat dari segi kekuasan proletar. Kediktatoran para despot melihat dari segi dipenuhinya semua komponen mekanisme demokrasi, yaitu sistem multi partai, adanya pemilu berkala dan adanya dewan perwakilan. Tetapi jelas bagi para demokrat contoh-contoh di atas bukan demokrasi. Apa yang kurang dari sistem-sistem ini?

Yang kurang adalah: JIWA DEMOKRASI.

Demokrasi pada contoh diatas digunakan sebagai tameng kediktatoran. Mereka menyalahgunakan (abuse) demokrasi. Kata dan mekanisme demokrasi hanya digunakan sebagai ALAT legitimasi. Tetapi pada dasarnya, sistem-sistem diatas sama sekali tidak ada komitmen pada demokrasi. Mereka pada dasarnya kediktatoran proletariat yang mengklaim sebagai sistem demokrasi. Kediktatoran despotik yang bersolek dengan kosmetik demokrasi. Dan kemudian ada juga Theokrasi yang mengabuse mekanisme demokrasi. Penyalahgunaan demokrasi sudah sering dilakukan, dan yang terkenal adalah Partai Nazi Jerman yang naik ke pentas politik dengan menggunakan mekanisme demokrasi hanya untuk kemudian membunuh demokrasi.

Jadi apa itu jiwa demokrasi? Jiwa demokrasi itu diletakkan pada waktu lahirnya demokrasi modern. Demokrasi modern itu lahir bukan karena memerlukan sistem legitimasi untuk pemerintahan seperti yang dilakukan oleh banyak despot, theokrat, dan diktator saat ini. Pada waktu itu, jestru demokrasi merupakan kata kotor, dan sering dilecehkan oleh mereka yang mapan. Para demokrat modern awal itu terutama bukan berjuang untuk sebuah sistem pemerintahan (ngapain berjuang untuk sebuah mekanisme yang abstrak), tetapi untuk manusia. Dalam perjuangan itulah yang kemudian berevolusi melahirkan sebuah sistem, yang menjadi cikal bakal demokrasi modern.

Hal yang diperjuangkan adalah keadilan dan kebebasan untuk setiap manusia, kesamaan kesempatan untuk mengejar kebahagiaan hidup, kesetaraan dan persaudaraan antar individu. Inilah impian yang diperjuangkan oleh para demokrat, yang kemudian merumuskan sistem pemerintahan untuk menjamin terjadinya impian tersebut.

Jadi, yang diperjuangkan bukan melulu cuma konsep kosong tentang demokrasi, atau mekanisme teknis demokrasi, tetapi prinsip-prinsip mendasar diatas. Tanpa berakar pada penghargaan terhadap keadilan, kesetaraan, kebebasan, persaudaraan untuk setiap insan, demokrasi pada dasarnya hanya menjadi lip-service, hanya menjadi alat legitimasi untuk setiap sistem represif yang selalu mencoba untuk muncul. Mekanisme demokrasi kemudian hanya dipergunakan untuk melegalkan sistem represif, persis seperti yang sudah dicapai dengan sukses oleh Partai Nazi di Jerman dulu. Demokrasi yang hanya digunakan sebagai alat adalah DEMOKRASI SEMU (Ersatz Democracy). Demokrasi semu menitik-beratkan pada mekanisme untuk pencapaian tujuan sang diktator atau theokrat, bukan jiwa demokrasi yang sebenarnya.

Memang terasa ironis, peraturan-peraturan represif yang jestru membunuh jiwa demokrasi bisa saja didapatkan lewat mekanisme demokrasi. Pada waktu Orde Baru, banyak buku-buku dan tulisan kritis dilarang, termasuk buku-buku karangan Pramoedya. Majelis dan dewan perwakilan terhormat juga tidak ada masalah dengan pelarangan tersebut. Padahal di negara boss Indonesia waktu itu, Amerika Serikat, yang merupakan komandan anti komunisme, buku-buku tersebut bebas untuk dibaca. Negara dengan demokrasi semu mampu menerapkan larangan tersebut, karena memang tidak ada jiwa demokrasi sama sekali padanya. Jika sang diktator atau theokrat mau, mereka bisa membuat segala jenis aturan yang aneh-aneh dan membunuh semua jenis kebebasan yang ada pada manusia, mereka bisa membuat aturan anti-demokrasi dengan proses mekanisme demokrasi. Mekanisme demokrasi itu hanyalah alat belaka, bisa digunakan untuk tujuan apa saja, termasuk membunuh demokrasi itu sendiri. Seperti pisau dapur, bisa digunakan untuk menyiapkan makanan lezat, dan juga bisa digunakan untuk membunuh tetangga.

Seorang demokrat pertama-tama akan memperjuangkan jiwa demokrasi. Mekanisme demokrasi adalah sistem yang lahir secara logis dari perjuangan jiwa demokrasi. Seorang yang memperjuangkan nilai-nilai anti-demokrasi dengan mekanisme demokrasi hanyalah seorang despot. Tanpa jiwa demokrasi, lahirlah masyarakat tirani, dimana satu kelompok kecil dengan ideologi anti-demokrasi tertentu menguasai pabrik pembuatan peraturan represif, didukung dengan mekanisme manipulasi emosi massa.

Seorang demokrat pertama-tama akan memikirkan untuk MEMBEBASKAN setiap warga masyarakat dari aturan-aturan tanpa dasar yang mengikat, bukan malah membebani masyarakat dengan semakin banyak aturan-aturan baru. Sebuah badan legislatif yang berfokus pada penciptaan aturan-aturan baru yang semakin mengikat masyarakat sebenarnya melakukan tugasnya sebagai seorang birokrat. Mereka bukan wakil rakyat, tetapi birokrat opportunis yang duduk di kursi yang salah. Parlemen-parlemen dalam negara demokratis jestru sebaliknya, berusaha membebaskan masyarakat. Mereka terutama membuat batasan-batasan untuk mengekang Negara, bukan sebaliknya semakin memperkuat Negara untuk mengikat rakyat. Badan Legislatif adalah badan yang MEMIHAK rakyat terhadap represi dari Negara, bukan malah semakin memberi amunisi bagi Negara untuk membatasi kebebasan rakyat.

Sekali lagi, hal-hal yang mendasar yang perlu dipertanyakan adalah: Apakah mereka yang sedang menguasai proses legislatif benar-benar memperjuangkan keadilan dan kebebasan setiap warga masyarakat? Apakah mereka memperjuangkan kesetaraan dan persaudaraan antar warga masyarakat? Apakah mereka memperjuangkan kesamaan kesempatan dalam mengejar kesejahteraan dan kebahagiaan hidup? Apakah mereka memihak rakyat, atau malah memberi amunisi para aparat dalam mengekang kebebasan rakyat?

Tanpa jiwa demokrasi, seseorang tidak pantas untuk mengklaim sebagai demokrat dan mengatakan bahwa mereka sudah menggunakan proses demokrasi. Mereka bukan sedang menggunakan (to use) proses demokrasi, melainkan menyalah-gunakan (to abuse) proses demokrasi.



Last Revised:Mar 14, 2006
Copyright © 2006 socineer.com
Lihat: Salin Ulang & Redistribusi