Kesenjangan Perilaku Itu Munafik
www.socineer.com


Waktu pertama kalinya Harry Potter dikirim ke sekolah Hogward, dia dipenuhi dengan kegundahan setelah mengetahui latar belakang orangtuanya yang terbunuh oleh Pangeran Kegelapan, Voldamort. Dalam kegundahan itu, dia menemukan sebuah cermin, Mirror of Erised, dimana dia bisa melihat dirinya bersama orangtuanya disana. Dia menatap cermin itu terus menerus, duduk berjam-jam disana, sampai akhirnya kepala sekolah Hogward, Dumbledore, memberi tahu arti bayangan dalam cermin tersebut. Cermin itu memberikan gambaran kerinduan paling dalam dalam jiwa seseorang. Seseorang yang tidak puas dengan dirinya atau kondisinya saat itu, akan melihat mimpinya disana. Seseorang yang berbahagia, akan melihat dirinya apa adanya, karena dia sudah berbahagia dengan dirinya sendiri. Kebahagiaan muncul dengan sendirinya ketika seseorang memiliki integritas diri, dan ada persesuaian antara impian dan kenyataan. Kita semua sedang berusaha menuju ke arah kondisi seperti itu.

Integritas pribadi adalah salah satu faktor yang membahagiakan seseorang. Integritas itu dicapai dengan mengurangi kesenjangan antara apa yang kita pikirkan dan kita impikan, dengan apa yang kita perbuat dan kita katakan. Seseorang tanpa integritas kita namakan munafik. Ada orang yang pada dasarnya memang munafik, tetapi umumnya, sikap munafik itu adalah sesuatu yang dipaksakan atas diri seseorang oleh lingkungan.

Mudah untuk mendeteksi seseorang yang pada dasarnya munafik. Ada kesenjangan besar antara yang dikatakan dengan yang dilakukan. Ada kesenjangan besar antara apa yang dia harapkan orang lain lakukan, dengan yang dia lakukan sendiri. Mereka itu cinta dengan kekuasaan, berusaha mencapai kursi lebih tinggi untuk bisa memaksakan orang lain berperilaku seperti yang dia inginkan. Dia menggunakan semua jenis peralatan yang bisa dicapainya. Jika dia menguasai militer, dia akan menggunakan militer sebagai alat. Jika dia menguasai institusi agama, dia tidak segan-segan untuk menggunakannya. Dalam perjalanannya menuju tangga kekuasaan, dia menyodok banyak sekali yang lain. Dia melakukan pembenaran apa saja yang dilakukannya, dan tidak segan-segan menggunakan alasan ideologis ataupun agama. Soeharto adalah contoh bagus dari kelompok ini, tanpa perlu penjelasan panjang. Dia dikenal sebagai The Smiling General, jendral yang murah senyum, tetapi orang tahu kalau dia mampu melakukan pembunuhan massal untuk mencapai apa yang dia inginkan. Untuk yang tidak punya kekuasaan seperti Soeharto yang bisa membunuh dengan senyum, maka pilihan lain yang populer adalah menjadi bunglon.

Bunglon munafik dalam dunia politik memang mudah ditemukan, terutama dalam masyarakat yang belum terbuka dan massa yang belum kritis seperti di Indonesia. Kita bisa menemukan seseorang yang dengan cepat selalu menempel ke pusat-pusat kekuasaan yang menguntungkan, dan meloncat lagi ke tempat lain. Seseorang bisa menjadi fungsionaris partai yang berkuasa, misalnya Golkar waktu Orde Baru, menempel lengket pada The Big Boss, dan ketika orde itu goyang dan runtuh, dengan cepat mencari lagi tempat bergantung yang menguntungkan. Pada waktu sebuah ormas berciri keagamaan memperlihatkan wajah yang semakin puritan, maka diapun bisa merubah warna suara sehingga bisa mencaplok kesempatan dalam ormas tersebut misalnya. Ada yang bilang dia opportunist tetapi sebenarnya dia bunglon politik yang tangguh. Siapakah dia, saya serahkan pada pembaca untuk menebak.

