Pergulatan Antar Ide
www.socineer.com


Apa yang sering kali menyebabkan peperangan? Pada awalnya, manusia berperang satu sama lain untuk memperebutkan sesuatu, entah itu tanah atau makanan. Ada juga perang yang tidak masuk akal, misalnya perang memperebutkan seorang wanita, seperti yang terjadi pada Perang Troya melawan Yunani pada era yang silam. Perang memperebutkan sesuatu adalah perang yang masih bisa diperhitungkan dengan akal rasional, karena mereka yang terlibat banyak mendasarkan keputusannya pada perhitungan untung rugi.

Era Aksial

Namun, pada 2800 tahun yang silam, terjadi sesuatu yang luar biasa pada peradaban manusia. Pemikir muncul dimana-mana. Kejadian ini berlangsung selama 600 tahun. Di Yunani muncul pemikir-pemikir filsafat yang mempengaruhi dunia sampai ribuan tahun mendatang. Di Israel muncul pemikir-pemikir agama (seperti Elijah, Isaiah, Jeremiah) yang mulai menuliskan Bible yang juga pengaruhnya sampai ribuan tahun mendatang. Di China muncul Era Seratus Mazhab (Hundred Schools of Thought), dimana ajaran Tao, Confucius, Legalism, Mohism, Yin-Yang, Logika Bahasa, dsb. Di India muncul para pemikir Uspanishads, dan tidak ketinggalan, Buddha. Di Persia muncul Zarathustra. Karl Jaspers, seorang pemikir Jerman, menamakan kurun waktu ini sebagai Era Aksial (Axial Age), karena pemikir-pemikir yang lahir pada jaman itu membawa pemikirannya menjadi tonggak-tonggak pemikiran manusia sampai ribuan tahun mendatang, sampai hari ini.1

Perkembangan pada Era Aksial ini membawa fenomenon baru dalam sejarah pergulatan manusia, yaitu pergulatan antar Ide. Manusia berperang bukan hanya untuk memperebutkan sesuatu, tetapi demi Ide tertentu. Di China, negara Qin mulai program ekspansi untuk menyatukan seluruh China, didorong oleh pemikiran ideologis dari Legalism, yang melihat bahwa persatuan itu baik untuk kesejahteraan manusia. Ketika usaha penyatuan ini berhasil, penguasa Qin dengan cepat melakukan program perwujudan ide dasar dari Legalism, misalnya menyatukan tulisan (yang bertahan sampai saat ini), menyatukan standar satuan ukuran berbagai jenis. Standardisasi yang pada abad modern dilakukan dengan organisasi standar internasional, dijalankan lebih dari 2200 tahun yang lalu di China karena dorongan pemikiran ideologis.

Dimana-mana di seluruh dunia yang terkena pengaruh pemikiran Aksial, mulailah peperangan dilakukan atas nama pemikiran, ideologi, dan agama. Mula-mula peperangan kecil, dan dari abad ke abad, peperangan membesar, demi Ide yang dirumuskan dalam ideologi-ideologi dan agama-agama. Ada manusia yang mencoba menarik diri dan berpikir, kenapa manusia harus mengabdikan diri pada Ide? Apa yang menyebabkan Ide itu sedemikian kuat mempengaruhi manusia, sehingga bahkan manusia mau mati demi sebuah Ide?

Ide itu Hidup

Hal yang sering tidak disadari oleh banyak orang, bahwa Ide itu hidup. Dan seperti kehidupan lain, Ide itu saling bersaing dengan ide lain untuk bertahan hidup, termasuk mematikan ide lain. Dalam jaman terang genetik, kita mengenal genetik manusia sebagai informasi genetik yang hidup, dan terus menerus berusaha memperpanjang kehidupannya dengan melakukan reproduksi secara material. Kemajuan perkembangan otak manusia, membuat satuan informasi genetik itu menemukan tempat bernaung non-fisik, yaitu dalam rangkaian informasi yang tidak diturunkan secara fisik, tetapi didapat lewat penularan dan penalaran. Kita namakan hal itu genetik sosial, dan Ide adalah satu rangkaian sistematis genetik sosial yang membakukan pola pemikiran tertentu.

Ide merambat dan bersembunyi di rebung pikiran dan hati manusia yang berfungsi sebagai carrier (pembawa dan penyebar). Dan seperti makhluk hidup, Ide memerlukan sarana untuk reproduksi. Reproduksi inilah yang melahirkan tingkat semacam seleksi alamiah terhadap ide-ide yang ada. Manusia adalah pembawa dan pengeksekusi Ide.

Dalam melakukan propagasi, Ide menggunakan manusia sebagai carrier. Ide yang lebih kuat berhasil membuat propagasi dengan mempertahankan bentuk awalnya sedapat mungkin. Ide itu berusaha mempertahankan diri dari mutasi yang merugikan, persis seperti gen mempertahankan diri dari mutasi merugikan dengan seleksi negatif, dimana organisma dengan organ tubuh yang hasil mutasi umumnya terhambat untuk melakukan reproduksi.

