Si Bull
Oleh Bintoro Gunadi
www.socineer.com


Tidak semua anjing jenis-jenis galak jahat suka menggigit. Kalau sekelompok rambut di daerah pipi belakang sudah tersentuh, jangan ragu-ragu, langsung "ok lihat ya gigimu", luluh juga instinct buasnya. Memang perlu waktu pendekatannya.

Saya pernah coba beberapa kali. Rekord nya dengan Bull Terrier punya American. Sangar tampangnya dan penuh curiga awalnya. Pendekatan lewat makanan atau minum air tidak mempan untuk anjing bule, apalagi sekaliber dia.

Saya tanya teman tersebut dia hobinya apa? Ya bermain sama tuannya dengan bola khusus tebal berat mirip bola base ball, lebih besar sedikit.

Kebetulan waktu itu sudah agak lama tidak bermain dengan tuannya yang pas sibuk. Ok bolehkah saya bermain dengannya? Nyengir teman tersebut If you waaanntt...:-0

Dipanggillah si Bull sangar. Ambil bola lempar kesana bawa kemari, mendekam, bola tersebut lalu diletakkan pelan seolah eman di tangan tuannya. Beberapa kali lalu saya disuruh mencoba bermain. Rantai khusus panjang tetap tergantung dilehernya.

Waktu saya lempar bola pertama kali, nggak mau tuh si Bull ambil bola tersebut. Dibentak!! tuannya baru mau ngloyor sungkan terpaksa diambil. Eee... masih dibau dulu bola tersebut sebelum malas digigit..., memangnya tangan saya kotor, bau. Mungkin itu bentuk perkenalannya ke saya.

Saya lempar lagi bolanya. Eee... si Bull nglirik dulu segala ke tuannya sebelum dengan masih sungkan ngloyor ambil bola tersebut. Saya coba minta bola tersebut, melirik saja tidak ke saya. Dibentak!! lagi oleh tuannya: "come on". Saya tunggu, bola tersebut diletakkan dengan agak malas ke tangan tuannya, seolah protes kok bukan elu Boss yang melempar...

Setelah beberapa kali main bola berantai: Saya lempar bola, si Bull ambil, lalu dikasikan si Boss, si Boss nyengir bola dikasikan saya lempar dst dst. Mulai bersemangatlah si Bull bermain dengan saya.

Si Boss merasa ok: "excuse me, I have something to do inside". Lha kok bermain berduaan dengan si Bull...;) Terlanjur sudah bersemangat tidak tega juga kalau ngeper ngacir.

Si Bull tetap curiga dan curang masak bola setelah saya lempar lalu diambilnya tidak diberikan ke saya. Bersimpuh semeteran di depan saya, tapi bola tetap digigit erat. Tangan saya sodorkan, cuma dilirik keren. Lapor ke si Boss sungkan juga, walaupun dia sering melongok dari jendela. Bull gimana sampeyan sebenarnya masih mau bermain bola denganku tidak?

Si Boss berteriak dari dalam rumah: Hooi... just take the ball from his mouth!! It will be ok, I give you my words 100% warranty. Eee... si Boss tahu problem saya dalam menerima operan bola, tapi cuma bermain kata2. Saya sadar komandonya sangat rumit dari dalam rumah menyuruh si Bull jangan bermain curang, jangan menyerang saya, dan menaruh bola di tangan saya.

Dari tampang dan gayanya bermain, saya duga si Bull makin ngebet bermain. Saya juga jadi penasaran. Sambil bersimpuh saya ulurkan tangan di depan mulutnya untuk menerima bola, juga seperti si Boss yang mengambil bola dari mulutnya.

Bola tetap digigit kencang2, sambil kadang menggeram, giginya memang kuat. Tangan saya di bawah mulutnya berlepotan ludah yang menetes dari sela2 giginya yang tidak beraturan.

Harder!! Harder!! take the ball from his mouth. He is excited, it will be ok. Dengan enaknya si Boss berteriak dari dalam. Yang ini tidak saya ikuti harder gila, keder juga kalau si Bull melepaskan bola tapi gantian menggigit tangan saya. Buat apa berebut bola dengan si Bull yang terkenal bandel.

Ada akal. Gantian saya yang ngloyor seolah-olah mau pergi. Benar juga si Bull melepas bola dan ditaruh di rumput. Okelah kita bermain lagi. Saya ambil bola, lempar, si Bull lari kencang mengambilnya. Diulang beberapa kali ke empat penjuru.

Yang perlu waktu yaitu sewaktu berbagi bola. Si Bull mendekam dengan bola di mulut semeteran di depan saya, saling berpandangan, saya terpaksa maju untuk mencoba mengambil bolanya, dia jual mahal tidak kasih itu bola, seolah mau saya tinggal pergi, bola dilepas, saya ambil lempar dst dst.

Saat mendekam berdua kadang saya sentuh rambut pipi belakangnya dengan dua tangan dan saya goyang agak keras. Good pig... eh... dog. Si Bull tetap acuh saja, dia hanya excited dengan bolanya, padahal yang melempar saya.

Pipa perdamaian/perkawanan tersulut. Rantai boleh dilepas kata teman saya kemudian supaya lemparan bola saya lebih jauh dan si Bull semakin excited.

Gantian saya coba curang seolah bola dilempar jauh, si Bull kecele berkali-kali, tapi tidak pernah marah. Jadi sungkan dan kuatir juga kalau sampai menyinggung sifat aslinya penyerang handal.

Saya capek, si Bull seperti mesin diesel semakin panas semakin lincah saja. Ok stop, saya pelan pergi, pandangan si Bull mengikuti, entah mengapa tidak saya layani. Justru saya melirik si Boss di dalam rumah, minta bantuan kalau perlu... Masak berhenti bermain bola takut diserang...

Sampai permainan berakhir yang saya tidak berhasil ialah menerima operan bola langsung dari mulutnya ke tangan saya. Si Boss dapat, saya tidak.

Entah kapan dapat bermain dengan si Bull lagi disana. Saya terima berita terakhir si Bull kena tumor ganas di salah satu testis nya yang pernah dikastrasi. Vonis dokter ditunggu mati atau disuntik mati... Score terakhir jadi tidak penting.



Last Revised:Jan 29, 2006
Copyright © 2006 socineer.com
Lihat: Salin Ulang & Redistribusi