Sebagian terbesar manusia adalah manusia yang baik, tetapi dalam suatu sistem yang munafik, mereka terpaksa munafik untuk bisa bertahan hidup. Ada orang tidak suka korupsi, tetapi dalam sistem korup, dia harus ikut arus melakukan korupsi. Tidak semua orang bisa lahir sebagai pahlawan yang kuat yang mampu melawan arus. Mereka yang punya integritas diri yang kuat, dan terpaksa melakukan hal-hal yang dia anggap sebagai hal kotor, akan menderita secara batin. Banyak yang tersingkir atau menyingkirkan diri sebelum masuk lebih dalam ke dalam lumpur. Kita bisa angkat topi kepada mereka-mereka ini. Massa terbesar, menjadi massa munafik bukan karena mereka percaya hal itu, tetapi karena sistem dan indoktrinasi yang membuat mereka munafik.

Mereka yang punya integritas tinggi, akan sukar bertahan dalam sistem munafik. Mereka hanya punya dua pilihan, menyingkir dari sistem menjadi bagian dari kaum marginal, atau melawan sistem secara frontal. Pilihan lain seperti masuk dalam sistem untuk mengubah sistem dari dalam cuma bisa dilakukan secara permanen oleh mereka yang memang bisa mengakomodasi kemunafikan. Bagi mereka yang berintegritas, untuk melindungi kewarasan diri, mereka harus menyingkir atau melawan. Kalau tidak mereka akan menjadi gila, mengidap schizophrenia.

Masyarakat dalam negara maju punya kebebasan yang besar sehingga mereka tidak perlu menjadi massa munafik. Setiap orang boleh hidup menurut apa yang diyakini baik. Umumnya mereka akan menentang dengan keras ancaman-ancaman terhadap kebebasan yang mereka nikmati, karena itu adalah satu-satunya cara bagi warga untuk hidup lebih berbahagia. Tidak mengherankan, terjadi arus immigrasi besar kaum intelektual dari negara-negara represif ke negara-negara bebas. Manusia berupaya dan berjuang mencari kebebasan.

Pengalaman Marjane Satrapi

Marjene Satrapi

Marjane Satrapi, lahir tahun 1969 di Iran, dan mengikuti kuliah dalam fakultas seni rupa di Tehran tahun 90-an, memperlihatkan kesenjangan tingkah laku ini dengan baik dalam karyanya. Tentunya dia sudah pindah dari Iran, sekarang dia tinggal di Paris. Tanpa itu, dia sudah dipenjara dengan tuduhan penghujatan oleh para mullah disana. Dia menjadi kartunis yang tersohor ke seluruh dunia pada waktu dia ada di Eropa. Karyanya muncul di New York Times dan The New Yorker. Dia menulis cerita anak-anak, dan kemudian menulis buku memoir yang berjudul Persepolis, yang dibuat menjadi buku berseri.

Pengalamannya di Iran, memperlihatkan keganjilan tingkah laku gara-gara pemberlakuan aturan aneh-aneh soal perilaku publik. Mereka yang hidup dalam alam represi seperti itu mempunyai tingkah laku ganda. Gambar dari memoir Marjene ini memperlihatkan dua sisi wanita di Iran (dan juga di dunia Arab pada umumnya). Sisi publik dan privat mereka berlawanan secara dikotomis. Topeng yang dikenakan untuk publik adalah topeng wanita muslim dengan pakaian muslim yang menutup seluruh tubuh, sedangkan kepribadian asli muncul di pesta-pesta tertutup dengan pakaian yang lebih nyentrik daripada pakaian wanita Barat pada umumnya. Pasukan pengawal moral Islami dengan ini membutuhkan banyak personil karena harus mencari rumah-rumah mana saja yang mengadakan pesta secara terus menerus. Mereka melakukan patroli terus menerus untuk dalam upaya mencegah pelanggaran "moral", yaitu berpesta. Setiap kali menemukan adanya pesta, mereka menangkap setiap hadirin, dan didenda dalam jumlah besar (sejumlah gaji pekerja selama sebulan), atau dihukum cambuk.