Agama sebagai Ide

Diantara ide-ide yang paling kuat yang pernah dihasilkan oleh peradaban manusia adalah agama. Agama itu kuat karena telah mengalami proses seleksi alam yang hebat. Pada saat awal munculnya, tantangan pada suatu agama itu besar sekali. Dari banyak jenis pemikiran keagamaan yang muncul, hampir semuanya habis, hilang musnah hanya dalam era beberapa generasi manusia. Hanya sedikit agama yang bertahan, yang sekarang menjadi agama-agama majoritas yang dianut manusia.

Ide agama-agama itu bisa bertahan karena mengandung sifat-sifat tertentu, yang berbeda-beda dari agama ke agama lain. Tetapi ada beberapa aspek umum dari sifat-sifat ini yang ada pada semua agama. Pertama adalah, bahwa Ide agama itu membantu manusia untuk menghadapi problematik permasalahan manusia, sehingga manusia merasa lebih dikuatkan. Ini adalah aspek positif yang diberikan Ide agama pada manusia. Dan sebagai bayaran manusia kepada Ide agama, maka ada aspek kedua yaitu, Ide agama harus mampu mengeksploitasi manusia dan kemanusiaan untuk kelangsungan hidup Ide tersebut.

Kedua aspek tersebut adalah wajar untuk dalam proses pergulatan demi kelangsungan hidup. Untuk bisa menggunakan lebah demi membantu kelanggengan speciesnya, tanaman membuat madu. Lebah mendapatkan madu, dan sebagai bayarannya, lebah membantu proses reproduksi dari tanaman tersebut. Kenapa pohon pisang bisa bertahan hidup, dan banyak orang yang rela bersusah payah menanam pohon pisang? Karena pohon pisang menghasilkan buah yang mengeyangkan. Dari sudut pandang pohon pisang, manusia harus dipergunakan untuk membantu reproduksi pohon pisang dengan ganjaran buah yang enak.

Untuk itu, semua Ide agama mempunyai cara untuk membuat manusia pembawa Ide tersebut bersikap rendah hati (humble) di hadapan agama. Hanya manusia yang rendah hati terhadap agama bisa diandalkan untuk mempertahankan kelangsungan hidup Ide agama tersebut. Manusia yang rendah hati di hadapan Ide, tunduk pada Ide, dan dengan demikian bertahan untuk membuat mutasi (merubah) secara bebas terhadap Ide itu sendiri. Manusia dibuat mempertahankan Ide demi Ide. Ide agama melahirkan bermacam-macam istilah untuk setiap usaha mengancam dirinya. Manusia yang tidak percaya pada Ide disebut kafir. Manusia yang meninggalkan Ide disebut murtad. Manusia yang merubah Ide disebut sesat. Mutasi-mutasi terhadap ide dikategorikan sebagai kesesatan (heresy) dan harus cepat diisolasi dan dihancurkan, persis seperti dokter menghancurkan organ tubuh yang bermutasi dan mengakibatkan tumor.

Manusia yang Bebas

Ide yang kuat membutuhkan manusia yang lemah. Karena itu dalam sejarah manusia, ada pergumulan antara Ide dan Kemanusiaan. Kemanusiaan berusaha untuk menguasai Ide untuk berkembang, sedangkan Ide berusaha untuk melawan arus perkembangan manusia untuk kelangsungan hidup dirinya. Dalam sejarah, satu demi satu Ide rontok, tetapi beberapa Ide terkuat terus menerus menguasai manusia dan menjadikan manusia hambanya. Perang demi perang, pertikaian demi pertikaian, manusia terus menerus menderita diperalat oleh Ide-Ide yang saling bersaing.

Manusia yang bebas menggunakan dan menguasai Ide, bukan sebaliknya. Ide seharusnya digunakan untuk perkembangan manusia, bukan sebaliknya manusia untuk propagasi Ide. Manusia bebas berpikir kritis. Berpikir kritis adalah pisau analisis dan pertahanan terhadap menjalarnya Ide secara tak terkendali. Tidak ada Ide yang bisa dikecualikan dari bedah kritis manusia.

Ide seharusnya menjadi sarana kemanusiaan. Manusia sama sekali tidak berhutang budi pada Ide. Manusia menciptakan Ide untuk dipergunakan, bukan untuk menghambakan diri. Ide yang membebaskan, dengan demikian memberikan keuntungan pada manusia tanpa pamrih dan tanpa menuntut bayaran balik. Manusia bebas menyebarkan Ide yang membebaskan, bukan demi Ide itu sendiri, tetapi demi manusia. Manusia yang bebas mudah untuk mengubah Ide, jika dirasakan ada Ide lain lebih bagus, karena dia menguasai Ide dan bukan diperbudak Ide.

Sekali lagi, Ide untuk Manusia, bukan Manusia untuk Ide. Jika seseorang mau berkorban, berkorbanlah demi manusia lain dan kemanusiaan, bukan buat Ide.



  1. Karl Jaspers, The Origin and Goal of History, 1953.


Last Revised:Jan 18, 2006
Copyright © 2006 socineer.com
Lihat: Salin Ulang & Redistribusi