Penghancuran Jejak Peradaban
www.socineer.com


Kemarin saya membaca berita headlines yang sangat menyedihkan. Mesjid Al Askariyah di kota Samarra, Iraq terlihat habis dibom. Mesjid itu didirikan lebih dari seribu tahun yang lampau, dan saat ini merupakan situs arkeologi yang penting di dunia untuk peradaban Islam di masa lalu. Kota Samarra adalah ibukota dari Dinasti Islam Abbasiyah dalam jangka waktu yang cukup lama. Ketertarikan pada sejarah dan budaya membuat hati terasa nyilu ketika ada peninggalan sejarah yang dihancurkan dengan cara konyol seperti itu.

Dinasti Abbasiyah adalah salah satu kekhalifahan terkenal dengan banyak peninggalan peradaban. Khalifah tersohor Harun al-Rashid, yang populer keseluruh dunia oleh Kisah Seribu Satu Malam, adalah salah satu sultan Dinasti Abbasiyah. Dengan menaklukkan pusat-pusat kebudayaan Yunani pada waktu itu, Abbasiyah membuat kekhalifahannya salah satu wilayah yang maju dalam bidang-bidang sains dengan mempelajari ulang karya-karya filsuf Yunani dan mengembangkannya, dan melahirkan tokoh-tokoh seperti Ibnu Sina, Al-Biruni, al-Kindi, dan banyak lagi lainnya.

Ibu kota Abbasiyah yang banyak diketahui umum adalah Baghdad. Tetapi pada waktu tertentu dipindahkan ke Samarra gara-gara ada kerusuhan yang terjadi di Baghdad. Cerita ini bisa menjadi kisah yang menarik untuk dijadikan novel sejarah. Selama lebih dari lima puluh tahun, Abbasiyah memerintah dari Samarra sebelum akhirnya dikembalikan ke Baghdad. Pada waktu Samarra menjadi pusat Abbasiyah, didirikan mesjid agung Al-Mutawakil yang mempunyai bentuk spiral. Melihat bentuk itu, mengingatkan kita pada bentuk ziggurat era Mesopotamia dan Babilonia, bangunan dengan basis persegi yang bertingkat seperti piramid untuk tempat kegiatan ritual penganut kepercayaan tempo dulu. Cerita dari Bible tentang Menara Babel juga berasal dari bangunan ziggurat ini.

Sesudah ibukota Abbasiyah dikembalikan ke Baghdad, penduduk Shiah Samarrah mendirikan juga mesjid dimana disana dikebumikan imam-imam penting dalam komunitas Islam Shiah. Sebelumnya tempat itu adalah juga mesjid yang dibangun oleh Sultan Mutasim untuk keperluan ibadah prajuritnya. Mesjid tempat makam para imam tersebut itu dinamakan Mesjid Al-Askariyah karena disana terdapat kuburan imam Hasan al-Askari dengan bapaknya, yang mati diracun dalam penjara. Mesjid itu kemudian terus dibangun dan diperbaiki terus menerus dan bertahan terus selama lebih dari seribu tahun, sebelum dihancurkan pada Februari 2006.

Setiap bangunan kuno adalah warisan kemanusiaan. Kita sebagai umat manusia, satu species yang berhasil menjadi makhluk yang berpikir dan mengerti nilai sejarah, memandang ke masa silam sebagai perjalanan panjang dari peradaban kita sampai ke titik masa kini. Mesjid Al Askariyah adalah salah satu jejak langkah peradaban yang ingin kita langgengkan terus menerus sampai ke generasi-generasi mendatang. Pada saat dia dihancurkan, umat manusia kehilangan satu dari permata peradaban.

Kelihatannya kelompok yang menghancurkan Al Askariyah itu tahu persis, bahwa penghancuran itu akan mengakibatkan ketidak-stabilan di kalangan muslim disana. Benar sekali, baru satu hari sesudah diledakan, sudah lebih dari seratus orang mati, puluhan mesjid lain dihancurkan oleh massa beringas. Padahal majoritas muslim Sunni tidak bersalah, yang membom itu kelompok yang jestru ingin membuat perpecahan. Mereka mulai menyerang bukan hanya imam Sunni, tetapi kantor-kantor partai politik Sunni, dan kelompok Sunnipun menyerang balik.

Kenapa massa menyerang dan membunuh penduduk yang kebetulan beragama Islam Sunni yang tidak tahu menahu soal pemboman tersebut? Itu disebabkan karena sebagian massa Islam belakang ini mengembangkan dikotomi "kita" versus "mereka" terlalu ekstrim. Setiap orang sudah tidak dipandang lagi sebagai individu yang unik, tetapi dianggap sebagai bagian kolektif dari kelompok tertentu. Secara eksternal, maka dunia dibagi menjadi muslim dan non-muslim. Non-muslim dibagi-bagi lagi menjadi kelompok-kelompok menurut kepercayaannya. Secara internal, massa Islam juga sibuk membagi-bagi siapa yang kelompok "mereka" dan siapa yang kelompok "kita", dan berbagai usaha dilakukan untuk mengenyahkan kelompok "mereka". Kasus Ahmadiyah di Indonesia belakangan ini contoh yang baik dimana satu kelompok berusaha dienyahkan hanya karena mereka agak berbeda. Kemudian, individupun dianggap lebih sebagai bagian dari kelompok, daripada sebagai individu yang unik. Tidak mengherankan saling menyerang antar kelompok, seperti perang tribal masa pra-sejarah, terjadi sampai saat ini.