Sewaktu kuliah di Tehran, Marjene sempat mengajukan protes pada saat indoktrinasi yang dilakukan oleh para mullah ini berlangsung. Hal ini membutuhkan keberanian tinggi, dan dia dikagumi oleh rekannya karena protes ini. Sang mullah pengindoktrinasi menghendaki semua wanita untuk menggunakan tutup kepala lebih panjang, tetapi celana jangan terlalu lebar, jangan memakai kosmetik, dan jangan pernah memperlihatkan rambut. Marjene melakukan hal yang tak terduga, yaitu mempertanyakan kebijakan tersebut. Dia mempertanyakan sebenarnya aturan itu ingin melindungi integritas tubuh atau hanya melarang wanita menggunakan pakaian fashion? Dia mempertanyakan para mahasiswa (pria) yang boleh berpakaian secara bebas, dan terkadang mereka berpakaian begitu ketat sehingga bentuk badan bisa terlihat. Kenapa hal itu diasumsikan tidak merangsang birahi wanita, sedangkan pria diasumsikan bisa terangsang oleh cara berpakaian wanita? Oleh kritikan ini, Marjene mendapat masalah dengan Komitte Islam yang bertugas menjaga “kesusilaan” mahasiswa.




Ketidakadilan yang dilihat oleh Marjene ini sangat jelas sehingga menjadi lucu. Dia belajar di fakultas seni rupa, sehingga mereka selalu membutuhkan model untuk dilukis. Tetapi seorang model wanita harus berpakaian menutupi dari kepala sampai ke kaki, persis seperti tenda yang dipergunakan untuk kamping. Lalu apa yang mau digambar dengan model seperti ini? Yang digambar yach, seonggok kain, itu saja. Kemudian mahasiswi disana mengusulkan supaya jangan dipakai model wanita, tapi menggunakan model pria (pria bebas berpakaian), sehingga masih bisa digambar bentuk tubuh model tersebut. Saran ini diterima, dan dengan demikian model yang digunakan selalu bergender pria. Ini bukannya tanpa masalah. Suatu waktu supervisor susila universitas melihat para mahasiswi melihat model pria waktu melukis, dia menyalahkan mereka, karena menurutnya tidak pantas wanita menatap pria. Waktu Marjene mempertanyakan soal itu, apakah dengan demikian mereka harus melukis model itu tanpa boleh melihat ke arah model tersebut. Supervisor tersebut mengiyakan, itulah cara yang islami kelihatannya. Hahaha, Okay boss, whatever you said!

Suatu hari Marjene meninggalkan universitas agak telat, dan dia ada janji dengan dokter gigi. Karena takut ketinggalan bus, dia berlari-lari sehingga bisa sampai ke halte bus lebih cepat. Waktu berlari, dia disumprit dan dikejar oleh pasukan pengawal moral revolusi, karena dia dianggap melakukan pelanggaran susila, walaupun sudah berpakaian seperti tenda hitam dari kepala ke kaki. Pasalnya, waktu dia berlari, pengawal tersebut merasa terangsang oleh gerak pantat Marjene yang sedang berlari, dan itu salah Marjene.

Kita boleh tertawa dengan kegilaan semacam ini, tetapi ketika seseorang ada dalam lingkungan itu bertahun-tahun, 24 jam sehari, tertawapun sudah menjadi kegetiran hidup. Warga disana dipaksa untuk menjadi munafik. Seseorang yang terlahir normal bisa berkembang menjadi pribadi-pribadi yang aneh dalam sistem seperti itu. Banyak yang sudah tidak mengenal kepribadiannya lagi, tetapi apa yang ada di kepalanya adalah hafalan dari hasil indoktrinasi upaya penindasan yang dinamakan “susila” oleh para ulama.

