Eropa Menanggapi Peristiwa Kartun Muhammad
www.socineer.com


Keributan soal kartun Muhammad sudah reda, lama-lama para pemrotes juga mulai bosan dan capek. Sekarang waktunya untuk merefleksi, apa akibat dari peristiwa ini?

Pertama, ratusan orang meninggal, dengan korban terutama para demonstran sendiri yang melakukan tindak kekerasan. Bagaimanapun juga harus dimengerti, bahwa citra masyarakat muslim semakin buruk, menjadi semakin tidak dipahami oleh dunia luar. Semakin menunjukkan sikap reaktif, dan mudah tersulut oleh urusan kecil sekalipun.

Kedua, penerbitan kartun Muhammad bukannya tambah reda, tetapi saat ini malah sudah menjadi trend. Ratusan kartun lain dibuat. Para kartunis berlomba untuk tidak ketinggalan membuat kartun seperti ini, karena jestru kartun seperti ini pada minggu-minggu lalu memiliki daya jual tinggi. Koran JP Denmark penerbit ke-12 kartun Muhammad yang bikin heboh, sekarang ingin menarik bayaran bagi media lain yang menerbitkan kartun-kartun populer tersebut! Ada pembuat kartun yang punya jiwa bisnis yang bagus, membuatnya dalam T-Shirt dan mendadak mendapat pesanan luar biasa banyaknya. Bisa dikatakan, banyak yang kaya mendadak oleh hura-hura kartun ini. Koran JP di Denmark mungkin yang paling berbahagia, karena gara-gara masalah kartun ini, koran tersebut sekarang menjadi koran tingkat dunia, dikenal oleh jurnalis seluruh dunia. Tadinya koran JP hanya koran kecil di tingkat lokal. Para editor koran itu sekarang bisa menulis di The Washington Post! Tanpa peristiwa kartun ini, mereka mungkin tidak bisa bermimpi untuk menjadi populer begitu.

Ketiga, untuk masyarakat non-muslim, terutama di Eropa dan Amerika, semakin terasa bahwa ancaman fundamentalisme Islam ini dan mengakibatkan sikap siaga. Tadinya citra buruk Islam dihubungkan dengan terrorisme atas nama Islam. Dan ada sebagian dari kelompok masyarakat Barat, terutama yang sekular atau yang condong ke kiri, yang menentang pengenaan stigma tersebut pada masyarakat muslim pada umumnya. Mereka ini kuat di Eropa dan di Canada, dan merupakan kelompok yang menentang George Bush ketika ingin memulai Perang Teluk. Mereka, terutama para jurnalis kiri, menulis membela masyarakat Islam pada umumnya. Tetapi saat ini, jestru mereka yang diprotes keras oleh negara-negara Islam. Kelompok konservatif di Amerika menonton peristiwa ini dengan senyum-senyum, melihat Eropa yang tadinya membela rejim Hussein Iraq dalam Perang Teluk sekarang kena getahnya. Ada perusahaan Denmark yang dulu menunjukkan solidaritas pada negara-negara Arab dengan memboikot Israel, sekarang diboikot oleh negara-negara Arab yang dulu dia dukung hanya gara-gara kartun. Kelihatannya mereka akan berubah haluan gara-gara peristiwa ini. Terrorisme yang tadinya terlihat jauh dan bersifat fisik, sekarang menjadi terrorisme mental, yang menyebabkan para penulis dan artis di Eropa gerah. Terrorisme mental ini dirasa lebih mengancam.

Untuk sementara semua ini sudah lewat, saatnya bagi kelompok-kelompok yang saling berhantaman di Eropa untuk menghitung saling menghitung score. Secara tradisional, pembagian ideologis masyarakat di Eropa adalah bersifat dikotomis. Misalnya di Inggris, dua partai terkuat adalah Partai Buruh yang condong ke sosialisme, dan Partai Konservatif. Pembagian ini seharusnya jangan dilihat secara hitam-putih, karena banyak faktor yang menentukan kecenderungan seseorang. Hanya untuk memudahkan pembahasan inilah, kita menggunakan kembali pembagian dikotomis ini.