Dan karena pengetahuan tentang perilaku massa itulah, maka kelompok terror yang memang ingin membuat kekacauan mudah sekali untuk mengendalikan massa ke suatu titik tertentu. Massa cukup disulut sedikit, lalu bertindak persis seperti yang diinginkan para provokator tersebut. Dan mereka tahu persis, bahwa penghancuran Mesjid Al Askariyah akan menghentikan kerja sama Sunni dan Shiah untuk membangun Irak masa depan. Saat ini sudah terjadi.

Jika massa Islam mampu menjadi lebih dewasa, tidak sensitif. Tidak ngamuk hanya oleh kartun, tidak ngamuk karena mesjid Al Askariyah dibom, maka para provokator sukar untuk mampu menyulut massa, dan bangunan-bangunan bersejarah mempunyai harapan yang lebih besar untuk bertahan ribuan tahun mendatang. Saya yakin bagian besar umat Islam yang bukan bagian massa sensitif yang mudah terprovokasi seperti ini. Tetapi cukup besar juga yang mudah sekali naik darah dan mengamuk, dan mereka-mereka inilah yang menjadi wajah Islam saat ini.

Pada bulan Maret 2001, peninggalan bersejarah umat Buddha di lembah Bamian dihancurkan. Dua patung Buddha raksasa yang setinggi bangunan lima tingkat, yang sudah berdiri disana 1500 tahun, dihancurkan menjadi keping-keping kecil oleh sikap yang sudah lebih parah dari kegilaan semata. Regional Asia Tengah mekar menjadi pusat-pusat agama Buddha selama beberapa ratus tahun sebelum akhirnya ditaklukkan dan diakuisisi oleh kekuasaan Islam. Daerah yang menjadi silang perjalanan ziarah dan perdagangan antara Eropa, India dan China, mengembangkan kebudayaan Buddhist dengan sentuhan Parsi dan Yunani. Patung-patung itu diakui sebagai peninggalan sejarah peradaban manusia oleh UNESCO.

Penghancuran peninggalan sejarah 1500 tahun ini, membuat banyak pihak terpana dan menangis. Dunia terkejut dan sangat menyayangkan tindakan barbar tersebut. Sudah tentu umat Buddhist paling tersentuh emosinya dengan kejadian tersebut. Tetapi apakah lantas massa Buddhist menyerang mesjid-mesjid dan meledakkannya? Apakah mereka menyalahkan tetangganya yang kebetulan muslim? Pada tahun 1985 yang lalu, Borobudur, peninggalan sejarah Buddhist yang menjadi kebanggaan Indonesia dibom. Tidak juga terjadi kerusuhan massal umat Buddhist pada waktu itu. Umat Buddhist mampu untuk mengembangkan sikap inert dan tidak mudah untuk terprovokasi.

Terlihat kebiasaan untuk menghancurkan peninggalan sejarah dan peradaban sudah menjadi hobbi untuk kelompok tertentu. Hal ini sangat disayangkan. Untuk peninggalan di Lembah Bamian, dari dokumen sejarah China, disebutkan ada patung Buddha Bamian ketiga yang jauh lebih besar, kira-kira 300 meter. Patung Buddha itu ada pada posisi terlentang, dan saat ini diperkirakan terkubur di padang pasir di Bamian. Para arkeolog sedang mencoba untuk menemukan patung Bamian terbesar tersebut. Saya sendiri tidak begitu antusias, dan mengharap peninggalan sejarah itu jangan sampai ditemukan sampai abad mendatang. Biarlah peninggalan itu tertimbun di bawah tanah, sampai saat di masa mendatang waktu penduduk setempat mampu menghargai peninggalan sejarah kemanusiaan. Semoga para arkeolog itu tidak bekerja terlalu keras untuk mendapatkannya.

Sementara itu, tempat-tempat suci di Iraq dan daerah-daerah rawan di Timur Tengah seharusnya diamankan. Iraq adalah wilayah penting dalam sejarah peradaban manusia, adalah tempat cikal bakal lahirnya banyak peradaban di wilayah tersebut. Kota-kota urban pertama di wilayah tersebut terletak di Iraq kuno, yaitu Mesopotamia. Wilayah itu terlalu penting untuk dibiarkan hancur. Ada banyak lagi peninggalan tak ternilai di bawah bumi Iraq, yang lebih baik dibiarkan di bawah tanah tanpa terjamah, sampai suatu saat di masa depan manusia bisa membebaskan diri dari kepicikan pikiran.



Last Revised:Feb 24, 2006
Copyright © 2006 socineer.com
Lihat: Salin Ulang & Redistribusi