Masyarakat seperti itu menghancurkan integritas seseorang. Seseorang tidak lagi bisa menyuarakan apa yang sedang dipikirkan, mereka tidak lagi bisa mengekspresikan diri. Perilaku mereka berbeda pada domain publik dan domain privat. Dalam domain publik, yang muncul adalah perilaku yang sesuai dengan slogan-slogan yang para ulama fundamentalis. Ada kesenjangan besar antara apa yang diucapkan dan perilaku dalam domain publik dengan apa yang sebenarnya dipikirkan dan diinginkan. Tentunya ini yang dinamakan dengan kata munafik. Sikap waktu yang dipertontonkan untuk publik adalah terpaksa dan dengan ini tidak mencerminkan kepribadian sebenarnya, hanya sepuhan belaka. Kemunafikan dalam masyarakat seperti ini adalah kemunafikan yang dipaksakan. Seseorang tidak punya pilihan lain selain menjadi munafik. Menurut Marjene, kepribadian yang bipolar semacam itu lama-lama membuat seseorang menjadi penderita schizophrenia. Karena itu dia harus pergi dari Iran untuk mempertahankan kewarasannya.

Marjene juga memperhatikan, bahwa dalam masyarakat seperti itu, perilaku wanita tidak lagi begitu normal. Teman-teman wanitanya dengan bersembunyi-sembunyi jestru berpakaian yang lebih “wah” daripada wanita-wanita Barat pada umumnya. Tetapi dia mengerti bahwa itu adalah salah satu bentuk resistansi emosional terhadap kegilaan masyarakat munafik seperti itu. Menggunakan kosmetik yang di negara lain adalah hal enteng sehari-hari, disana menjadi lambang pemberontakan wanita Iran terhadap sistem munafik tanpa mereka sadari.

Kerancuan Persepsi Ulama Munafik

Ketika kaum munafik di negara-negara represif membandingkan betapa rendahnya tingkat kesusilaan negara-negara bebas dan betapa bermoralnya mereka, massa mengangguk-angguk terindoktrinasi. Ketika mereka menjadi turis dan berjalan-jalan di kota-kota besar di Amerika, mata mereka jelalatan melihat kaum wanita yang memakai celana pendek dan t-shirt waktu musim panas. Sebenarnya yang tidak bermoral yang mana, mata mereka yang merasa jijik tapi menatap terus, atau betis para wanita itu? Pikiran kotor mereka malah mengkriminalisasi pihak lain.

Apakah dengan kebebasan di negara maju membuat masyarakat menjadi asusila? Sama sekali terbalik. Kebebasan membuat kita bertanya pada diri sendiri, who am I. Kita hidup menurut prinsip yang kita anut, bukan menurut aturan semata, atau mode semata. Setiap orang bebas untuk memelihara integritas diri mereka.

Di kota kediaman saya ada pantai nudis, yaitu pantai dimana wanita dan pria boleh berkeliaran tanpa satu helai benangpun. Apakah penduduk disini lantas ngantri untuk ke pantai tersebut untuk mengintip wanita atau pria telanjang? For your information, pantai itu sepi, dan umumnya hanya didatangi oleh yang memang mau telanjang. Ketika sesuatu dibebaskan, maka setiap orang juga bebas memilih, dan ternyata orang tidak serta merta suka mengintip orang lain yang telanjang. Jika Anda keberatan untuk melepas baju, ya jangan pergi ke tempat komunitas nudis. Yang pria tanpa pakaian berjalan santai di antara wanita telanjang tanpa mengakibatkan penisnya tegang. Banyak pengunjung yang kesana adalah wanita dan pria yang sudah berumur, yang memang sudah dewasa dan tidak lagi melihat seks sebagai faktor kebutuhan utama. Mereka ingin melepaskan diri dari ketergantungan dari anggapan orang dan merasa okay dengan tubuh sendiri. Jika di masyarakat wanita berusaha membuat dirinya langsing dan malu dengan perut gendut, maka mereka di pantai itu jestru ingin bisa berperut-gendut-ria tanpa merasa rendah diri. Semua ini saya rasa tidak bisa dimengerti oleh para ulama munafik. Kalau mereka yang katanya bersusila itu dilepas di pantai nudis, kemungkinan penis mereka akan tegang terus menerus sampai perlu diungsikan ke bagian gawat darurat di rumah sakit.