Di Amerika juga sama, yaitu pembagian bipartisan, antara kelompok Demokrat dan Republikan. Kelompok Demokrat lebih mengutamakan kebijakan yang lebih liberal dan kelompok Republikan pada kebijakan yang lebih ke arah konservatif. Pada saat ini, kelompok Republikan mendapat dukungan kuat dari kelompok-kelompok agama di Amerika sebagai pembela mereka dari pihak Demokrat yang lebih sekular. Gaya Amerika dimana agama ikut menentukan warna pilihan, saat ini juga mulai mewarnai Eropa kembali. Mereka yang cenderung mempertahankan latar belakang Kristen Eropa mulai membentuk wajah golongan konservatif Eropa.

Pada episode masalah kartun Muhammad, pihak manakah yang akan dinobatkan sebagai pahlawan pertahanan psyche Eropa? Kedua kelompok ideologis di Eropa ini mulai menghitung angka-angka. Selama ini, pihak konservatif yang dianggap “pahlawan” dalam membendung nilai-nilai moral Eropa dari infiltrasi luar. Pihak sekular dan kaum sosialis dianggap pihak yang menyerahkan Eropa kepada infiltrasi luar dengan kebijakan liberal yang merangkul semua budaya. Tetapi dalam kasus kartun Muhammad ini, jestru yang bertahan itu pihak sekular yang berjuang mempertahankan hak kebebasan untuk berekspresi. Dalam pandangan publik, pahlawan untuk saat ini pihak sekular dan sosialis. Kelompok konservatif tentunya merenggut dan menggeleng-gelengkan kepala. Mereka mulai membuat teori, bahwa dalam kasus ini, jestru disebabkan oleh golongan sekular dan sosialis.

Pandangan Paul Bellen dari The Brussel Journal yang banyak dikutip, bisa dianggap mewakili pandangan kaum konservatif tersebut. Dia mengatakan bahwa permasalahan Eropa adalah disebabkan oleh proses sekularisasi Eropa sendiri yang dimulai sejak Era Pencerahan Akal Budi, sehingga benteng pertahanan dari akar Judeo-Christianity menjadi vakum1. Kaum sekular yang cenderung terbuka terhadap kelompok masyarakat yang berbeda dikatakan menjadi titik lemah sehingga kelompok Muslim Eropa berkembang sedemikian besar. Cara mengatasi masalah ini menurutnya adalah mengembalikan Eropa ke akar keagamaan Judeo-Christianity, sehingga bisa membendung terbentuknya Eurabia (Eropa yang mengalami proses pengaraban).

Pandangan ini sudah tentu tidak bisa diterima kaum sekular dan sosialis Eropa, termasuk para intelektual yang berasal dari budaya Muslim itu sendiri. Mereka meninggalkan negara Islam untuk mencari pencerahan dalam masyarakat bebas, bukan untuk beralih agama dan budaya ke budaya Kristen. Para intelektual tersebut pada dasarnya masih berakar pada budaya tempat asal mereka, tetapi mereka menjadi sekular, dimana budaya itu menjadi bagian dari preferensi hidup, bukan sekumpulan dogma yang mengikat.

Karena itu dalam Manifesto Anti Islamisme yang dirilis beberapa hari lalu, ditekankan dengan jelas pentingnya nilai-nilai sekular. Pihak konservatif menanggapi Manifesto ini dengan sikap skeptis, karena jestru dikhawatirkan pihak sekular yang akan dijadikan pahlawan dalam pandangan masyarakat Eropa dalam kasus ini. Paul Bellen dalam menanggapi Manifesto ini malah mengatakan bahwa pihak Islamis dan pihak sekular sebenarnya banyak kesamaan, dibanding dengan pihak Islamis dan Kristen. Ini menurutnya disebabkan karena Islamis mementingkan kepentingan kolektif, sama seperti pihak sosialis, terutama komunis yang mementingkan kepentingan kolektif. Dan menurutnya individualisme Eropa berasal dari tradisi Kristen, jadi dengan demikian pergolakan dalam kasus ini lebih merupakan pergolakan tradisi Islamis dengan Kristen, dan Jihadism adalah anak dari sekularisme!2