Ada turis pria asal Indonesia yang kecewa ketika sampai ke Amerika Utara, dia mempertanyakan kenapa para wanita di Amerika ternyata kurang mengikuti mode dibanding dengan wanita di Indonesia? Ketika para wanita Amerika melihat gaya para wanita Indonesia berpakaian di mall-mall, mereka tercengang, wooww.. modis sekali. Mungkin jawabannya sama seperti hasil observasi Marjene pada kasus Iran di atas, ketika wanita ditekan, maka ada aksi resistansi emosional sehingga mencoba untuk mengikuti “mode” yang diasumsikan berasal dari Amerika, padahal sebenarnya umumnya itu ciptaan benak orang Asia sendiri. Ketika wanita Asia merasa harus mengikuti pola wanita Barat, sebenarnya umumnya yang diikuti adalah persepsi dan imaginasi mereka sendiri. Itu disebabkan karena karakteristik yang sebenarnya tidak diperbolehkan dan dianggap tabu bagi wanita Timur. Karakteristik itu adalah: sikap independen dan ber-emansipasi. Jestru karena wanita modern merasa independen dan tidak menggantungkan diri pada penilaian para pria, mereka memilih pakaian yang seadanya. Kualitas seorang wanita, seperti juga pria, adalah pada kepribadian, otak, dan karyanya, bukan pada penilaian terhadap bentuk luarnya. Tetapi mereka juga bebas untuk menghias diri kalau mau, itu dilakukan atas pilihan bebas. Mereka bebas untuk berpakaian sederhana seperti celana pendek dan kaos, atau berpakaian ala haute-couture sewaktu-waktu. Dan apapun yang dikenakan, itu adalah urusan mereka. Wanita bukan objek seks pria. Ini juga tidak pernah bisa dimengerti kaum ulama munafik yang selalu menganggap wanita itu objek seks, bahkan rambut kepalapun dianggap sebagai bagian aurat yang harus disembunyikan.

Soal masalah kesusilaan, yang difokuskan oleh masyarakat bebas adalah, bukan apa yang tidak boleh dilakukan oleh seseorang dewasa. Soal perilaku itu sudah urusan masing-masing. Yang difokuskan adalah, bagaimana cara melindungi individu, baik pria maupun wanita, terutama anak-anak terhadap tindak pelecehan seksual. Seseorang bisa mendapat tuntutan melakukan pelecehan seksual hanya karena mencolek pantat seorang wanita misalnya. Jika seseorang melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak, hancurlah karirnya untuk selanjutnya. Hukum memfokuskan untuk melindungi masyarakat dari para peleceh dan pemerkosa, bukan untuk mengatur bagaimana orang berperilaku sampai ke detail urusan pribadi mereka. Dan karena wanita dan anak-anak sering menjadi korban, maka hukum terutama galak sekali melindungi mereka.

Ini sangat berbeda dengan masyarakat yang melindungi peleceh seksual dan menghukum korban. Jika misalnya ada ulama yang mudah sekali terangsang ketika melihat betis wanita dan terdorong untuk memperkosa wanita yang memperlihatkan betis. Bagaimana pemecahannya? Ada dua kemungkinan pemecahan. Pertama, ulama tersebut bisa dihukum jika terbukti melakukan tindakan pelecehan seksual; atau Kedua, semua wanita harus menutup betis sehingga ulama yang bersangkutan tidak terangsang. Hanya orang yang pikirannya sudah keruh dan agak miring yang memilih pilihan kedua. Masyarakat waras akan menghukum pelaku pelecehan, dan melindungi korban, bukan sebaliknya.

Jika korban yang harus dihukum, maka sekalian saja menyuruh semua orang memakai helm setiap saat hanya karena ada beberapa orang aneh yang suka menjitak kepala orang. Bukankah seharusnya yang punya kelainan suka menjitak orang lain itu yang harus diamankan, bukan orang-orang satu negara yang harus memakai helm setiap saat?

Kita mendapatkan suatu paradoks. Masyarakat yang menerapkan hukum represif dengan alasan untuk menegakkan kesusilaan dan melindungi wanita, jestru wanita menjadi korban utama. Sedangkan masyarakat yang terbuka melahirkan wanita-wanita independen dan tangguh. Sistem represif melahirkan kemunafikan. Agama seharusnya membebaskan manusia, bukan malah mengikat dan menjadi beban kemanusiaan.



Last Revised:Mar 11, 2006
Copyright © 2006 socineer.com
Lihat: Salin Ulang & Redistribusi