Pendapat diatas sangat tidak tepat. Tidak semua kaum sekular sosialis atau komunis, dan agama Kristen juga tidak selalu menyodorkan individualisme. Memang pandangan Kristen melihat setiap jiwa manusia sebagai entitas yang unik. Tetapi jangan dikira itu hanya pandangan Kristen saja. Individualisme di Islam sebenarnya juga kuat jika kita melihat bahwa menurut kepercayaan Islam setiap orang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya secara pribadi di Akherat. Jika pengadilan di Akherat itu tanggung jawab pribadi, maka seharusnya pribadi itu jugalah yang harus memutuskan apa yang baik dan buruk selama hidup. Pengambilan keputusan itu tidak ada gunanya diwakilkan ke pihak lain, karena toh nanti di Akherat pihak lain tidak datang menanggung akibatnya. Masing-masing individu menanggung sendiri akibat dari perbuatannya, dan inilah landasan individualisme dalam Islam.

Selain itu, pihak konservatif juga mulai menuduh bahwa masalah kartun ini disalahgunakan oleh kaum sekular, seperti yang disuarakan oleh Agnes Van Ardenne, seorang menteri Belanda dari Aliansi Kristen Demokrat. Ada ketakutan dari kaum konservatif kristen bahwa akan masyarakat akan condong ke pihak sosialis dan sekular yang dianggap menjadi pahlawan bagi pertahanan kebebasan Eropa. Suara dari Agnes ini mengakibatkan percekcokan antara Partai Demokratik Liberal dan Demokrat Kristen yang berkoalisi dalam pemerintahan Belanda. Perlu disimak, bahwa salah satu penandatangan Manifesto tersebut diatas adalah anggota parlemen dari Partai Demokratik Liberal, Ayaan Hirsi Ali asal Somalia.

Namun saya setuju bahwa kurangnya penghargaan tokoh-tokoh agama Islam terhadap individualisme menjadi salah satu sumber masalah utama. Jika tokoh-tokoh agama selalu ingin mengurusi urusan pribadi setiap penganut agama, selalu menggunakan penganut agama sebagai pion untuk dikorbankan demi kepentingan ideologis kelompok agama, maka pembodohan massa terjadi pada agama tersebut.

Masalah Islamisme akan hilang jika umat Islam bisa membuat agama menjadi urusan pribadi masing-masing. Ide sekuler itu bukan ide anti-agama, tetapi pemisahan urusan beragama dengan urusan bermasyarakat. Agama adalah urusan dalam domain privat dan tidak ada tempatnya dalam bernegara dan bermasyarakat secara umum. Seseorang bisa saja menjadi seseorang yang beragama sekaligus sekular, jika agama hanya dia terapkan secara privat dan hanya untuk urusan pribadinya. Inilah yang menjadi landasan negara-negara modern dengan masyarakat yang stabil pada saat ini.



  1. "Europe’s current problems are entirely self-inflicted. This does not mean, however, that the result will be less catastrophic. By subverting the roots of its own Judeo-Christian culture – a process that started with the French Enlightenment (as opposed to the Scottish Enlightenment, which was not anti-religious) – a religious and cultural vacuum was created at the heart of European civilization. The collapse of faith in its own values has, not surprisingly, led to a demographic collapse because a civilization that no longer believes in its own future also rejects procreation. Today, a new religion and culture is supplanting the old one. There is little one can do about it, but hope for a miracle." From: "The Closing of Civilization in Europe", Paul Bellen.

  2. "The Islamists and the secularists (including the priests and bishops among them) have more in common than the Islamists and the Christians (including the agnostics among them), because the latter acknowledge that at the heart of Christianity is the individual with his individual responsibility before God. Without Christianity, individual responsibility would not have become the centre of European civilization. It was the French Revolution that jeopardized this tradition and that became the root of collectivism, with its socialist, fascist, national-socialist and communist excesses. From this perspective even Jihadism is more a child of secularism than of religion"., From: "Anti-Jihad Manifesto Misses the Point", Paul Bellen.



Last Revised:Mar 04, 2006
Copyright © 2006 socineer.com
Lihat: Salin Ulang & Redistribusi